BAMBANG RAHMANTYO

hello there, the tittle above is my name, am a combination of Hydrogen, Oxygen and Carbon and this is the container of all the spitshiznitz i left and found in the wired.

Posts

May 24, 11:31 AM

RT @UberFacts: While in utero, the two sides of our face develop separately, then fuse together -- Causing the indent above your top lip

May 24, 10:31 AM

RT @HuffPostTech: World's first solar-powered plane takes off on daring new flight http://t.co/FRPzM3FI

May 24, 07:10 AM

RT @TIME: Is India's government really 'paralyzed?' | http://t.co/WVEPzt8a

May 24, 02:52 AM

RT @anu__aishwarya: @justinbieber I could listen to your songs all day long and never get bored. ILoveYou so much. Xoxo

May 24, 02:50 AM

@anu__aishwarya Hey Yes!! Am ALIVE!! I have de-activated my fb acc, had thought to say that through a text msg (cont) http://t.co/fqw4k2XI

May 23, 04:59 AM

RT @MailOnline: Sci-fi becomes reality as DNA is turned into living drive able to store, read and erase data http://t.co/93RSyDH0

May 21, 02:43 AM

RT @UberFacts: Frigensophobia is the fear that using your cell phone is damaging your brain.

Posts

March 14, 03:21 PM


La Ricci Asyik! Enak Disandang, Enak Dipandang!

February 29, 09:02 PM


robbantholgy:

Via weibo

October 02, 12:01 AM


chazhuttonsfsm:

This makes me feel fantastically insignificant…

From Universe Today: A new supercomputer simulation has provided what scientists say is the most accurate and detailed large cosmological model of the evolution of the large-scale structure of the universe. Called the Bolshoi simulation, and it gives physicists and astronomers a powerful new tool for understanding cosmic mysteries such as galaxy formation, dark matter, and dark energy. Cont…

September 17, 05:53 PM


cucukrowo:

tamtam sevenfold, death sekali.

September 17, 05:31 PM


September 06, 10:51 PM


exit : re-staging suicide

May 02, 07:01 PM


crazy japanese with korg nanopad2

April 27, 07:43 PM


stairs + LSD

April 27, 07:37 PM


Game Boy Music (but not the kind of you’re thinking of) via @_kinoy

April 06, 04:10 AM


human body, sliced into 1.871 pieces, animated

April 06, 03:32 AM


AR Rahman - chaiyya chaiyya

April 06, 03:24 AM


game deaths, galau itu pixel via @boingboing

January 28, 09:07 PM


David Bray for Hi-Fructose, awesome artwork!!

January 28, 08:12 PM


Girl Talk, sweaty hipster. use a PC

January 26, 02:08 AM


via @_thunderpanda_ amazing! Pure Saturday - Kosong cover version by young pianist Olla Zen.

January 25, 08:20 PM


salam sayang selalu

January 25, 07:12 PM


BiAr ceMangaDhh!! Spicegirls - “wannabe” *ZIG A ZIG AAAHHHH!*

January 25, 10:07 AM


jimmy ray - are you jimmy ray?

January 23, 03:12 PM


B/W silent movie of The Einstein Theory of Relativity 1923 

Recent tracks

  • Freely by {u'mbid': u'0110e63e-0a9b-4818-af8e-41e180c20b9a', u'#text': u'Devendra Banhart'}
    2 months ago
  • The Other Woman by {u'mbid': u'0110e63e-0a9b-4818-af8e-41e180c20b9a', u'#text': u'Devendra Banhart'}
    2 months ago
  • Carmensita by {u'mbid': u'0110e63e-0a9b-4818-af8e-41e180c20b9a', u'#text': u'Devendra Banhart'}
    2 months ago
  • My Dearest Friend by {u'mbid': u'0110e63e-0a9b-4818-af8e-41e180c20b9a', u'#text': u'Devendra Banhart'}
    2 months ago
  • I Remember by {u'mbid': u'0110e63e-0a9b-4818-af8e-41e180c20b9a', u'#text': u'Devendra Banhart'}
    2 months ago
  • Bad Girl by {u'mbid': u'0110e63e-0a9b-4818-af8e-41e180c20b9a', u'#text': u'Devendra Banhart'}
    2 months ago
  • So Long Old Bean by {u'mbid': u'0110e63e-0a9b-4818-af8e-41e180c20b9a', u'#text': u'Devendra Banhart'}
    2 months ago
  • Cristobal by {u'mbid': u'0110e63e-0a9b-4818-af8e-41e180c20b9a', u'#text': u'Devendra Banhart'}
    2 months ago
  • My Dearest Friend by {u'mbid': u'0110e63e-0a9b-4818-af8e-41e180c20b9a', u'#text': u'Devendra Banhart'}
    2 months ago
  • I Remember by {u'mbid': u'0110e63e-0a9b-4818-af8e-41e180c20b9a', u'#text': u'Devendra Banhart'}
    2 months ago

Top tracks

Posts

Posts

March 05, 03:37 AM

*) maaf postingan reportase yang sangat-sangat terlambat. malas upload dari pc hehe, #yaudahlahya

Saya ke gedung bioskop, tidak untuk nonton bioskop

Sore itu mendung menggantung di jakarta, tapi tidak bisa menahan energi dan excitement yang terpancar dari arsitek-arsitek dan mahasiswa arsitektur yang sudah berkerumun di lobby Blitz Megaplex untuk menanti kuliah umum dari Kengo Kuma. Saya beruntung berada di kerumunan itu, sempat menyapa 2 aktifis JongArsitek! Danny wicaksono dengan t-shirt bertuliskan “architects day out” (kalau tidak salah, memang arsitek sekali orang ini,hehe), dan paskalis krisno a, si arsitek muda berkaki cantik yang rupanya mengenakan kemeja yang sama dengan saya (d’oh).

2 jam sebelum acara yang dimulai pukul 4 sore itu dimulai, lobby sudah penuh dengan rombongan-rombongan arsitek dan mahasiswa arsitektur, dan 30 menit sebelum acara arsitek dan mahasiswa yang penuh antisipasi sudah mengerumuni pintu masuk studio blitz megaplex, para panitia sibuk dan cemas karena waktu persiapan yang sangat singkat. FYI sebelum dipakai untuk kuliah umum, ruang studio tetap dipakai untuk pertunjukan bioskop reguler seperti biasa (bisa jadi pelajaran, untuk mengadakan acara public lecture di gedung bioskop waktu persiapan sangat terbatas).

