tamam ayatullah malaka
marilah membaca dulu sebelum bicara.
Atau dengarkan saja
saya berkata barang semenit
Posts
Kalo saja kau bongkar perasaan,
akan terpampang kejujuran cintaku melekat di situ.
Nyatanya tidak. Kau biarkan aku berteman keraguan. Sesungguh-sungguhnya, aku menunggu.
Namun, seakan kamu tidak tahu. Atau, pura-pura tidak tahu?
Lalu, kenapa kau menghilang begitu saja dari realitas nisbi ini?
Apa kau tak mengamati konsentrasiku, saat-saat kau mendatangiku? Aku sangat khusuk pada tiap-tiap kedatanganmu. Terkadang, bayang-bayang kedatanganmu masih membenam di benak kala kau tak datang-datang sekali lagi. Dan nyatanya untuk kesekian kali, kau tak pernah datang lagi. Setidaknya, sekali lagi.
Ah, kadang seakan mendengar suaramu memanggil namaku, kemudian aku keluar menemuimu. Ah, semua itu membuatku galau. Galau. Dan, GALAU. Bah, kenapa pula kau, tak paham-paham akan wanita?
Kenapa lelaki pandainya Cuma bicara? Dan, mereka selalu terpaku pada jaminan bahasa ungkapan? Bukan rasa khusuk dari dalam? Pada mata, sikap, dan suara? Semuanya itu merupakan jawaban. Jawaban paling sempurna. Sempurna. Aku tak mungkin blak-blakan mengeluarkan bahasa vulgar. Kata-kata. Sungguh, batin itulah semua, keseluruhan jawaban tersimpan. Ditemukan.
Huh, kau memang pandai bicara. Bersilat lidah. Lihat mataku, caraku, menatapmu, menghadapimu, mereaksimu. Apa cinta sekedar penampakan lahir? Bukan sekaligus, batiniah? Hingga jawaban lahirku yang tertutup tak kau cerna? Namun jawaban lubuk terdalam ini justru terarabaikan?
Bah, kau memang tidak becus mencintaiku. Sekali lagi, kubilang; tidak becus. Nih, kutulis lebih tebal lagi, sangat tidak becus! Apa perlu aku berteriak keras-keras, hingga kau mengerti isi hati? Mengapa aku yang harus jadi maskulin? Dan mengapa sefeminim itu? Mestinya kau, yang jujur padaku. Dan bilang kata-kata ini,”aku mencintaimu!”
Sungguh, kapan kau akan mengatakan itu?[] 2005
yang tak pernah terulang
nostalgia selalu terulang
serupa gemuruh tentang kabar tak terbagi.
Hingga pagi tak terjenguk?
Duduk nongkrong di emperan rumah tetangga. Secangkir kopi panas, dan ditemani sekupul asap rokok yang membubung; tepat sejauh mata memandang terpusat ke belahan timur. Ufuk merah saga menyemburat.
Di sela-selanya, sinar keperakan matahari membias. Begitu terang. Sesekali, burung-burung melayang terbang dengan enaknya, seakan alam raya cuma miliknya semata bertengger.
Agak menurun ke bawah sedikit, tangkai-tangkai pepohonan melambai sumringah. Begitu manis. Turunkan mata lagi, tepat di hamparan tanah. Rerumputan bergoyang lambat, embun di kepingnya mengerling. Begitu cemerlang.
Sejauh mata memandang, pejamkan perlahan sebentar. Dan bukalah.Tidak perlu jauh-jauh menatap. Lebih dekat di sekitarmu, dalam dirimu; di relung batinmu, tentang pikiran-pikiran itu...,
Ada apakah di situ?
Pagi. Ya, pagi. Pagi tentu lebih semarak dari hari-hari biasa kala kegelapan memalamkan perasaan. Tentu, pagi merekatkan keceriaannya yang ”berasa”. Tak seperti kala tercenung di malam-malammu, yang melekatkan kegelapan pada pikiran.
Juga, melabuhkan raut tentang tidak semaraknya perasaan. Terkadang ketenggelaman yang menggertak; bukan hanya oleh gelapnya hati. Juga, disebabkan cuaca suasana kadang ikut menenggelamkan situasi?
Oleh karenanya, ikutlah denganku subuh ini. Kuajak kau bertemu pagi. Pagi? Ya, pagi. Pagi. Sebab, kehidupan selalu menghadiahkan pagi, setelah malam-malam yang menggelapkan kegelapannya.
Nah, bisakah kau terbangun sekarang?
Pagi hampir membuka mata. Menunggu keceriaan terbaikmu. Bangunlah. Tentu, setelah itu semarak senyummu melebihi pagi Ya. Melebihi pagi. Pagi? Ya. Pagi.
[apa kau sudah terbangun sekarang?]
Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,
teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja
Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini,
tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet
jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea.
Kita diwadjibkan oentoek dalam waktoe jang mereka tentoekan,
menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang.
Mereka telah minta
supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaja kita semoea datang kepada mereka itoe
dengan membawa bendera poetih tanda menjerah kepada mereka.
Saoedara-saoedara,
didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe,
kita sekalian telah menundjukkan bahwa
ra’jat Indonesia di Soerabaja;
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan,
pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera,
pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli &
seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini, di dalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing, dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng-kampoeng,
telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol,
telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana
Hanja karena taktik jang litjik daripada mereka itoe, saoedara-saoedara
Dengan mendatangkan presiden & pemimpin-pemimpin lainnja ke Soerabaja ini, maka kita toendoek oentoek menghentikan pertempoeran. Tetapi pada masa itoe mereka telah memperkoeat diri, dan setelah koeat sekarang inilah keadaannja.
Saoedara-saoedara, kita semuanja,
kita bangsa Indonesia jang ada di Soerabaja ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini.
Dan kalaoe pimpinan tentara Inggris jang ada di Soerabaja
ingin mendengarkan djawaban ra’jat Indonesia,
ingin mendengarkan djawaban seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini
Dengarkanlah ini hai tentara Inggris,
ini djawaban ra’jat Soerabaja
ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian
Hai tentara Inggris!,
kaoe menghendaki bahwa kita ini
akan membawa bendera poetih takloek kepadamoe,
menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe,
kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata
jang kita rampas dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe
Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe
bahwa kaoe sekalian akan mengantjam kita oentoek menggempoer kita
dengan seloeroeh kekoeatan jang ada,
Tetapi inilah djawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah
jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih,
maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!
Bersama Patung Sudirman
Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Bagaimana rasanya berada dalamsituasi-situasi yang sulit?
Dan perlu diketahui, ini bisa mengganggu stabilitas kesehatan
.
Makan mulai tidak enak, pikiran mulaitidak nyaman, dan perasaan yang tidak enak dikecap. Giliran selanjutnya,barangkali Anda menjadi lebih sentimentil, dan reaktif menanggapi sekitar. Baikpada keluarga maupun lingkungan pergaulan.
Bisa saja, sedikit-sedikit Anda jadi serba reaktif yang memacuadrenalin emosi; marah tanpa alasan, maupun orang-orang di sekitar Anda seperti memusuhi, bahkan seakan selalu bertindak yang tidak baik terhadap diri Anda.
