Udo Indra
Posts
Bila mereka muncul di dinding, biarlah mereka melata.. asal jangan melet-melet nista…
ini adalah sebuah percobaan
yakinlah. ini hanya sebuah percobaan
berhasil atau tidaknya
tidak tergantung pada saya, anda, kita, atau kami
lupakan saja tujuan, nikmati perjalanan
lihat! Ada pelangi di ujung sana!
Ahoy, Shelter 1, lama sudah kita tak bertemu. Masih kuingat meja itu, dan tumpukan surat penuh gurat canda. Masih seperti itu. Pintu tempat aku melangkah masuk dengan penuh suka cita, juga tempat aku pergi keluar dengan sepulas warna sendu. Kini agak berdebu. Kucari kehadiranmu. Tiada. Secarik kertas kuning mengabarkan: kau sedang pergi sebentar. Lalu kuambil buku tamu, menuliskan sebuah pesan untukmu di situ.. **** Hei, si cantik penjaga Shelter 1, apa kabarmu? Sehat selalu kuharap. Aku masih dalam beberapa ‘kemasihan’ yang sama. Masih suka muncul di buku orang, tapi belum juga tampil dengan buku sendiri. Masih menunggu pinangan Penguin atau O’Henry, agar aku bisa berlagak menolak sambil merona tersapu-sapu. Ah, terbayang kau datang mengingatkan: “Ndra, kata yang benar itu ‘tersipu-sipu’” lalu aku menjawab: “Ya, itu benar. Tapi aku lebih suka ‘tersapu-sapu’” Dan kau pun tersenyum, berusaha tampak sabar, meski dalam hati ingin meninjuku sampai terkapar. Dan aku akan tersenyum lebar, melihatmu berusaha menahan sabar. Kau tampak lebih cantik saat seperti itu. **** Selain itu, ada juga beberapa ‘ketidakmasihan’. Aku sudah tidak lagi menjadi buruh. Sekarang sedang menjalani kehidupan baru, sebagai pemilik warung kopi. Tidak lagi menutup diri, mulai rajin memenuhi undangan kesana-kemari. Aku tetap tidak suka, tapi kulakoni juga. Serta beberapa hal ‘gak penting’ lainnya. **** Ummh.. Ya, itu saja dulu. Sekalian mencoba apakah akun _posting by email_ di Tumblr-ku masih berfungsi atau tidak. Kecup hangat dariku, semoga bisa menjagamu dari masuk angie dan malaria. *** Selalu, Kangmas Gejrot-Lan-Gasrak-Gusruk-Teu-Paruguh-mu.
I connected Tumblr to my http://flavors.me page - http://flavors.me/udo_indra
Pagi hari adalah kala Lily. Kala aku gelisah ingin mendengar suaramu. Bertambah resah, kerna tahu: ada yang mendengarnya lebih dulu. Kala aku merindu rinai tawamu. Meski harus berbagi: dengan dia yang memilikinya sebelum aku… Pagi hari, adalah kala Lily. Terajut sebagai buket dalam genggaman pengantin. Pipi bersepuh rona merah dadu. Kala cinta membuat aliran darah membeku. Suaraku terpagut di balik pintu. Kau bertanya: “Mengapa begitu kaku?”… Adalah kasih, adalah kau, menyepuh katakata berselimut haru. Teramat ingin merengkuhmu.. Di pagi hari, kala sekuntum Lily bersemi di hati, sebelum yang lain sempat melihat senyum terindah melekat di bibirmu. Kala itu, kupinta hanya untukku.
**PROLOG** Pada awalnya adalah keberanian, lalu sejalin tegursapa. Kejujuran jadi pembuka halaman. saat segenap rasa bergelora. Cukupkah kukatakan bahwa aku cinta? Kali ini aku ingin mengukuh derap waktu dalam nada. Beranjak ke halaman awal, melihat sekuntum bakung berwarna biru tumbuh merona. Kurengkuh, tanpa merusak adanya. Kupinta selaksa, tanpa mengusik singgasana. Kukecup, dan aku pun terbawa… ** SAMPURASUN ** Biru, warnamu. Pantulan warna langit. Keluasan, kebebasan, tudung semesta kecilku.. Biru, auramu. Biaskan rona lautan. Keterhanyutan, tenggelamkan imaji fana, gelora debur menuju pantai.. Biru, biar laju musim berganti; kutetapkan diri, dengan kau sebagai prasasti.
‘warning: puisi ini kekiri-kirian…’
*
Bu Satpam bilang: semua akan
Cenderung belok ke kanan;
Tapi aku terbawa belok ke kiri
Dan tanpa dinyana, tanpa rencana
Aku dipertemukan dengan
La Amore di Concilia.
*
Bu Batik bilang: semua batik
Selalu menawan di sisi kanan;
Tapi kulihat sakunya ada di kiri
Dalam repetisi nan menawan..
Bu Batik tersenyum, manis sekali
Meski tetap tak semanis
La Amore di Concilia.