Para arsitek ternama di indonesia pun tidak luput dari magnet acara ini, nampak andra matin, ridwan kamil, budi pradono, yori antar, yu sing, dan masih banyak yang lain berbaur dalam kerumunan. Yang menarik perhatian dari para arsitek dan mahasiswa arsitektur ini bahwa ternyata mereka biarpun mata berkantung, gaya berpakaian tetap tidak dilupakan, stylish sekalian cari jodoh kayanya ya.

Pintu studio akhirnya dibuka, dengan sayup-sayup background music dari shugo tokumaru. danny wicaksono meminta para peserta kuliah umum untuk bergegas ke kursi masing-masing. dilanjutkan sedikit sambutan dari ridwan kamil, akhirnya dimulai juga kuliah umum dari Kengo Kuma.

Kengo ternyata berpostur cukup tinggi, dengan setelan hitam-hitam. di awal kuliah kengo agak kesulitan menyesuaikan diri dengan remote control slide, dan anehnya background music dari shugo tokumaru masih berputar saat dia mulai kuliah hehe.

Kuliah umum

Bahasa inggris Kengo cukup baik dan bisa difahami, walaupun saya harus beradaptasi dengan logat jepangnya beberapa saat. Kengo membuka kuliah dengan menyatakan bahwa ciri dari arsitektur abad-20 adalah Internationality dan ciri arsitektur dari abad-21 adalah Locality (tanpa menyebutkan alasannya).  Lalu dia mulai menjelaskan satu persatu proyeknya, yang bisa saya catat dan ingat :

1. Water/glass house.

Terinspirasi oleh Bruno Taut, yang karyanya “bertetangga” dengan karya kengo kuma ini yaitu Atami Hyuga Villa. Bruno taut berkata bahwa : “the beauty of eastern architecture is the relationship between architecture and nature, not the shape” Kengo membuat hubungan yang erat antara lingkungan (air/langit) dan arsitektur dengan membuat dinding total dari kaca, arsitektur seperti melebur dengan alam, tidak menguasainya. penjelasan yang lengkap ada disini

2. Ando hiroshige museum

Rain on Travelers

Ando hiroshige adalah seniman lukis besar dari jepang, Frank Lloyd Wright adalah salah satu kolektor dari lukisan-lukisan hiroshige. ia menggunakan teknik “super juxtaposition” dalam menggambar, bukan dengan teknik “perspective” yang banyak di pakai orang barat. Super juxtaposition ini membuat gambar dalam layer-layer / lapisan-lapisan. kengo kuma mengadaptasi teknik hiroshige melukiskan hujan dalam gambar Rain on Travelers dalam bangunan dengan membuat dinding dan atap berupa garis-garis menyerupai lapisan hujan.

3. Adobe repository for wooden buddha

Penggunaan material adobe (tanah liat) yang diambil dari site sangat sustainable, karena tidak memerlukan pengangkutan, karena eksploitasi, dan pengolahan langsung dari site. Dan material ini bisa mengontrol kelembaban tanpa menggunakan pengatur udara buatan.

4. Lotus House

Menggunakan material batu bukan untuk elemen struktural, tapi untuk elemen screening. “nonmonumental and transparent ways of building with stone” katanya, merombak pemikiran lama bahwa konstruksi dengan batu adalah selalu masif dan berat.

5. Nezu museum

jalan omote sando

nezu museum

Nezu museum terletak di jalan omote sando, merupakan jalan yang ramai dan berisik, sehingga suasana sepi dan damai perlu di ciptakan. mengambil konsep roji yaitu sebuah konsep desain taman tradisional di jepang yang menarik pikiran dan perhatian dari dunia luar untuk mendapatkan ketenangan.

6. Asakusa tourist centre

asakusa temple

asakusa culture and tourist center by kengo kuma

Berbentuk atap pelana yang bertumpuk, mengorientasikan diri pada kuil di asakusa.

7. Great Bamboo wall house

great (bamboo) wall house

Sebuah proyek rumah tinggal yang berlokasi di dekat tembok besar cina. kengo kuma merespon secara simbolik tembok cina yang merupakan “pembatas” cina yang kokoh dan kuat kemudian melakukan kontras dengan material bambu yang ringan dan transparan yang menjadi “pembatas” rumah. Seluruh strukturterbuat dari bambu, budi pradono yang ditunjuk untuk menangani riset dan pemasangan bambu.

8. Yusuhara wooden bridge museum


Struktur terinsprasi dari jembatan kayu tradisional jepang.

9. Granada performing arts centre


Terinspirasi dari buah granada (delima) dan istana alhambra

10.   V&A museum dundee


Klien menginginkan “the bilbao effect” dari arsitektur ini, dapat dilihat dari bentukan massa bangunan yang mencolok. bangunan merupakan ruang publik yang fleksibel dan multifungsi. Seperti bangunan kengo kuma yang lain, dengan facad berupa tumpukan blok beton/batu yang tipis terlihat kengo kuma bermain dengan transparansi, ventilasi dan cahaya alami.

Kutipan

ada beberapa kalimat Kengo Kuma yang sempat saya kutip :

“Asian method of architecture : harmony between architecture and nature”

sama seperti pernyataan bruno taut, bahwa keunggulan dari metoda arsitektur asia adalah melakukan harmoni dan hubungan erat dengan alam, tidak menguasai alam seperti tradisi rasionalis dari barat.

“I don’t believe in drawing, because drawing is just a drawing”

merupakan pendapat kengo kuma dalam proses desain, dia tidak suka mendesain melalui gambar, karena gambar hanyalah representasi dua  dimensi dari bentuk arsitektur yang setidaknya 3 dimensi. Dia lebih suka bereksplorasi menggunakan model-model (maket).

“don’t cut the landscape, because it kills the nature”

sesuai dengan pelajaran ekologi yang didapat di kampus arsitektur

“architects give response/reply to the cultural questions, not making statements”

menggelitik, karena respon / reply terhadap budaya setempat pun bisa disebut statements bukan? mungkin maksudnya ditujukan pada arsitektur yang tidak peduli pada unsur lokal, dan menjadi alien di lahannya sendiri.