Ya, inilah efek akumulasi dari aspek psikis yang sedang tidak stabil. Dalam riset Herbet, jika suasana ini berkelanjutan, efeknyaakan berdampak pada fisik. Bisa saja kemudian anda mengalami sakit punggung, migren,hipertensi, dan lain sebagainnya.
Lihat saja, misalnya bagaimana mungkin penyakit seperti hipertensi, tidak disebabkan oleh kuman penyakit? Akan tetapi, disebabkan oleh dimensi pikiran? Dan salah satu aspek pengobatannya, melalui teknik relaksasi? Ini tentu tidak bisa diterima secara kaidah ilmiah medis.
Namun faktanya, pasien-pasien yang sudah diklaim usianya tersebut, bisasembuh permanen secara misterius. Inilahmengapa, Herbet—yang ahli bedah, lulusan Harvard, terjun meneliti fenomena anehitu.
Atau, sembuhnya penyakit pasien hanya dengan memberinya obat palsu, sejenis obat yang sebenarnya tidak berisi obat. Tetapi hanya obat akal-akalan dokter, karena setelah diteliti, pasien tidak sedang bermasalah dengan kesehatannya. Namun pasien bersikeras sedang sakit. Dalam kedokteran, pemberian obat palsu ini dikenal dengan efek plasebo.
| buku Herbet Benson |
Dengan teknik ini pula, bisamenyelesaikan beberapa penyakit, yang sebenarnya bermuara dari soal-soal yangsifatnya psikologis dan pikiran.
Hanya saja, saya membacanya tidak sampai habis. Perludicerna-cerna sedikit. Ya tidak seperti membaca sebuah novel tentunya. []
Ia nyata terpampang di pelupuk.
Seluruh wujudmu seperti terbungkus balutannya,
keseluruhan wujud itu pun sirna
Kau tahu, ini ajaib. Kau melihat sesuatu yang tak terindera oleh pendengaran telingamu, tak tersentuh rabaan kulitmu. Tetapi matamu nyata menyimak hitam legam ini.
Ini sungguh ajaib. Benar-benar keajaiban. Kau tahu,
jika kau berada di depanku, kau tentu tidak akan tahu bahwa aku sedang berada di hadapanmu.
Apa aku bisa menghilang?
Ya, benar.
Wujudku memang bisa menghilang dari sorong matamu.
Ini ajaib.
Kau tahu, untuk membuktikan fakta bahwa keberadaanku, kau tak bisa menggunakan mata, kau harus gunakan pendengaran telingamu.
Dengan bersuara, maka kau tahu, keberadaanmu ini sedang ada di mana.
Kau mungkin berusaha menemukanku dengan rabaan tanganmu. Setelah mendengar, kau buktikan dengan rabaan itu.
Pada satu titik, kau tentu mungkin belum yakin bahwa ini benar-benar diriku. Maka, satu langkah lagi kau pasti tahu, ini memang diriku.
Kau tahu apa satu titik itu? Bahwa, ini fakta adanya?
Kurasa, kegelapan tidak harus membuat bingung mata.
Karena masih tersisa satu hal:
hatimu.[]
Seperti melewati lorong-lorong lusuh dan kumal.
Sempit, dan berbekas. :berdesis.
Aku mengangeni sesuatu dibalik sepi dan rindu, sesuatu bertutur dalam hati.
Ya, di lorong gelap ini aku mencari papan dan kapur tulisnya. :Kau salah berjejal di lorong ini, kembali tuturan itu bertutur. Lebih getar dan aku tahu. Aku butuh yang lain.
Butuh yang lain. Sewarna yang lebih beranjak dari sekadar papan dan kapur tulis. Aku butuh arus listrik yang menyalakan benda elektronik segemgam dalam tas punggung ini. Bukankah zaman tak lagi membisu? Warnanya yang aus, justru tak tergerus?
Lorong ini, terlalu rindu. Atau gelap ini terlalu petang?
Aku tahu.
Rindulah yang melesakku ke sini, melewati lorong-lorong kusuh dan kumal ini. Oh. Ingin bersua dengan rindu itu. Rinduku. :Tetapi bila ada pertemuan, bukankah rindu menghilang bekas-bekasnya?
Lalu apa yang sebenarnya dicari di lorong-lorong ini?
Saat-saat sepi, tiba-tiba meledak dan menelan? Aduhai. Amboi. Januari 2010.
komentar-komentar:
- Akhiriyati Sundari menyukai ini.
- Sirr Ahmala Jabulani aku mau ngutip ini: "Aku mengangeni sesuatu di balik sepi dan rindu"27 Januari 2010 jam 15:16 ·
- Akhiriyati Sundari sepertinya ada yang terendam. lesak jauh ke dalam. menciptakan keberjarakan... selamat..kalimatmu menarik, Mam!27 Januari 2010 jam 15:41 ·
- Tamam Ayatullah Malaka ....
ahmala@:ah,pituenem ya?
Filia@: mungkin??
Sundari@: halah, jangan dramatis2! lage kemerungsung aku27 Januari 2010 jam 22:46 · - Khilma Anis lah!pinter berkata2 gitu kog belum punya pacar to mas tamam.hehe28 Januari 2010 jam 7:53 ·
- Tamam Ayatullah Malaka ...
hooiiiii
opo sih
kok ngente`e aku kabeh 100%
ra ngesakno aku po::28 Januari 2010 jam 11:30 ·
Tak ada tali, maupun pengikat yang menjadi kendala kaki ini bergerak.
Tetapi sungguh aneh, kaki seakan digandoli beton berkilo-kilo.
Bukan hanya kaki, dada ini juga seperti tertimbun bata. Bahkan ubun-ubun juga seperti diotak-atik oleh sesuatu yang tidak terlihat oleh panca indera. Pikiran ini, meski sedang berdiri tegar di tepi sungai ini, sesungguhnya tak benar-benar singgah di situ. Mata ini, pun tak melihat sungai dengan segala yang berdiam di situ. Telinga ini pun, seakan tak menyimak bebunyian arus yang deras.
Benar juga kata orang-orang, badan ini sekedar wadah bagi jiwa. Ke mana jiwa terpusat, di situlah ia berada. Meski tubuh berada di tempat itu, boleh jadi ia sedang berada di tempat ini.
Boleh saja orang-orang, tetangga, maupun orang yang hilir mudik di sekitarmu berbilang; aku melihatmu mematung di pinggir sungai. Akan tetapi,
jika jiwamu sedang merambah dunia antah berantah, maka tinggal tubuhmu saja yang berdiam di situ.
Orang-orang itu, takkan bisa kau lihat kehadirannya. Karena matamu sedang menyaksikan yang lain. Telingamu takkan mendengar suara-suara, karena pendengaranmu sedang mengikuti jiwamu berkelana.
Konon, inilah yang sering disebut banyak orang dengan alam lamunan. Sebuah alam, yang kabarnya lebih tenang dari kolam. Lebih rapi dari api. Atau lebih lembut ketimbang air. Ada juga yang bilang, ia malah lebih ribut dari kabut yang datangnya dari laut.