*
Jangan coba cari di Googie translate
Atau kamus daring lainnya;
Jangan pula melihat hanya dari kanan
Kerna kau takkan menemukan
Arti sesungguhnya dari
La Amore di Concilia! :)
.
Ayahku adalah tonggak, pula mercusuar.
Tak goyah diterjang ombak,
begitu pandu dan kekar.
Beliau keras, teramat keras
namun semata kerna dia teramat sayang.
.
Ibundaku adalah seorang penempa daya
dalam segara ketulusannya.
Saat kukatakan hendak jadi gelandangan:
Dia titipkan setampuk doa dan dukungan.
Tiada cita yang tak mulia baginya
Tiada mimpi yang tak layak.
Beliau adalah Dewi Athena dari Yunani,
pula Baginda Ratu dari Spartan!
.
Mereka selalu hadir,
pada tiap salam: kiri dan kanan.
.
untuk: Maria Papadaki
.
.
Aku tak bisa memelukmu, meski tubuh ini t’rus bergetar
dalam damba;
Aku tak bisa mengecupmu, meski bibir ini t’lah terbakar
penuh pinta.
.
Seperti peziarah dari nisan terlunta,
Seperti tukang kebun dari tanah tak bernama.
.
Maria, Maria..
Mengapa kau menerimaku, namun
menutup pintu senantiasa?
Pada awalnya adalah hidung
Tersumbat dan tak mancung;
Kepala yang bergoyang-goyang,
Tangan gemetaran, gemeretuk menahan
Asa untuk menolak pingsan..
Kemudian,
Seorang teman menawarkan
Cairan bening dalam botol kaca
Dengan semerbak aroma eukalipta.
Kuguyurkan cairan itu ke sekujur tubuh
Merasuk dalam urat, balung, darah..
Kuraup aromanya lewat hidung dukana
Menjelma jadi udara berbalur smaradhana
Terkanyut diri ini, terbawa
Ke dalam alun kidung indraprasta..
Melayang..
Lalu mendarat dengan mulusnya
Di atas dataran sebuah pengakuan:
bahwa mulai hari itu
diri ini telah menjadi:
Pecandu minyak angin tjap Kapak!
“Esei singkat ini saya siapkan sebagai bahan pustaka dan kerangka saat menggubah sebuah puisi yang saya beri judul: Untuk Sebuah Nama”
PREMIS: Setiap orang punya hak pribadi yang akan dia jaga untuk mempertahankan ke-pribadian-nya. Setidaknya sebagai cadangan terakhir untuk mempertahankan identitas diri. Identitas, sesuatu yang seringkali bisa diwakilkan oleh sebaris Nama.
AKSIOM: Anda bisa saja memilih untuk tidak menghargai hak pribadi seseorang; Dengan imbalan: anda tidak hanya kehilangan pribadi tersebut sebagai seorang kawan, tapi juga sekaligus menghilangkan penghormatan dia terhadap pribadi anda.
WACANA:
Aku seringkali menghadapi situasi di mana perbedaan menghiasi derap langkah, meski pemahaman sudah kubentangkan ke semua arah: Aku dan Nenek tetap akan punya penilaian yang berbeda mengenai senja yang sama-sama kami nikmati pada saat dan posisi yang serupa. Tapi obrolan akrab di antara kami toh tidak terusik dengan adanya perbedaan minor semacam itu.
Atau seperti anak kecil yang sering melakukan hal yang berlawanan dari yang diminta, dengan sengaja. Saat aku suruh duduk, dia malah berdiri. Meski bocah itu tak merasa perlu untuk berdiri, dia tetap melakukannya, hanya karena aku menyuruhnya untuk duduk. Dasar anak-anak. Tetap saja: Aku sayang kalian. Semoga kalian tahu itu hai, anak-anak.
Dari perbedaan pendirian semacam dua peristiwa di atas, aku mempelajari hakikat nama-nama. Mengenali sebuah tempat dalam ruang kepala, seperti sebuah wilayah, di mana ada papan penunjuk arah atau tapal batas yang berisi nama dari wilayah tersebut. Pada wilayah pribadi, ada nama yang terukir dengan begitu indahnya. Kenali nama itu, dan rayakan dalam pesta anggur Dyonisian.
Dan dari sebait nama itu, aku memulai untuk mengenal. Seperti Adam, saat memberi nama pada semua hal yang dilihatnya pada kali pertama.
(Setelah terkagum dengan dialog baku di film Teguh Karya. Terinspirasi.)
***
Kami menutup sore itu dengan meninggalkan sedotan di gelas kosong. Dua gelas sari arbai, dari satu jam yang lalu. Menyenangkan. Untuk seorang lelaki, yang senang menyentuh, dan seorang wanita, yang terbiasa disentuh, kami melewatkan waktu nyaris tanpa bersentuhan. Hanya bertukar kata, canda, serta berbagai jenis tawa. Luar biasa, dalam arti sesungguhnya: di luar dari kebiasaan.
“Sekali tempo, mampirlah ke tempat abang…”
“Iya, pasti… jika ada waktu pasti kusempatkan,” satu lengkung simetris tertata di wajahnya. Indah sekali.