“green architecture kills locality”

pernyataan ini cukup menarik, mungkin kengo kuma menyatakan ini pada green architecture sebagai style, bukan sebagai esensi, atau mungkin juga pada arsitek-arsitek yang sok green, entahlah, karena gaya arsitektur dari kengo kuma sendiri pun sangat sustainable.

“doing cultural study by being friend with the locals, not studying the locals, collaborate with the locals”

studi tentang budaya lokal tidak bisa dilakukan hanya di ruang perpustakaan dan dari jarak jauh, tapi sebaiknya dari dekat dan melibatkan unsur lokal secara partisipatif.

selesai(?)

selesai? lho, sudah selesai? ternyata kuliah umum Kengo Kuma memang terbatas sekali waktunya hanya 2 jam, serasa belum dapat ilmu apa-apa, kentang. saya pulang dalam keadaan masih lapar dan haus, dan dari banyaknya kerumunan arsitek-arsitek yang masih berada di luar studio dan belum berniat pulang nampaknya mereka juga merasakan hal yang sama, semoga kuliah umum arsitek dunia berikutnya bisa lebih mendalam dan lama dan murah sukur-sukur gratis, amin hehe.

 


Tagged: arsitektur, events, jakarta, kengo kuma
November 26, 09:17 AM

komentar yang sangat menarik dari lebbeus woods, seorang arsitek yang berfokus pada ide-ide visionary, terhadap pemikiran Thom Mayne, pendiri studio Morphosis.

What’s on Thom Mayne’s mind these days? Better yet, what’s in it? The reason this matters at all is that he is one of a handful of architects working today who is building projects that are powerful visually and experientially, and are at the same time challenging in terms of the ideas that shape them. There is something to be learned from what he thinks and the way he thinks it. In his mid-sixties now and at what would seem the height of his car … Read More

via LEBBEUS WOODS


Tagged: arsitektur, morphosis, reblog, thom mayne
November 20, 04:56 AM

the xx - we are bored and lonely

jika kamu belum pernah mendengarkan / menyaksikan the xx, silakan saksikan videonya terlebih dahulu sebelum membaca tulisan ini.  oke, kalau kamu malas klik linknya, ini video the xx – crystalised (live)

sudah selesai? apa yang kamu pikirkan setelah melihat klip the xx diatas? yang saya pikirkan, mereka adalah sekelompok muda-mudi yang belum pernah main ayunan saat masi kecil sampe-sampe lupa caranya senyum. hehe  no, sebenarnya saya pikir mereka adalah musisi yang sangat brilian (umur mereka belum sampe 20an).  jujur saya engga pernah memperhatikan lirik yang mereka nyanyikan tentang apa, tapi secara musikal the xx sangat mencerahka despite musiknya yang moody dan gloomy. Karena jika diperhatikan, masing-masing pemain memainkan alat musiknya secara sangat sederhana seperti orang yang baru belajar main alat musik,  minimalis, tidak ada efek-efek yang dengan setting yang rumit, tidak ada skil virtuoso ala coltrane. mungkin buat yang belum pernah main alat musik sekalipun bisa mempelajari lagu-lagu dari the xx dalam satu malam saja(?).

eke gondrong, lihat solo gitar saya melolong - herman dragonforce

apa yang membuat mereka begitu spesial menurut saya, dan mengapa arsitek perlu belajar dari the xx? satu kata : komposisi!. dengan teknik dan gimmick yang minim, the xx memberikan musik yang penuh dan sangat keren. ternyata engga perlu gondrong mulet pake clana kinclong trus ngangkang di speaker sambil main solo-guitar melody ngabisin fret gitar ala dragonforce untuk menjadi cool,  ternyata engga perlu belajar matematika differensial seperti meshuggah atau medeski martin & wood untuk bikin komposisi brilian (2 band itu band2 fav saya juga though). the xx memainkan instrumen-instrumen sesuai dengan porsinya, tidak berlebihan bahkan cenderung minimal, melodi dari 2 gitar dibuat saling mengisi saut-menyaut, masingmasing instrumen memiliki ruang kosong untuk di isi oleh instrumen lainnya, tidak ada arogansi. bass dan beat drum machine yang dimainkan jari juga seperti kawin, satu entitas yang terdiri dari 2 komponen. dan secara keseluruhan musik dari the xx jg merupakan satu entitas, yang komponen-komponennya tidak bisa dipisahkan, memiliki ikatan kuat, saling mengisi.

arsitektur adalah bidang yang ambigu, antara seni dan teknik, antara kebebasan seni dan batasanbatasan teknikal ditambah didalamnya terdapat aspekaspek ekonomi, sosial, budaya bahkan politik dan ideologi. akibatnya tidak ada kebenaran atau kesalahan yang mutlak dalam arsitektur. yang menjadi ukuran adalah kesungguhan dan kerja keras si arsitek terhadap konsep yang di usungnya. Luasnya perhatian dari arsitektur itu memunculkan banyak konsep, filosofi, dan cara dalam berarsitektur dari waktu ke waktu, dan salah satu konsep itu adalah “architecture is a ‘frozen music’..” yang dikatakan oleh  Johann Wolfgang von Goethe. menggambarkan adanya hubungan kuat antara musik dan arsitektur, dan tentu saja prinsip-prinsip komposisi diantara kedua bidang tersebut menjadi saling berkesesuaian.

Komposisi dari the xx  dapat disandingkan dengan kata minimalis, yaitu melakukan substraksi pada tiap elemen dalam komposisi ke unsurnya yang paling sederhana namun tetap memberikan efek yang sebesar-besarnya dari kesederhanaan itu. dalam arsitektur kata minimalis sudah jamak, bahkan cenderung banal, terutama dalam publikasi hunian-hunian komersial yang hampir selalu berpromosi dengan kata “modern minimalis”. Lalu minimalis yang seperti apakah yang dimaksutkan?