Aduhai Engkau Penghulu Negeri
Tetapi bila itu dirimu yang melakukan, aduhai engkau penghulu negeri. Di mana pun jiwaragamu berada, pusatnya satu. Pusat keummatan. Kau rela pasang badan, demi mereka-mereka yang tertindas. Kau benar-benar mewarisi kearifan penghulu kenabian, wahai guru.
Setiap pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanmu: ke mana pun ia merambah. Tak sekedar lamunan biasa. Rupanya, penglihatan dan pendengaranmu cuma pada satu dunia antah berantah. Lamunan. Lamunan, di mana kau sedang mengaktualisasi pemikiran ke jalan manifestasinya.
Ah, aku ini sedang melamun, ataukah sedang mengkhayal saja? Tak seperti keagunganmu yang kadang dianggap lamunan oleh orang-orang yang menyimakmu dari jarak pendek, aku sedang berupaya menjaga jarak.
Agar lebih jauh menyimak. Lamunan itu, ternyata bukanlah alam kosong. Karena berkatmu: kebersamaan ini lebih langgeng setelah tercabik primordialisme fanatis.
Selamat jalan guru. Penghulu keabadian, pasti melapangkan tangan menyambut kedatanganmu. Berkah doa untukmu. Kami menangis bukan karena sedih. Kami menangis, karena sedang terharu. Betapa besar dekapan itu.
Dekapan yang kadang dianggap lamunan oleh orang-orang, nyatanya ia berupa tindakan welas asih tanpa pamrih. Dan kami begitu ringkih menyadarinya. Bahwa, semua itu buah pemikiran.
Pemikiran kesentosaan, kesejahteraan, kemakmuran, gotong royong, tenggang rasa, welas asih sesama, kemerdekaan, dan kelindan tindakannya.[]
agar selaput pandangan tertutup.
Agar dunia luar tidak lagi bersemangat mengintip.
Dunia dalam, itulah maksudku. Dunia dalam, di mana tersimpan rapat dalam hatiku, dalam pikiran, imajinasi, dan mungkin pula yang tersembunyi dalam ruang lamunan.
Aku ini sedang ingin menggelapkan diri di kegelapan:: kegelapan yang pernah dimiliki dan disinggahi para pemabuk, para sakaw, atau yang dimiliki para pertapa. Di mana, dengan kegelapan itu, ia benar-benar yakin di mana ia sungguh-sungguh bisa menjamin dirinya bisa berdiam sendirian. Hanya seorang diri.
Aneh memang. Kala dunia luar ditutup, dan berharap tak satu pun mengganggu kedamaian ini, dunia dalam ini nyatanya jauh lebih risau, lebih hiruk pikuk ketimbang dunia luar. Lihatlah, ada beberapa sosok-sosok yang tersipu-sipu malu ketika kubuka dunia dalam ini. Ah.
Lihatlah, di situ akal. Ia lebih rame darimu. Dia petentang petinting bak Friedrich Nietzsche di puncak Awan, atau kadang seasyik Adolf Hitler kala memelintir kumis.Di sana, ada lamunan. Ia lebih pendiam dan penyendiri melebihi semut yang berbaris. Di situ, ada sosok paling bergairah. Dialah sang imajinasi. Berkali-kali dia menghampiri dan mendesak mengadu ambisi. Bercerita padaku tentang Napoleon Bonaparte dengan pelatuk pistol, atau tentang Sultan Agung dengan gemulai selendang Putri Roro Kidul yang membuai pantai.
Ah. Di dunia ini, ternyata tak sungguh-sungguh ada dunia, di mana kau bisa tenang sendirian. Kehidupan ini, mungkin memang memiliki dua tempat yang pasti kau temukan jika kau pernah memejamkan mata, setelah kau membuka matamu. Atau, ketika kau membuka kedua matamu, setelah mata terpejam. Ya, pejamkan matamu sebentar saja. Sejenak kemudian bukalah mata itu.
Bagi yang hobi membuka mata, maka tutuplah mata itu barang dua jam. Maka, akan kau simak dua tempat yang saling bersinggungan itu. Ia memang sepasang sisi. Aku ingin memberinya satu nama:::
sepasang gelap.
Januari 2010.
Apa kata-kata di atas patut dipercaya?
Kalausaya sih, ya percaya-percaya saja.
Tokh, ndak ada ruginya. Juga tak perlubayar.
Alasannya konon begini; terlalu banyak mengolah akal—sementara sisi rasaterlupakan, hanya akan membuat seseorang lebih banyak memanfaatkan sisa-sisawaktunya untuk mengkritisi, mendebat; dan terforsir memenangkan situasi. Jelasnya,membuat kotak, kau tunduk atau pilih jadilawan.
Poin penting yang saya ingat darinya, jika mau usahalaris dan langgeng, bukanlah berpikir untuk memenangkan persaingan dengan lawanyang kita nilai sebagai saingan.
Tetapi, berusahalah untuk memenangkankebutuhan pelanggan. Maka, lupakanlah usaha memenangkan pertarungan denganlawan bisnis. Karena hal itu tindakan sia-sia dan melelahkan.
Lebih baik ngacir saja ke warungbuat ngopi
Tetapi,di antara hilir-mudik orang-orang di sekeliling;
ternyata banyak juga yangdiam-diam
mengoleksi pikiran yang isinya penuh keruwetan.
Ya, meski mengakutidak menyukai pikiran ruwet, tidak sedikit yang justru di tingkat pikiranmalah bermesra-mesra. Ini memang aneh.
Betul-betul tidak bisa dimengerti.
Masalahnya,kalau memang tidak senang pikiran ruwet; kenapa masih disimpan saja? Kenapatidak dibuang saja jauh-jauh dari dalam `pikiran`? Jujur saja, saya pribadicukup penasaran dan penuh tanda-tanya soal satu ini. Mestinya, bagi yang tidakmenyukai pikiran ruwet, singkirkan saja-lah. Susah amat.
“Gundulmucong. Kayak-kayaknya saja kamu itu benar-benar terbebas dan merdeka darikeruwetan pikiran...” celetuk seorang kawan yang duduk di sebelah kursi saya.Sontak, saya pun tertawa ngakak lebar-lebar.
“Lha,aku ini kan tidak termasuk orang yang membenci keruwetan mas bro..” selorohsaya tanpa beban.
Ruwet itu Aduhai
Initentu rahasia besar. Ternyata ruwet itu aduhai. Menjadi tak aduhai karenapolahnya `pikiran` yang serba ingin menolak dan mengelak dari `keadaan`.
Padahal yang namanya keadaan itu mau diapa-apain tetap saja tak bisa ditolak.Ia lebih menyerupai `takdir`. Maka, satu-satunya jalan keluar; terimalahkeruwetan sebagian bagian dari kehidupan ini.
Sebenarnya,kalimat di atas tidak sepenuhnya milik saya. Kalimat itu saya dapat setelahmembaca secara seksama buku, Quantum Ikhlas -nya Erbe Sentanu beberapa harilalu.