“Kamu masih ingat jalan ke tempatku apa?”
“Masakan lupa? Beberapa tahun aku mengular di sana?” Lengkung itu lagi. Kali ini lebih lebar tapi.
Sore yang teduh. Tatapan mataku mengantar kepergiannya. Seorang wanita. Dimakan sepi, membakar waktu dengan begitu banyak… ah, tak baik membicarakan dirinya seperti itu. Dia adalah seorang teman. Pernah begitu dekat. Waktu itu dan kini, kulihat dia melenggang pergi dengan langkah yang tertata.
Perlahan aku mengucap: selamat jalan.
======================
Sumber Gambar: Koleksi pribadi.. berani sumpah deh..
‘Kepanjangan Nafas’
istilah ini pertama kali Udo baca dalam sebuah buku kumpulan surat-menyurat H.B. Jassin (alm.). Waktu itu dia menggunakan istilah ini untuk mengomentari puisi seorang penyair muda yang sedang belajar lebih dalam tentang puisi.
Sebuah larik dikatakan ‘kepanjangan nafas’ ketika:
- dia menjadi terlalu panjang dan cenderung berubah menjadi prosa atau cerita mini. Misalnya: “Aku ingin dia memapahku dan menjaga serta membangunkanku dari tidur panjang ini…”
- Ketika bangunan kata atau penempatan kata pada lariknya tidak seimbang atau searah dengan larik-larik pendampingnya. Contoh:
“Batu itu bergeluntur
Di langit petir menegur
Aku ingin dia memapahku dan menjaga serta membangunkanku.. bla-bla..”
Lihat, sementara 2 larik awal sudah terbentuk rapi dan saling padu membentuk suasana: bencana alam. Larik ke-3 malah bercerita ngelantur ke arah lain.. tambah lagi jumlah kata yang tidak berimbang dengan teman2nya.. Seperti anak kecil yang datang ke tempat bermain, tapi menolak untuk bermain bersama teman-teman yang ada di sana.
Tarik nafas yuk, lalu hembuskan dengan penuh kasih sayang..
Sekarang Udo akan coba menunjukkan contoh perubahan dari puisi yang kepanjangan nafas di atas, menjadi sebuah puisi yang nafasnya lebih mengalur..
Setelah Udo pangkas bagian yang tidak penting serta mengganti arah dari tiap larik agar bisa menuju pada satu kepaduan, maka jadilah puisi berikut ini sebagai sebuah revisi..
“…
Saat di langit petir menegur
Saat kepala batu ini tersungkur
Aku kembali mengenangnya:
Bagian terindah dari nostalgia.
Aku ingin dia hadir
memapahku, menjaga
serta membangunkanku
dari tidur panjang ini
…”
Perhatikan bagaimana kalimat yang tadinya berada pada 1 larik bisa kita gubah menjadi sebuah kwatrin (sajak 4 larik). Sebagai latihan, cobalah untuk membuat variasi dari puisi di atas menjadi rangkaian kuplet (sajak 2 larik).
Perhatikan juga nuansa puitis yang terbangun saat kalimat panjang dipatah-patahkan dalam rangkaian larik (ingatlah bahwa muasal puisi adalah pantun dan pepatah).
Demikian kiranya…
Sore tadi ada penjual penganan lewat di depan rumah. Seorang ibu paruh baya, dengan tahi lalat di pipi kanannya. Dia membawa sebuah nampan berisi kue-kue dagangan.
“Dodol kacaang..! Dodol Kacaaaang..! Bararade yeuhh..?!” Begitu dia berseru sambil berkeliling.
Aku tertarik untuk membeli. Kupanggil dia. Dengan ramah dan cekatan dia menaruh nampan dan membuka tudung penutupnya. “Masih anget kang.. sok atuhh..”
Enak juga tampaknya, jika sore ini duduk-duduk di depan teras sambil mengganyam dodol kacang ditemani segelas kopi tanpa ampas. Kubeli dodolnya dua lanjar. Tiga ribu perak. Si ibu tersenyum senang. Dia memandangiku dengan raut muka sumringah, “Tumben kang, beli dodol… biasanya bikin puisi?”
“Iya, ini lagi nyoba posting pake Tumblr…” Jawabku cuek.
Lalu dia permisi, hendak meneruskan berkeliling perumahan. Sekilas kuperhatikan punggungnya. Begitu perkasa. Orang-orang bilang dia sudah dua kali menikah. Suami pertama dan ke-dua sama-sama pecundangnya. Setelah cerai untuk yang ke-dua kali, dia memutuskan untuk hidup mandiri. Tak mau mengandalkan siapa pun untuk mengasapi dapurnya. Bila nanti dia jatuh cinta lagi, semoga dengan seseorang yang rajin menulis, membaca, dan mengisi sumur sambil bernyanyi. Tanpa sadar aku berdoa untuknya. Amieenn.
Dari kejauhan, kudengar suaranya yang lantang berkumandang.
“Dodol kacaaang, dodol kacaang.. bararaaaaddeeeeeee….!”