i'am not don corleone you foo - mies van der rohe

Dalam arsitektur, ‘minimalis’ hampir selalu di kaitkan dengan mies van der rohe yang terkenal dengan jargon “less is more”. Semua tentu sudah mengerti sosok mies van der rohe, yang sedikit diketahui adalah bahwa dia cenderung sebagai “builder” daripada “theorist”, dia anak seorang tukang yang sangat dekat dengan material semenjak kecil, arsitekturnya pun lebih cenderung pada pemahaman dan penggunaan material. Dalam pemahaman saya mies ingin mengembalikan arsitektur pada hakikatnya, arsitektur sebagai arsitektur, bukan arsitektur sebagai deretan simbol/ide. Sebelum mies, di dunia barat arsitektur adalah seperti deretan simbol/ide, representasi dari sebuah ide (garis bawahi representasi), dan kebanyakan merupakan ide-ide borjuis yang tidak sesuai dengan jaman itu (jaman mies adalah jaman pasca perang dunia kedua dimana negara-nagara eropa dilanda defisit karena perang ). Contoh yang di maksut dengan gagasan-gagasan borjuis itu adalah :

Villa Rotonda oleh Andre Palladio 1580

i'm beatiful no matter what they say, they cant bring me doown - villa la rotonda

Cannon Paolo Almerico seorang pengusaha terpelajar di itali memerintahkan andrea palladio seorang arsitek neoklasik untuk mendesain sebuah rumah untuk peristirahatan di pedesaan. Andrea palladio yang terpesona dengan arsitek roma kuno, membangun sebuah rumah yang memberi kesan “bangsawan”. Rumah yang berdiri tegak ditengah padang hijau, dengan kolom-kolom doric yang kokoh, dengan patung-patung tokoh dewa-dewa pada mitologi romawi.

Arsitektur seperti diatas merupakan representasi dari nilai-nilai, nilai kebangsawanan, nilai kekuatan danlainsebagainya yang (lebih sering) berlawanan dengan kondisi sebenarnya. Hal ini tidak disukai oleh mies, karena selain tidak sesuai dengan kondisi saat itu ( pasca perang dunia I ), arsitektur tidak mewujud sebagai arsitektur itu sendiri, namun hanya sebagai representasi nilai.

Karena itu, mies menciptakan arsitektur yang mereduksi semua ornamentasi ke elemen-elemen yang mendasar dari arsitektur, yaitu bidang dan garis, dan menggunakan material-material kontemporer yang muncul pada jaman itu yaitu baja, beton, dan kaca.  Salah satu pencapaian terbesar mies adalah :

Farnworth House, mies van der rohe 1951

i feel naked, i feel gooood - farnworth house

Farnworth house adalah rumah tinggal untuk seorang dokter wanita di amerika (gossipnya ada affair antara mies dengan dokter ini, karena mereka berdua kabarnya sering berkemah berdua di pinggir sungai dekat dengan lokasi rumah ini, walaupun sulit dibayangkan mies yang saat itu sudah berumur 50 tahun  lebih, gendut dan keriput, bercengkerama dengan seorang dokter wanita di dalam tenda, ewwww hehe). Elemen-elemen komposisi farnsworth house sangat simple, hanya menggunakan bidang dan garis, dinding tidak struktural maka seluruhnya diganti dengan kaca agar memperkuat kesan ringan. Namun walaupun dengan komposisi yang striped-down to the basic itu farnworth house terasa layaknya modern-day-temple karena ada kualitas suci, flawless dan  pristine,  tanpa memberikan banyak simbol-simbol, bahasa yang digunakan benar-benar bahasa arsitektur, arsitektur sebagai seni meruang, bukan sekedar representasi nilai. Farnsworth house tidak berdiri sendiri di sebuah lahan hijau, ia menyatu dengan tapak, bahkan mendefinisikan tapak. Menjadi sebuah bingkai dari pepohonan dan alam sekitar, alam yang tadinya hanyalah alam liar, terdefinisi dan terbingkai menjadi sebuah karya seni yang indah dengan adanya farnsworth house ini. Ada 4 kata yang mewakili desain minimalis dari mies yaitu : simplicity, monochromatic, lightness, dan transparency.

simplicity, monochromatic, lightness, dan transparency,  4 kata itu mengembalikan fokus arsitektur kepada ruang, mengembalikan perhatian pada space/kekosongan yang diwadahi oleh struktur dan pelingkup, penyederhanaan struktur dan pelingkup menciptakan rasa bahwa ruang dan kekosongan itulah yang utama, bukan bangunan yang sebenarnya hanya batas-batas yang mendefinisikan ruang.

Selain mies, le corbusier dan pionir-pionir arsitektur modern dari eropa, arsitektur dari jepang juga banyak yang menawarkan ide simplicity, monochromatic, lightness, dan transparancy ini. Contohnya adalah tadao ando, toyo ito (walau sering berubah konsepnya), SANAA, dan masih banyak arsitek jepang lainnya.  Ini disebabkan gagasan mengenai ruang dan kekosongan memang dekat dengan filosofi timur yang berkembang di jepang yaitu zen. Dalam filosofi zen “nothing” atau kekosongan merupakan hal yang utama, sehingga penghargaan terhadap, ruang, kosong bukan hal yang asing bagi masyarakat jepang.

The xx dan mies mengingatkan saya mengenai keutamaan space/ruang. Sebagai mahasiswa arsitektur yang sehari-hari dikejar dengan aspek fisik dan teknikal dari arsitektur jangan lupa akan keutamaan ruang ini, bahwa kita juga harus banyak belajar merasa, dan mengerti mengenai arti ruang, dan berusaha mendefinisikannya dengan cara kita sendiri, jangan hanya menjiplak yang telah mies, ando, lakukan. karena menurut saya, pencarian akan ruang-lah yang utama dalam arsitektur.

Thirty spokes converge upan a single hub;

It is on the hole in the center that the porpose of the axle depends

we make a vessel from a lump of clay;

It is the empty space within the vessel that makes it useful

We make doors and windows for a room;

But it is these empty spaces that make the room habitable

Thus, while the tangible has advantages;

It is the intangible that makes it useful

Lao tzu (550 S.M)