Sentanu kira-kira berkata begini; orang modern terlalu fanatikmenyelesaikan perkara-perkara hidupnya dengan cara berpikir positif. Yaitudengan menganjurkan melawan pengalaman-pengalaman negatif dengan menggantinyaala pikiran positif.
Padahal,jelas Sentanu, tindakan itu jelas-jelas justru kontraproduktif. Itu namanya menipudiri sendiri. Sebab, bagaimana pun peristiwa negatif takkan berubah hanyagara-gara berpikir positif. Ia akan tetap sebagaimana adanya.
Iamencontohkan, seperti cara agar kita menjadi kaya, yaitu dengan cara berpikirlahkaya maka anda akan menjadi kaya. Ini jelas salah besar bagi Sentanu. Sebabakan menimbulkan yang namanya konflik batin. Kenapa bisa demikian? Jelassaja, hati nurani akan menolak anggapan pikiran yang mengatakan dirinya kaya,wong jelas-jelas sedang tak punya uang sepeser pun!
Kegiatanmerekayasa pikiran ini, secara tak sadar telah mengondisikanseseorang untuk tidak menerima, tidak mengakui, dan membenci keadaandiri yang sebenarnya. Nah, di situ letak konflik batin-nya.
Lalubagaimana baiknya?? Sentanu menyatakan hal paling baik sebenarnya cara mengubahkeadaan bukanlah dengan cara pikiran positif (positive thinking) tetapidengan cara merasa positif (positive feeling). Bagaimana cara merasapositif??
Sayasendiri masih belum tahu bagaimana. Terus-terang, saya juga masih penasaranseperti apa rahasianya. Saya punya buku ini sudah dua tahun. Cuman tak saya baca-baca juga. Saya baca pun dengan ogah-ogahan, ck ck ck
Baru sekarang saya baca antusias, justru ketika saya lagi ruwet-ruwetnya. Emang aduhai teori Sentanu ini. Ternyata ruwet itu emang sangat aduhai. Bikin saya lebih rajin baca buku. Ah, ah, ah...[]
membuka tikar pandan di halaman.
Hingga suatu hari, datanglah seorang teman.Mula-mula, keinginan ini ingin diutarakan. Entah kenapa, teman ini sudah banyakbicara tentang metode khas berhenti merokok.
yaitu tentang Adsense
Ini isu lama. Tapi saya baru `ngeh` akhir-akhir ini saja. Ketika blogspot menjamur, dan Friendster terpinggirkan, saya pun tenggelam di blogspot. Interaksinya yang dinamis cukup memukau. Saat itu, seorang sepupu aktif di bisnis online.
Tapi saya belum ada perhatian. Banyak soal teknis internet yang meski berusaha diterjemahkan olehnya, tetap saja rumit saya cerna. Bertumpuk majalah, tabloid terkait bisnis online menumpuk di dalam kamarnya. Saya hanya selintas saja membaca media-media itu. Sepertinya kepala saya ini cenderung ruwet jika bicara soal teknis internet dan komputer.
Nah, ketika FB muncul, giliran blogspot yang terpinggirkan. Saya pun melupakan blog saya. Rutinitas kerja pun mendukung hal itu. Tetapi lama-lama saya rindu menengok catatan di blog. Rindu pula menulis ulang.
Waktu pertama kali membuka kembali blog, beberapa pesan datang dari mbah google tentang akan adanya pembaruan di blogspot. Saya pun menerima sejumlah catatan mengenai adsense google. Saya ingat kembali sepupu. Sekarang, dia masih sibuk dengan bisnis online-nya. Oh, ini dia yang sering dia ocehkan ketika itu.
Beberapa penjelasan si mbah ternyata membuat saya berpikir lagi. Apa salahnya jika dicoba. Pikir saya, jika saya coba dunia baru ini, malah bisa menjadi semacam spirit baru mencatat di blog. Tokh ndak ada ruginya jika tanpa hasil. Justru, mungkin bisa menjadi ajang aktualisasi diri yang menggairahkan. Tantangan tersendiri yang `cling`.
Saya memulai melakukan penelusuran. Tak diduga, banyak situs yang membicarakannya dengan gamblang. Semakin gairah saja membacanya. Tetapi tetap saja banyak istilah teknis yang susah saya cerna; semisal backlink, page rank, SEO, dan seterusnya. Meski begitu, apa salahnya saya belajar sambil lalu.
Akh, tapi ada masalah ruwet. Jika menginginkan adsense google, maka harus memiliki blog berbahasa Ingris. Karena si mbah belum menerima adsense dalam bahasa Indonesia. Meski sedikit bisa bahasa Inggris, tapi ini butuh pembaruan ulang. Sementara tak mungkin mengerjakannya dengan cepat. Tentu bisa mengganggu ritme kerja.
Dari blog seorang rekan, barulah saya temukan link mengenai adsense Indonesia. Tentu saja, saya bergembira. Seperti yang terlihat di banner iklan di kiri atas, itulah adsense Indonesia pertama yang coba saya lakukan. Dan saya sebenarnya belum sepenuhnya paham soal itu. Setelah register, kemudian saya pasang begitu saja. Kalopun ada kesalahan, saya bisa belajar sambil lalu dari kesalahan-kesalahan itu nanti. Istilahnya, menyelam sambil minum susu, hehehe
Tentu saja ini masih dunia baru bagi saya. Aktivitas blogging bisa sambil belajar bisnis di bidang yang saya cintai, yaitu menulis. Dulu, barangkali saya menulis di surat kabar dan dapat honor. Tapi sekarang, sudah susah mendapatkan mood yang sesuai. Apalagi dengan ritme deadline dadakan, yang bikin mood seketika ludes.
Melalui bisnis iklan di blog, saya pikir bisa memenuhi hobi saya menulis. Tanpa harus ruwet menunggu mood atau honor. Ya, meski tak banyak hasil nominalnya, sesuatu yang baru bila ditekuni sudah pasti menemukan hasilnya sendiri yang menjanjikan. Itung-itung, mengisi waktu dan aktualisasi diri yang semakin sulit didapat. []
Aku selalu terhibur, di setiap kali ada gemuruh datang dari tengahlaut, dengan membawa gempuran ombak besar dan sampai tipis-tipis di pepasirpantai, tepat di kedua jari-jemari kaki.
Aku juga sangat terhibur, waktu anginhalus menerpa bahu, tengkuk, dan rambut yang membuatnya terhempas ke kanan danke kiri.
Ketika iabergerak ke pesisir, ia sangat cepat, secepat irama gemuruh. Terakhir, ombakini makin ringan bergerak menyisakan buih berwarna keperakan. Pantai apa ini? Ini adalahpesisir pantai hatiku. Siang malam aku terduduk di pantai ini. Kadang terciumaroma tertentu. Ah, itu aroma pikiran dan perasaanku sendiri. Ia serupa nyamuk,menggigit kulit dan membuatnya infeksi.
Konon, jikalau nyamuk Malaria, bisamematikan. Wew, ini seperti ilusi De-Javu saja. Menggenang, seperti banjirbandang. Kalau kurang hati-hati, dinding-dinding jiwamu bisa retak, dan tidakakan jauh beda dengan Bendungan Situ Gintung ketika ia membandang kondang.