Tagged: arsitektur, mies, personal, the xx, thoughts, zen
November 11, 08:15 AM

Beberapa bulan belakangan orangorang heboh dengan adanya iPad, yang fungsi utamanya adalah untuk membaca ebook + multimedia. sebelum ada iPad, amazon sudah meluncurkan Kindle yang khusus untuk membaca ebook, amazon tentu saja ketarketir dengan adanya Apple iPad, diluar apapun produknya, Apple telah memiliki umat yang fanatik, bahkan replika upil steve jobs pun akan rela diantri berminggu-minggu. Dan kenyataannya memang iPad jauh lebih menarik daripada Kindle, dengan layar multi-touch, full colour, ratusan ribu aplikasi dll. dimana Kindle dengan harga tidak terpaut jauh dengan iPad, masih hitam putih dan bukan layar sentuh, memang kindle fokus pada kenyamanan membaca ebook dengain e-ink yang walau hitam-putih diklaim lebih mudah dibaca, bukan multifungsi untuk segala macam seperti iPad. Namun, nevertheless munculnya iPad membuat Kindle meluncurkan produk terbaru yang lebih terjangkau daripada iPad yaitu Kindle 3 dan aplikasi kindle gratis yang bisa dibuka di berbagai platform media (win,mac,android,blackberry,etc). Persaingan antar ebook reader bukan dimonopoli oleh iPad dan Kindle saja masih ada Nook dari Barnes & Noble, Sony ebook reader dll.. Fenomena banjir ebook ini juga diikuti dengan format perilisan tulisan baru. Entah amazon / borders -saya sedikit lupa- menciptakan peluang untuk penulis, merilis tulisan pendeknya dalam bentuk ebook, dan dijual secara online di tokobukuonline mereka.

lalu bagaimanakah nasib buku konvensional?
Buku konvensional menawarkan pengalaman kognitif secara lebih penuh. indera penglihatan, pendengaran, pencium, peraba semua mendapatkan bagian. Buktinya, [1] penglihatan; buku konvensional menggunakan media kertas yang jenisnya mencapai ratusan, berbeda dengan ebook reader yang menggunakan satu layar LCD untuk semua buku. jenis tinta cetakan misal doff/spot uv dll., membuat pengalaman visual buku konvensional lebih kaya. [2] penciuman; secara ritual hal pertama yang saya lakukan saat membuka buku baru adalah mencium kertasnya; karena perbedaan tinta, kertas, penyimpanan dan umur buku, bau yang muncul selalu khas dan berbeda-beda di tiap buku. [3] pendengaran; selain meberi aroma khas, jenis kertas pun akan menentukan suara yang distingtif saat kita membuka lembar-demi lembar buku tersebut. [4] peraba; sudah jelas buku memungkinkan adanya tekstur yang bermacam-macam, ada pengalaman tertentu saat kita membuka halaman tiap halaman dari sebuah buku. dan lagi membaca buku saat be’ol jauh lebih aman daripada membawa ebook reader ke toilet

Personally, memandang tumpukan buku di rak itupun sudah menenangkan hati meski kita belum membacanya, karena masing-masing buku memiliki sejarah tersendiri ( tempat dan waktu membeli, pemberian, kejadian yang teringat dll). Ada perasaan tamak yang terpuaskan bahwa di rak buku saya, terdapat seluruh pengetahuan di dunia, dan semua ada dalam raihan tangan. mungkin perasaan itu sama dengan gober bebek yang suka berenang di tumpukan uang koleksinya. Lalu seiring dengan dibacanya buku, jejak kita pun menyatu dalam tiap lembarnya; misal goresan stabilo, noda minyak dari jari kita, tetesan liur, rontokan bulu, daki dll. membuat ikatan tersendiri antara buku dan diri kita, semakin sering kita membacanya, semakin personal pula ikatan antara kita dan buku yang kita baca. Pengalaman kognitif yang personal itu yang tak dapat digantikan oleh keberadaan piranti baca digital seperti kindle, ipad, nook dan lainnya.

Namun sepertinya pengalaman membaca buku ini sepertinya segera menjadi kemewahan. Seperti kita tahu buku / kertas berasal dari kayu yang keberadaannya semakin berkurang, dengan berbagai sustainability issues jaman sekarang yang bukan mitos lagi, penggunaan bahan mentah kayu untuk pembuatan buku tentu saja segera dibatasi. Sebagai respon kini beberapa penerbit mulai menggunakan kertas daur ulang dalam cetakannya, kantor kantor menggalakkan policy no paper office dlsb. Jadi dapat diprediksikan (mungkin) beberapa saat mendatang harga-harga buku akan melonjak dan piranti baca digital akan lebih banyak digunakan. Keberadaan buku analog (cetak) dan buku digital tidak saling mengalahkan. karena ada fungsi tersendiri dari masing-masing bentuk tersebut.

Mumpung harga belum naik, mari beli buku sebanyak-banyaknya. rawat buku-buku yang sudah kita punya. Jangan lupa untuk menagih buku-buku yang kita pinjamkan, dan sediakan rak yang memadai untuk koleksi bukubuku kita, trus nabung buat beli digital ebook reader (rakus)


Tagged: books, greed, personal, thoughts
November 10, 05:07 PM

Kuliah di arsitektur itu mirip bekerja jadi pelayan di sop ikan makbeng saat peak season, dengan tugas-tugas yang hektik, timbunmenimbun, tidak memberi kesempatan untuk bernafas dan tersenyum jujur, yang ada senyum keki dan encok pegel linu. Ya memang tugastugas itu melatih mahasiswa untuk siap didunia nyata yang jauuuuh lebih keras tantangannya. Tapi, sejauh pengalaman saya kuliah (believe me, saya sangat berpengalaman kuliah), tugas bertubitubi itu menimbulkan disorientasi belajar, belajar bukan mengejar ilmu pengetahuan tapi mengejar nilai dan target, membuat praktikpraktik pragmatis lazim dilakukan mahasiswa, sikut sanasini, copypaste, tugas yg turun temurun, u name it. Dan pada akhirnya yang paling dikuasai oleh mahasiswa adalah trik pragmatis untuk mencapai target itu, yang terbawa di dunia kerja, dan akhirnya kampus melahirkan mesinmesin pengejar target, bukan arsitek (aga lebay, tp lumayan bener kan?).

ada sebuah artikel yang menyatakan bahwa melamun itu tidak sepenuhnya buruk. Menurut saya, mahasiswa arsitektur perlu diberi waktu untuk melamun. Melamun adalah saat untuk mencerap, mengendapkan, menyatukan apa-apa yang dipelajari, dan juga berfantasi. Kalau diluar jam kuliah tentu saja sulit, karena pasti mahasiswa memilih melakukan kegiatan non-akademis, non-kampushit yang lebih seru dan asyik. Jadi saya usul untuk minimal ada 3 sks untuk mata kuliah melamun. Di mata kuliah ini mahasiswa wajib meninggalkan segala pikiran-pikiran akan tugas, menenangkan diri, merenung, melamun, merasakan kehidupan disekitar yang terlewat karena kesibukan, kuliah mungkin 80% outdoor, memperhatikan lingkungan sekitar, hal-hal sederhana yang jika diperhatikan sangat inspiratif. Menjadi sadar, belajar merasakan.