Waktu-waktu, yang lama tak bisa kunikmati.
Di saat keramaian mulaiterasa menggigil.
Dan, tiba-tiba teramat ingin menepi, menyepi,
dan sendiri.
komentar-komentar:
- Tamam Ayatullah Malaka Fajar@ seragammu kok masi PMI?? Cinta mati rupanya sejak dahulu?? Wah, emang fajar sekali kok, ha..
Nafilia@sopo yo? Sek tak tanya2 dulu, hehe24 November 2009 jam 11:47 · - Akhiriyati Sundari tulisanmu apik, Mam. kapan kau ke Jogja. akan ada bincang-bincang yang panjang.. seperti lautan yang luas dan lapang.24 November 2009 jam 11:56 ·
- Tamam Ayatullah Malaka ...
Sundari@wew..aku tertarik dg bincang2 sepanjang laut itu,namun..ow jogja!kpn??? iya kpn????
Nuyawa@aku senantiasa mendengarnya lo,itu isi hatiku! Whahaa25 November 2009 jam 16:18 ·
Sampai berhari-hari terlalui begitu saja. Belum satu pun yang terjamah sempurna. Saya heran, kenapa ide sedemikian mampet bergerak? Jika sampai batas deadline belum terselesaikan, pertaruhannya adalah integritas.
Bahwa saya ini nyatanya tidak memiliki kesanggupan menyelesaikan kerjaan. Dalam beberapa rapat terakhir, kinerja saya kerap dipertanyakan. Bahkan, mulai diragukan. Bahwa jangan-jangan, saya ini tidak punya keahlian. Jangan-jangan, saya ini hanyalah pekerja dengan kemampuan omong kosong? Situasi ini memang njlimet. Batas waktu deadline kini terlampaui, namun naskah itu masih tereksekusi dengan baik.
Sebenarnya, jauh di lubuk pikiran, saya pikir naskah yang akan saya selesaikan itu tidak sulit-sulit amat. Masalahnya, saya benar-benar buntu. Tak ada jalan keluar sama sekali. Saya benar-benar merasa sangat bodoh.
Sempat terpikir, saya semestinya segera mengundurkan diri dari perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab saya yang tak bisa memenuhi tuntutan tugas rutin. Saya merasa kehadiran saya ini sama sekali tidak bisa membantu mengatasi keadaan.
Lama-lama saya terpikir. Sebenarnya, apa itu jalan buntu? Apa yang menyebabkan jalan yang mula lapang, tiba-tiba gelap? Jika jalan sudah buntu, lantas bagaimana mengembalikannya kembali lapang seperti mulanya? Tak ada jawaban.
Tapi samar-samar, di kepala ini melintas bayangan ketika pulang kampung kemaren. Di mana, bis terhenti beberapa jam. Meski bergerak sesekali, kecepatannya seperti siput. Saya heran, meski mau lebaran, tapi ini kan jalan raya di Pulau Madura. Mana mungkin ada jalan yang macetnya macam itu?
Ternyata itu mungkin. Dan jawabannya terlihat satu jam kemudian. Macetnya jalanan, bukan disebabkan saking banyaknya kendaraan. Akan tetapi, jelang lebaran, pasar tradisional yang berlokasi di sisi jalan raya, menjadi potensi sumber kemacetan.
Banyak orang lalu lalang; tukang becak yang seenaknya sendiri berbelok; kendaraan-kendaraan menghentikan penumpang di pasar tanpa merasa berdoa, dan tak cakapnya petugas mengatur lalu lintas berkumpul jadi satu kesatuan: macet 100%!
Kalau begitu, jalan buntu yang saya alami pun pasti demikian adanya. Bukan sebab saya memang bodoh, atau otak yang mulai tumpul. Akan tetapi, pasti ada sebuah garis tertentu yang belum, dan harus saya temukan. Garis itu, adalah garis yang berisi hiruk-pikuk seperti di jalanan ketika saya pulang kampung.
Di mana, banyak orang lalu lalang tanpa melihat suasana jalan; tukang becak yang seenaknya sendiri berbelok; kendaraan-kendaraan menghentikan penumpang di pasar tanpa merasa berdoa, dan tak cakapnya petugas mengatur lalu lintas berkumpul jadi satu kesatuan: macet 100%!
Dan, pikiran pun tergenang. Tergenang oleh bayangan pikiran itu sendiri. Genangan macet yang tak bisa dihentikan. Ternyata, jalan buntu itu, adalah suasana pikiran saya sendiri? Berarti, nggak perlu naik bus.Naik motor saja.Atau jika tidak, jalan kaki sajakah? Ihiks. 12 Oktober 2010
Munculnya FB ternyata memiliki dampak yang signifikan pada blog saya, dan barangkali pada bloggers lainnya. Betapa tidak, berbulan lamanya saya sama sekali tidak kepikiran lagi tentang blog ini.
Alhasil, selama berbulan tersebut, saya tidak pernah menulis, meski sekedar menjenguk pun tak sempat. Maksud saya, FB benar-benar luar biasa daya gendamnya sehingga saya melupakan alam maya saya yang lain selain blogspot semisal friendster.
Memang, kelebihan FB adalah sifat dan wataknya simpel dan enteng untuk dimanfaatkan dalam banyak hal; berbagi foto, komentar, tulisan, saling cakap, bahkan untuk bertemu kawan dan doi lama sekalipun!
Inilah yang mungkin mengilhami blogspot untuk berbenah. Beberapa bulan lalu, saya teringat blog saya. Setelah saya otak-atik, ternyata ada yang beda dan menarik minat. Terutama, bagi seorang saya yang tidak memiliki kemampuan desain blog. Blogspot menambahkan kemudahan bagi blogger untuk mendesain lebih kreatif dan manis secara mandiri, dengan kemudahan memilih tampilan yang beragam.
Tentu saja, saya jadi bergairah. Meski lama saya tinggalkan, sejujurnya saya mengangeni suasana blog saya. Saya sudah memiliki tiga blog di sini: http://reportase-dadakan.blogspot.com/ , yang saya buat untuk catatan perjalanan, http://aksara-jiwa.blogspot.com/ untuk keperluan jiwa asmara, dan blog ini tentunya: http://tamam-inspirati.blogspot.com/ sebagai blog perdana yang saya buat.
Menulis di blog sebenarnya adalah urusan pribadi. Urusan pribadi agar semua luapan ungkapan tidak cuma menumpuk di benak. Urusan akan dibaca orang lain, bagi saya itu urusan lain yang berbeda.
Maka, tiga blog yang saya bikin di atas sebenarnya hanyalah catatan sambil lalu saja. Banyak hal yang ingin kita bincangkan, tetapi kita ternyata tidak banyak waktu bertemu untuk mengobrolkannya.
Seperti dikatakan Herbet Benson tentang pengobatan medis plasebo, menulis di blog bisa menjadi obat penyembuh paling efektif jika Anda sedang tidak ingin kesepian, sedang migren, atau sedang ingin sendiri. Agustus 2010.
Memiliki sebuah karya, tidak melulu soal kebanggaan. Lebih dari sekadar itu, selesainya sebuah karya merupakan level kepuasan yang tiada tara dan tiada duanya. Kita hidup, kemudian meninggalkan dunia fana tanpa intensitas karya sama sekali, sama saja memiliki benda-benda yang bagus dan istimewa, tapi kita hanya bisa melihatnya saja.
Benda apa yang paling istimewa dan spesial dari makhluk bernama manusia? Saya yakin, benda itu namanya adalah bakat. Setiap orang sudah pasti, punya yang namanya bakat khas. Dengan bakat tersebut, seseorang merasa terpuaskan ketika berhasil menetaskannya dalam bentuk karya.
Beberapa bulan berputar tanpa henti, ternyata saya kena imbasnya. Selama bulan-bulan antara 2009-2010, saya sekedar menulis cuma karena tugas atau kerjaan rutin mengais rezeki.
Selebihnya, waktu-waktu luang yang tersedia tergunakan demi memenuhi jeda istirahat. Tetapi, saya merasa ada sesuatu yang hilang separuh. Nyatanya, ada ruang yang tak tergali yang membuat diri saya selalu berada dalam ruang yang asing dan gersang. Apapun yang saya perbuat, seolah hampa dan hambar.
Ya. Saya telah melupakan, saat-saat di mana saya menulis sesuai dengan impian dan mimpi-mimpi saya selama ini. Lalu, kenapa saya tidak mau, dan tidak pernah mau menulis sesuai impian dan mimpi-mimpi itu?
Sebabnya adalah asumsi. Asumsi bahwa saya tidak punya waktu banyak untuk berpikir. Asumsi bahwa menulis akan menjadi beban, dan akan memberatkan waktu-waktu jeda istirahat.
Padahal, bila dikalkulasi, waktu luang itu banyak. Bila dipikir ulang, menulis itu bak darah dan daging yang tak bisa dibuang begitu saja. Yang berat itu bukan tidak adanya waktu, tetapi yang berat itu adalah asumsi bahwa keadaan tidak mungkin mencukupi.
Maka, hati-hatilah dengan asumsi yang kita putar di kepala. Sebab, asumsi tersebut bakal menghambat banyak hal, termasuk tujuan utama hidup ini. Setiap kali ada kesempatan yang datang, asumsi tersebut bakal muncul dan menjadi alarm.
Karena itu, seberat apapun sebuah anggapan yang berputar di kepala, berilah asumsi yang cemerlang bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa, apapun yang direncanakan, akan berjalan sesuai rencana.
Sebab, yang berat bukanlah keadaan di depan mata, tetapi keadaan yang berada dalam pikiran. []
menulis tidak bisa
semata bermodal niat
adalah sangat penting
mengenali gairah sebuah tulisan itu sendiri?
Ketika masih aktif di sebuah Pers Mahasiswa, seorang teman geregetan karena susah sekali mengungkapkan diri dalam tulisan, setidaknya memulai sebuah tulisan yang segar dan bagus. Beberapa kali saya melihatnya dalam kondisi frustasi. Maklum, profesinya sebagai wartawan kampus mengharuskannya lihai bermain-main dengan kalimat yang kreatif. Apalagi posisinya sebagi senior kala itu. Dan, proses ini berlangsung lama.
Suatu waktu, saya menemukan satu kumpulan tulisan yang menyengat dan teramat menyentuh. Sampai-sampai, saya sendiri tak sadar sudah hampir selesai melahap kumpulan tulisan ini. Rasanya, pengen tulisan tersebut masih bersambung. Usut punya usut, tulisan tersebut nyatanya karya seorang teman di atas. Saya takjub. Ada apa dengan anak itu sehingga sangat lihai menulis sebegitu rupa?
Saya mencoba mencari jawaban lugas. Adalah mustahil jika benar dialah penulisnya. Saya tahu betul bagaimana kemampuannya menulis. Dari beberapa informasi, barulah saya tahu. Kemudian, saya menemukan satu jawaban memuaskan.
Setelah saya kalkulasi perwaktu, antara karya selesai dibuat, dan sebuah kejadian yang dialami anak tersebut, saya menyimpulkan hal menarik. Teman tersebut bisa menulis dengan luar biasa, karena menuliskannya tanpa sadar!
Alkisah, sang teman tersebut rupanya sedang ditimpa gejolak asmara yang akut. Keinginan memiliki, bertubi dengan ketidakbisaannya memiliki. Mereka terpaut jarak wilayah yang terlampau jauh buat memadu kasih. Ketidakbisaan ini kemudian memaksanya memiliki tumpuan perasaan, demi menggenapi tumpah ruah harapan yang tidak terpenuhi. Segala gerah dan peluh curhat ke berbagai teman sudah tak sanggup mengobati tumpukan kegelisahan. Dan, tulisan adalah satu-satunya alternatif membebaskan diri dari luapan harga diri!
Luar biasa. Saya mengagumi potensi terpendam macam ini. Peristiwa ini juga mengobati diri saya sendiri. Betapa, keindahan dan kemolekan sebuah tulisan hanya akan meresap bila emosi disertakan ulang.
Barangkali, inilah bedanya, antara karya sastra dengan karya akademis. Dan, teman ini menyadarkan saya. Setiap bentuk tulisan, membutuhkan situasi kondisionalnya masing-masing. Bahwa kita mesti mengondisikannya, dan bukan sekedar menunggu mood segera tiba. 28 April 2010
saya memang suka puisi.
Dan, juga senang menulis puisi.
Saya suka menulis puisi mungkin sejak saya bisa membaca dan menulis. Meski begitu, saya tak pernah terbersit mengirim karya tersebut ke media massa. Rasa senang saya pada puisi mungkin sama setimpal dengan kesukaan saya menulis cerpen—yang juga tak terbersit keinginan berkarya di media massa.
Saya tidak tahu apa alasannya. Yang jelas, saya menyenangi semuanya dengan keseluruhan diri saya. Tetapi, saya menolak setiap orang yang mengatakan saya berbakat di bidang sastra. Saya cuma suka saja, titik. Saya senang menulis, itu saja. Hal semacam ini terus berlangsung hingga saat ini. Setiap kali selesai sebuah tulisan, saya seperti menemukan surga yang hilang. Begitu saja.
Memang, saya pernah didaulat menulis sebuah novel. Saya mengamininya. Ketika itu, saya tenggelam dalam ritme yang aduhai. Dalam satu waktu, saya menyelesaikan tiga novel, hampir bersamaan. Satu novel sudah ditandatangani Mou-nya. Namun, lagi-lagi, setelah semua terselesaikan, saya tinggalkan begitu saja. Padahal, tinggal edit sedikit saja, novel bisa terbit.
Ini memang aneh. Setiap kali selesai dari sebuah tulisan, seperti ada neraka yang lepas yang mengerangkeng dalam dada. Selebihnya, saya sudah tidak memikirkannya lagi. Tergeletak begitu saja.
Tampaknya, menulis bagi saya, selayaknya sahabat berbagi yang akrab dan penuh perhatian. Dan, tak satupun yang boleh menggamitnya dari keberadaan saya. Barangkali, keengganan menulis yang lebih tersebut, disebabkan gaya menulis saya yang menunggu mood saja.