Ingat, sebelum eksploitasi rasio dan intelektual akibat dari humanisme, arsitek (pembangun) tradisional adalah semacam dukun/orangpintar/shaman yang menjadi penghubung antara tanah, alam dengan manusia yang akan tinggal di tempat itu, melalui doadoa, prosesi, sesaji, ilmuilmu geomancy sedemikian rupa menyamakan “frekuensi” calon penghuni, material bangunan, dan alam sekitar sehingga terjadi sinergi, hidup bersama secara seimbang. Untuk menjadi “orangpintar” tentu butuh kepekaan tersendiri, mampu merasakan halhal yang tidak dirasa oleh orang biasa, yang dilatih melalui lakulaku tertentu dan disiplin spiritual.

Menurut saya arsitek harus menyelami dan mempelajari kepekaan ini kembali, tidak melulu dikejar nilainilai humanisme yang ternyata memiliki dampak negatif terhadap alam sekitar, misal : melalui eksploitasi alam berlebihan dan pandangan yang antroposentris. Kepekaan terhadap alam sekitar menimbulkan rasa hormat terhadap lingkungan dimana manusia hidup, lingkungan adalah sahabat yang hidup bersama kita, lingkungan bukan panggung sandiwara manusia, tapi mereka juga aktoraktor dalam sandiwara yang memiliki peran aktif, bukan hanya latar.

Now, let’s daydreaming and save the world

*nb : sebenarnya istilah menyelamatkan dunia itu menyesatkan, karena sebenernya dunia baik-baik saja dengan atau tanpa campur tangan kita, kita hanya ingin menyelamatkan diri kita sendiri, namun memberi istilah menyelamatkan dunia agar terkesan lebih heroik mungkin haha


Tagged: arsitektur, kuliah, melamun, personal, thoughts
October 02, 09:39 AM

via asylum


Tagged: pics, snake
June 21, 05:38 AM

Sewaktu saya kecil saya dibelikan buku ensiklopedia berseri oleh ayah saya.Saat itu harga ensiklopedia cukup mahal,jadi ayah saya sangat berwanti-wanti untuk menjaga buku-buku itu agar tidak rusak, dan kami (saya dan adik saya) selalu membacanya dengan hati-hati.

Ensiklopedianya bagus (mungkin karena gak ada pembanding ya, hehe) gambar2 yang besar, dengan bahasa yang bisa difahami. Bagian favorit saya adalah bagian astronomi sementara bagian favorit adik saya adalah fauna. Dan itu terbawa sampai sekarang, adik saya lebih suka nonton animal planet, sementara saya lebih suka bbc knowledge yang banyak astronominya hehehe. Anyhow, akibat buku itu saya menjadi stargazer sewaktu kecil, suka sekali melihat bintang di malam hari, sungguh indah, sunyi dan damai, serasa rumah saya adalah disana, diantara bintang. Apalagi waktu itu saya masih tinggal di kota kecil,  polusi cahaya cukup minim, bintang-bintang sungguh cerah dan mudah dilihat. Sangat banyak pertanyaan saya mengenai bintang-bintang saat itu, mengapa mereka bisa mengambang? mengapa bintang tidak jatuh? lalu ada apakah di dasar angkasa?

Kesukaan saya pada astronomi dipuaskan oleh film-film sci-fi seperti star wars dan star trek, (lebih into ke star trek sih,  karena ada makhluk bernama borg )

Ya.. Cinta pertama saya pada kosmos

Lalu smp-sma kesukaan saya pada astronomi teralih oleh musik dan teenage angst, hehe (weezer, deftones, korn, depeche mode, placebo, marilyn manson, nine inch nails, white zombie bertanggung jawab atas masa remaja saya) a proud self proclaimed gothgeek at the time haha. Mungkin karena pelajaran fisika yang melulu rumus-rumus teoretis tanpa penjelasan praktis yang seru dan menyenangkan membuat saya enggan belajar dan memilih untuk mendengarkan walkman di ujung ruangan.

Awal kuliah pun begitu, saya berkutat dengan diri saya sendiri (mungkin sampai saat ini sebenarnya), dunia musik dan arsitektur bersaing dalam diri saya saling berebut perhatian.

Ada satu titik pada awal kuliah arsitektur saya yang cukup menyita perhatian yaitu mengenai adanya Proporsi Golden Section/Goden Ratio pada pelajaran Pengantar Arsitektur, yaitu sebuah sistem proporsi yang ditemukan pada bentuk-bentuk pentakel/pentagon, bentuk-bentuk alami (daun, kerang, manusia) yang konsisten, golden section itu secara matematis pun menghasilkan deret fibonacci yang irasional. Golden Section ini pada masa yunani kuno bahkan sebelumnya dianggap sebagai proporsi Tuhan dalam penciptaan, sehingga produk-produk seni dan arsitektural pada saat itu banyak menerapkan proporsi tersebut. Rumus golden section adalah :

ini menarik, karena Golden Section/Golden Ratio itu menjadi seperti “jembatan” dari dunia science dan art.  Sesuai dengan minat saya pada arsitektur dan musik, ternyata keduanya bisa dihubungkan karena proporsi itu bekerja sekaligus pada musik maupun pada arsitektur. Sebagian orang berpendapat bahwa peran golden section dalam kehidupan terlalu dilebih-lebihkan, silahkan menurut anda bagaimana?

Hal ini membuat saya kembali tertarik dengan fisika dan matematika, ketertarikan ini membawa saya kepada Neils Bohr, seorang ilmuwan denmark yang mendirikan sebuah lembaga penelitian  untuk fisika kuantum, yaitu kajian fisika mengenai hal-hal yang sangat kecil (kebalikan dari kosmos, kajian fisika mengenai hal-hal yang sangat besar).

Perilaku entitas-entitas subatomic yang diluar nalar manusia, memiliki sifat-sifat cahaya maupun partikel sekaligus, menjadi subjek pemikiran yang menarik. Pemikiran2 fisika yang lama dijungkirbalikkan, bahkan Einstein hingga meninggal pun masih tidak setuju dengan teori komplementarisme dari Bohr.

Hingga kini penelitian mengenai partikel-partikel subatomik ini masih dilakukan. Secara teoritis dengan adanya Theory of Everything yang akan menggabungkan teori-teori kosmos dan kuantum menjadi satu. Secara eksperimental dengan adanya CERN dengan Large Hadron Collider-nya yang salah satu tujuannya meneliti keberadaan partikel Higgs-Bosson yang saat ini hanya eksis dalam bentuk teori saja.

Bukankah ini sangat indah?

Pencarian manusia yang tiada henti akan eksistensi kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung habis, batas-batas yang semakin tidak jelas antara filsafat, ilmu pengetahuan (science), dan seni.

Sungguh kurang beruntung manusia yang hanya berpikir dari satu perspektif saja (perspektif manusia).

Coba teroponglah ke ruang angkasa, diantara bintang-bintang, galaksi, alam semesta, betapa kecil kita ini, kita seperti debu di tepi lautan yang luas, betapa tak berdaya manusia dibandingkan dengan kosmos.

Coba teropong dengan mikroskop elektron, keberadaan partikel2 sub-atomic pada barang-barang di sekitar kita. ternyata di dalam sana, tidak ada sesuatu yang padat! Partikel2 itu bergetar seperti dawai yang dipetik. Berputar-putar dengan kecepatan mendekati cahaya. Seperti ada alam semesta renik tersendiri di dalam sana.

Nafas saya tercekat menyadari hal-hal ini, kenyataan itu ternyata lebih keren dari film-film sci-fi


Tagged: personal, thoughts
April 28, 01:48 PM

Malam ini saya membuat riset mengenai arsitektur vernakular,  saya menemukan sebuah blog yang menceritakan mengenai sebuah desa adat di garut bernama kampung dukuh yang keseluruhan rumah di desa tersebut selamat dari gempa beberapa waktu lalu. Sementara desa-desa sekitar mengalami kerugian karena beberapa rumah runtuh.

Sebagai persayaratan agar tetap dapat tinggal di kampung dukuh, harus mau membangun rumah dengan cara tradisional turun temurun. Yaitu dengan struktur kayu yang saling mengunci, siku-sikunya dikencangkan menggunakan pasak, dan dindingnya menggunakan anyaman bambu (gedek).

Dikutip dari blog tersebut :

Kuncen (juru kunci) Kampung Dukuh, Lukman Hakim, mengatakan, kerangka rumah warga adat memang hanya menggunakan kayu dengan dinding anyaman bambu (gedek) serta atap anyaman ilalang.

“ Itu adalah tradisi turun-temurun Kampung Dukuh. Warga adat yang masih mau tinggal di wilayah adat hanya boleh membangun rumah seperti itu, “ Secara turun-temurun diajarkan pula, rumah panggung dengan tulang kayu, dinding anyaman bambu, dan atap anyaman ilalang itu merupakan cara warga adat untuk hidup sederhana.

Bentuk dan tipe rumah di sini hampir sama. Itu mengajarkan kepada kami untuk tidak saling iri karena semua sama sederhananya. Di dalam rumah juga tidak banyak isinya, “ tutur Lukman.

Pasted from <http://hagemman.wordpress.com/2009/09/18/kearifan-lokal-selamatkan-kampung-dukuh/>

Pernyataan yang dicetak tebal menuturkan adanya keseragaman, kerendah hatian, kesederhanaan yang dipelihara di kampung dukuh tersebut, yang membuat desa tersebut selamat.

membuat saya bertanya,, keseragaman, homogenitas, itu menawarkan kerendahan diri, perasaan senasib, persatuan. Namun dilain pihak, tentu saja keseragaman itu menekan individualitas dimana manusia itu lahir memiliki ego berbeda satu sama lainnya. Sebagai manusia yang mempunyai free will tentu kita ingin bebas, tapi nyatanya kita tidak, seperti contoh diatas, yang menahan kebebasan individunya, menuruti ketentuan turun-temurun secara adat, malah selamat dalam bencana.

Sadar atau tidak sadar kita hidup dalam ketegangan-ketegangan, tarik-menarik antara keinginan dan kewajiban, kebutuhan pribadi atau kebutuhan keluarga, ego dan norma. Yang selalu dikeluhkan tiap harinya, namun sebelum kita lanjut mengeluh, sejenak dipikirkan apa artinya kita tanpa ketegangan-ketegangan itu, peperangan yang kita hadapi setiap harinya didalam hati dan pikiran kita (yang menurut saya lebih penting daripada perang manapun) adalah esensi kehidupan yang harus kita sadari dan kita syukuri, tanpa ada peperangan dan ketegangan, kita hanyalah batu, mati.

Ketegangan itu seperti layaknya senar pada gitar, gitar baru akan bernada jika dawai tegang tertarik kencang, dan nada-nada itu jika dimainkan bersama akan menjadi harmoni, the life itself.

Maap kalau terlalu serius hehe, ngigooo kali


Tagged: personal, thoughts
January 22, 03:52 AM

Bagi sekelumit orang issue ini mungkin sudah basi. Tapi saya tergerak untuk menulis karena baru bener-bener saya rasakan belakangan dan saat ini ibu saya sedang berbelanja dan saya gak ada kegiatan lain selain liat orang-orang lalu lalang di mall ini,mending ngetik-ngetik aja.

Ya, Jakarta begitu menyeramkan bagi saya. Mengapa? Karena keinginan saya untuk berlibur bersama kekasih di Jakarta (hometown saya di semarang) akhirnya menjadi tour dari mall ke mall, karena sulitnya mendapatkan public space yang menyenangkan ( gratisan) – ataukah memang deep inside saya adalah mallrats yang pengennya ke mall, hehe entah juga – membuat saya merenung. Menyadari bahwa saya dikelilingi oleh zombie-zombie yang tidak sadar akan ke-zombie-annya sendiri, seperti bruce willis yang gak sadar kalau dia sudah menjadi hantu sampe akhir film di sixth sense. And yet, maybe I’m one of the zombie horde too.