Kalo menunggu mood dimanjakan. Kapan bisa interaksinya dengan karya-karya lain? Yang memiliki sentuhan-sentuhan kelindan dengan para penulis lain? Ah. Lagi-lagi, tulisan ini sangat menggairahkan. Menggairahkan saja. Sekedar itu saja. 27 April 2010
biar rajin menulis
dan banyak inspirasi
teknologi mutakhir sudah datang?
Minggu-minggu ini, saya tak rajin lagi menulis ngalor-ngidul. Beberapa pekerjaan cukup menyita waktu. Mestinya, semakin lelap dalam kerjaan, maka semakin kuat keinginan berlayar ke alam satu ini. Ya, seperti yang biasa saya alami.
Barangkali saya sedang dirasuki masa transisi yang cukup panjang dan melelahkan. Dan, saya ternyata kelelahan mengantisipasinya segera. Kelelahan semacam ini sebenarnya persoalan yang terlalu saya dramatisir saja tampaknya. Bagaimana tidak, tak satu pun keinginan menulis lebih serius saya rencanakan secara serius di tahun ini.
Tetapi yang pasti—dalam proses panjang yang saya duga kena dramatisisasi tersebut—banyak hal baru ditemui di perjalanan. Misalnya, saya bertemu dengan khazanah teknologi pikiran bernama NLP. Ini memang bukan barang baru, tetapi cukup menarik dikuliti keberadaan pengetahuan satu ini.
Kenapa saya malas, setidaknya enggan menulis? Pertanyaan ini mengawali dugaan saya ketika mendiagnosis diri sendiri. Betapa, setelah mencoba menyimak khazanah NLP, saya bertanya lagi pada diri sendiri bahwa ini tidak sekedar soal malas, enggan atau apapun istilahnya.
Akan tetapi, bagi saya ini soal pengalaman bertemu dengan tuntunan, setidaknya terorisme dalam bentuk pengalaman. Ada satu pengalaman, yang di dalamnya berjejer susunan kalimat, dan kemudian tersangkut di benak saya menjadi semacam teroris. Dan, kemudian menjadi virus akut: keengganan menulis!
Karena itu, tak ada buruknya, pengetahuan praktis semacam ini saya pelajari dulu. Barangkali kekumatan menulis saya bisa disinergiskan ulang. Kita tidak boleh antipati dengan aliran inspirasi darimana pun datangnya.
Selain NLP, ada teknologi lain yang cukup menarik, yakni mengangkat kekuatan level inspirati dengan menggunakan suatu alat yang berisi ritme nada suara yang sudah dikemas dalam bentuk nada tertentu, dan kita tinggal mendengarkannya.
Saya belum tahu betul, apakah zaman benar-benar sudah melek. Sanggup memelekkan apa yang tidak, setidaknya kurang melek; melek tanda-tanda dan gejala, kepekaan yang tidak lagi melalui gemblengan pengalaman. Akan tetapi, cukup menggunakan kemudahan teknologikah?
Anyway, semakin mudah sesuatu, konon, manusia kian kehilangan seni keindahannya? Wew, saya tidak tahu. Tetapi barangkali, manusia harus siap berubah ketika perubahan sudah datang. Darimana pun ia datang, menggilir keadaan yang mungkin sangat berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.
Bukankah selain peribahasa, di atas langit masih ada langit, juga masih ada pepatah lain; kadang di bawah kadang di atas. Apakah sudah siap berada di atas? Setelah berada di bawah tangga? April Moving Away, 2010. []
Film Perempuan Berkalung Surban dan
Ayat-ayat Cinta: Realitas Vs Idealisme
Judul di atas mungkin terkesan mengada-ada. Tapi inilah yang penulis rasakan di saat menonton dua film karya monumental anak negeri ini. Bagi analisis penulis, film Ayat-Ayat Cinta (AAC) mengusung idealisme di tengah-tengah realitas yang tak memihak. Sementara Perempuan Berkalung Surban (PBS) menawarkan tokoh-tokoh utama dengan segala kompleksitasnya sebagai manusia.
Pertemuan antara tokoh utama—film AAC—yang muslim dengan wanita non-muslim yang kemudian berakhir dengan kekokohan cinta dan iman, sangat ideal dan mungkin sangat langka dialami banyak orang. Pembaca bahkan boleh jadi memasuki dunia khayal akan ketulusan cinta si tokoh muslim. Betapa hebat dan menggugah ketulusan cinta di sana. Atau mungkin mengkhayalkan seandainya si tokoh adalah dirinya. Demikian pula di bagian lain kisah-kisah dalam film ini yang banyak menyiratkan kondisi ideal yang terlalu sukar diikuti. Batas poinnya bagi penulis, hanya orang-orang tertentu yang punya iman sebrilian itu.
Lain lagi dengan film perempuan berkalung surban. Film ini menggambarkan fenomena yang terjadi; baik dan buruk mengalir harmonis tanpa membumbui penonton pada satu idealisme. Penonton dibiarkan menyimak keseluruhan sisi manusiawinya manusia sehingga menemukan sendiri bentuk idealisme yang terbaik.
Hal yang menarik penulis, ketika tokoh utama dihukum pelemparan batu karena dituduh berzinah. Bu Nyai kemudian berusaha menghentikan dengan berkata, silahkan hukum dia, tapi hanya bagi yang suci dan tak pernah melakukan dosa. Diskusi yang mengena. Semua orang terdiam. Tentu saja, siapa yang tak pernah melakukan dosa dalam kehidupan ini? Menyimak dialog ini, penonton mungkin tanpa sadar berpikir, “iya benar juga sih”. Hal ini mungkin akan dirasakan penonton pada bagian-bagian cerita selanjutnya.
Memang, untuk menjadi manusia beriman, ia pastilah menempuh jalan tidak beriman di masa lalu. Karena hanya dengan pengalamanlah, seseorang mampu mengenal betapa iman itu sangat penting. Iman punya riak dan duri, setiap manusia pastilah punya simpanan dosa di masa lalu. Karena itu, tidak bisa menghukumi orang berdosa secara sepihak, dia salah dan seakan-akan tak terampuni, dizalimi, maupun diasingkan. Yang tak pernah salah dan berdosa hanyalah malaikat. Ini sepertinya ingin diajukan film ini. Sangat realitas.
Yang masih bikin penulis penasaran, adalah kata “surban”. Sejak awal film ini terputar, penulis belum menemukan bagian mana dari film ini yang mewakili judul satu itu. Harusnya, inilah inti film ini.
Di bagian agak akhir cerita, akhirnya penulis menemukan poin maksud surban. Tokoh utama—Anisya—setelah mengalami banyak hal, ujian dan cobaan bertubi, menunggang kuda dan melepaskan surban begitu saja tanpa beban. Sebuah pesan tak langsung bahwa surban bukan bagian dari Islam, tapi memang mengisi peradaban karena ia memang lahir di tradisi Arab yang kental. Dan kita sudah terlalu lama terpalsukan sampai sejauh mana batas ajaran Islam, dan mana yang tradisi Arab. Dengan kata lain, apapun yang dari Arab, pastilah Islam. Sebaliknya, Islam selalu identik dengan Arab.
Penjatuhan surban ini penulis pikir sangat jitu. Ilustrasi surban diilustrasikan apik dengan gaya khas seni yang mementingkan “pemahaman dan perenung” ketimbang pernyataan simbolik yang kentara dan gagah-gagahan. Uniknya, penonton mungkin sama sekali tak terpikirkan tentang fenomena kejatuhan surban ini. Bahwa sesungguhnya inilah intisari film ini.
Inilah bedanya di antara dua film ini. Pertarungan antara iman ideal, dan iman realistis. Iman yang fitrah. Selain itu, meski sama-sama menyimbolkan perempuan berjilbab, dua jilbab dalam film ini sangat berbeda. Antara jilbab yang berbicara langit (ideal) dengan jilbab bumi yang sedang menuju ke langit (realitas)? Dan tentu saya yakin, jika Ayat-Ayat Cinta menuai pujian, Perempuan Berkalung Surban akan memantik kontroversi. Dari sana, diskusi dan relevansi film ini menguat. Mungkin begitu. 05 Januari 2009
Apa yang sesungguhnya dicari manusia dalam kehidupan ini? Pagi-pagi sekali dia beranjak dari rumah untuk bekerja. Untuk apa dia bekerja? Mendapat uang, katanya. Lalu kalau sudah dapat uang, untuk apa? Untuk bersenang-senang, jawabnya. Kalau sudah senang? Aku ingin terlelap. Kalau sudah terlelap?
Bagaimana kalau kusampaikan, aku melakukan semuanya, segala sesuatunya, hanya dengan satu tujuan? Cintamu? [Bagaimana kalau cinta itu sudah diperoleh? Mau diapain?] Bagaimana jika kujawab, setelah itu aku ingin mati. [Lalu kalau sudah mati?] Aku ingin hidup lagi. [Untuk apa hidup lagi?] Bertemu lagi denganmu! [Lalu apa lagi?] Bertemu denganmu sekali lagi! [kalau sudah ketemu sekali lagi?] ya, bertemu lagi untuk kesekian kali lagi. [kalau sudah?] kalau semuanya sudah terwujud, aku ingin pertanyaan dan jawaban segera dihapus dan terhapus dari jagad raya ini. Sesegera mungkin![] 06 Januari 2009
melihat mata malaikat tiba-tiba begitu hangat,
rapat mendesak. Hempasan dingin angin
malam berdesir mengumpulkan badai.
seakan nyawa dipepet di sana, di situ
dan di sini juga.
Apalagi yang ingin diinginkan?
Karena tiba-tiba ingin kembali,
berdiskusi denganmu.
berdiskusi denganmu
berdiskusi denganmu,
bersenyawa denganmu.
Sebenarnya aku tak pernah ragu tentang segalanya,
Bahwa mata malaikat itu adalah dirimu.
Mata yang menunggu di atas tungku yang
sudah teramat sungkan menyereduk abu,
dan mengibarkan warna pelangi,
mungkin itulah denyut matamu.
Mata malaikat.
kalian mendengar dengungan itu?
Surabaya, 07 Januari 2008
Posts
Lampu perempatan ini nun lama nian, meski akhirnya menghijau juga.
Sayang sekali, baru menggerakkan roda, seseorang berseragam bergegas dari pos polisi menghadang; berhenti! Katanya. Dengan tangan ia mengarahkan laju motor, dan membawaku ke dalam pos polisi.
“Spion kanan Anda nggak ada, padahal yang utama itu pak.” Terangnya, sambil mengambil kertas.
“Terus kenapa mas?” cegatku. Ini sudah jam delapan, harus cepat dibereskan. Dia memberikan lembaran, hi kertas tilangan, “bila sidang Rp. 75 rebu. Kalo di sini, cukup 50 rebu.”
Aku melongo. Shit, ni orang ternyata sedang malak secara formal. Uang di di dompet, sisanya cuma 45 rebu. Bensin habis pula, “30 piye pak?”
“Wah, ya nggak bisa pak. G cukup itu..” dalam hati aku tertawa. Tanpa bicara banyak, 40 ribu pun kukeluarkan. Dia tertegun, uang itu ditatap kemudian dihitung, dan manggut-manggut, "Yo wes, g papa-lah.." katanya.
Aku beranjak, kutepuk-tepuk bahunya dengan dengan gemes, lalu mengucapkan terima kasih. Maunya beli helm, lha kok penciuman oknum ini terlalu lihai menelisik rupa. Ihik.
Aku menahan napas. Pagi-pagi sudah kena palak. Tapi temanku justru terbahak-bahak, “kau mungkin belum sedekah!” cetusnya, “makanya, Tuhan pun terpaksa menjemputnya paksa! Hahaha..”
“Itu mah kemahalan bung!” sahut yang lain, “biasanya cukup kau sodorkan 20, beres semua urusan!”
Hahaha. Aku tertawa.
“Ikhlaskan aja. Barangkali dia lagi butuh duit buat biaya sekolah anaknya bro!” sambung yang lain-lain sambil ngakak.
Bla. Bla. Bla. Begitulah, banyak komentar. Banyak intrikan seputar sidang abu-abu di jalanan. Teman yang lain merasa heran, mestinya aku ngebut sok nggak tau dipeluit pak oknum, atau mestinya di posisi tengah keramaian kendaraan. Ah, yang namanya sedang mengintai, serapat apapun, takkan lolos dari kepungan mata yang lihai para pengintip.
Tapi menarik juga, kadangkala Tuhan punya caranya sendiri agar uang di tangan amblas. Seperti apapun kita kuat-kuat menjaganya. Boleh juga dibilang, hilangnya uang sebagai bentuk fakta, kita harus berbagi dengan sesama.
Jangan terlalu hemat buat berbagi dengan sesama. Sebab, yang namanya rezeki tidak ke mana-mana. Jika memang pelit berbagi karena khawatir uang berkurang, kehidupan selalu menyediakan ruang dan cara berbaginya sendiri.
Sekuat-kuatnya menggemgam uang supaya tambah banyak, selalu ada jalan uang itu berkurang. Seberapa pun uang dikeluarkan buat berbagi, selalu ada cara-Nya mengeluarkan rezeki pada hamba-hamba-Nya.
Pertanyaannya, kenapa catatan ini dicatat segala? Lha, aku sendiri bingung mendefinisikannya. Boleh jadi, ada trauma kena semprit sekali lagi. Masak aku harus terapi gara-gara phobia sempritan pak Pol. Mbohlah. Januari 2010.
Terkenang hingga jauh.
Merambat di segala usia
Dan masing-masing orangmemiliki kenangan tersendiri.
Juga keinginan untuk dikenang.
Tentu saja, tidak semua kejadian menyisakannostalgia.
Ada banyak kejadian-kejadian yangberlalu begitu saja,
tanpa kesan dan bekas sama sekali.
Saya yakin, pastilah menyenangkan bila sebuah catatan dibaca ulang;
kelak suatu hari di depan. 28 April 2010
bangun..bangun,,, gdubraakk!