Kami berjalan dari mall ke mall seperti pengembara, memandang pekerja-pekerja, ibu-ibu, anak sma, kakek-nenek, yang bergerak teratur dari counter ke counter, dari lantai ke lantai, memandangi telpon selular di eskalator, menatap laptop di kafe, mangambil atm, menelfon sambil jalan, mata-mata yang terhipnotis oleh gemerlap etalase. Seperti selalu mencari sesuatu, sesuatu yang belum tentu mereka butuhkan. Layaknya zombie b-movie yang selalu lapar, tak pernah puas. Adalah sebuah gaya hidup konsumerisme yang didukung penuh oleh kapitalisme global. Mereka nampaknya tidak sadar jika hal itu memang dikondisikan. Mengutip pernyataan yang memlesetkan ujaran Descartes “aku berbelanja maka aku ada” (McKendrick,1982) mendeskripsikan gerombolan zombie ini. Gelombang kapitalisme memang tak mungkin untuk dihindari. Semua aspek kehidupan dapat dikomodifikiasi menjadi produk-produk memanja. Melepaskan diri dari sistem konsumerisme seperti melawan daya gravitasi, nyaris tidak mungkin. Siapa si yang nggak mau dimanja? Dibuai? Banyak yang sadar akan komodifikasi dan labirin konsumerisme ini, tapi mereka tetap membiarkan diri terbawa arus gelombang fantasi yang memang melenakan, membutakan – ya lagi-lagi termasuk saya.

Cerdasnya, kapitalisme mampu melihat celah sekecil mungkin untuk dijadikan peluang. Diantara celah itu adalah waktu luang. Komersialisasi waktu luang terlihat begitu gamblang. Iklan televisi bertubi-tubi mengisi jeda acara, public space yang dapat dinikmati secara gratis pun nyaris tak tersedia, billboard-billboard raksasa menemani yang melamun terkantuk di passengers seat. Terjadi indorisasi, ruang terbuka terkikis oleh hunian vertikal dan shopping mall. Alih-alih berkumpul dengan tetangga, warga Jakarta memilih untuk berjalan-jalan di labirin konsumerisme shopping mall yang memabukkan. Terhipnotis, lalu berbelanja hal-hal yang belum tentu dibutuhkan, membelanjakan makanan yang 5x lipat harga di luaran. Ketika uang habis, pulang.

Public space yang ada pun kehilangan fungsinya sebagai ruang sosialisasi, terutama dengan tersedia fasilitas wifi, orang-orang cenderung membuka laptop atau blackberrynya kemudian bersosialisasi dalam public sphere (habermas, 1960) seperti situs-situs social networking, blogs, milis, forum dll. (IGO anyone?kwkwkw), ketimbang bergaul dengan manusia lain di tempat tersebut. Public space menjadi tempat berkumpul individu-individu yang tidak saling berinteraksi. Menimbulkan gejala baru yaitu ketergantungan pada layar. Layar televisi, hp, computer, laptop, atm, bioskop, dll. Ruang dimana kita berada menjadi tidak terasa nyata, ruang lebih terbentuk pada proyeksi layar-layar tersebut, Kehidupan sosio-kultural menjadi beralih ke ruang-ruang virtual yang ideal (baca bukunya pak piliang mengenai layar, membahas ini sampai tuntastastas-penulis)

Bodohnya, stakeholder (pengembang dan pemerintah) tidak pernah berpikir panjang. Semua kebijakan dibuat untuk memperkaya diri sendiri dan kebutuhan-kebutuhan jangka pendek, kebijakan-kebijakan pun cenderung reaktif tanpa perencanaan matang. Proyek yang direalisasikan adalah yang membawa keuntungan besar, public space yang tidak menghasilkan uang diruntuhkan. Sehingga selamat! Jakarta menjadi kota mall! Dikatakan “ketika mall menggantikan ruang public sebagai tempat bertemu warga, maka kota telah menunjukkan gejala kota sakit” (halim,2008). Keberadaan mall yang berlebihan jumlahnya di Jakarta ini memperparah kesenjangan sosial. Warga kaya dan miskin kehilangan tempat berinteraksi (pasar tradisional misal, masih memungkinkan adanya interaksi tawar-menawar, dan lebih plural penjual dan pembelinya). Timbul kecemburuan sosial dimana warga miskin tidak mampu untuk berbelanja di mall, dan mereka kehilangan tempat untuk berbelanja dan berjualan (pasar tradisional semakin tergerus oleh karfur,hypermart, bahkan pemain lokal seperti indomaret dan alfamart menusuk ke tiap sudut – teman saya sampe curiga kalau indomaret dan alfamart sebenarnya adalah invasi alien berkedok mini market untuk menguasai bumi*d’oh), bukan hanya tempat belanja, tempat tinggal pun digusur demi proyek-proyek superblok. Pemerintah nyaris tidak menganggap warga miskin itu ada, hingga tersingkir ke ruang-ruang sisa (bantaran sungai, kolong jembatan, kolong jalan layang), rusunawa/rusunami pun setengah-setengah dilaksanakan, benar-benar tidak termenej. Interaksi antara warga kaya dan miskin secara ekstrim hanya terjadi pada jendela mobil, dimana si miskin meminta-minta dan si kaya was-was akan ancaman kriminalitas. Polusi, kemacetan, banjir yang dipengaruhi oleh pembangunan juga menambah pelik pelipurlara permasalahan.

Diawali dengan runtuhnya kuasa sosialisme pada akhir 90-an membuat faham kapitalisme merasa menjadi pemenang. Menjadi ideologi sahih yang dipercaya membawa kemakmuran. Amerika menjadi kiblat. IMF,WTO tumbuh menjadi taring sang predator. Mengarahkan manusia pada Ketamakan, ya Ketamakan dengan K besar,
Kapitalisme = Ketamakan,
Kapitalisme Global = Ketamakan Mendunia.
(gak heran juga di oprah sering dibilang, obesitas adalah penyakit momok nomer 1 amerika, rakus sih bo –generalisasi bodoh. Maaf.Hehe)
Pemerintah tentunya tidak sempat berpikir pentingnya kenyamanan warganya, tentu lebih utama pundi-pundi uang yang mengalir ke brankas jika ada proyek mall dan sejenis dibandingkan proyek penghijauan kota dan public space yang bisa dinikmati warga secara gratis – yang dianggap kurang menguntungkan tentunya.

Dikatakan lagi bahwa “hubungan sosial warga dengan segala keragamannya adalah intisari kehidupan sebuah kota” (halim,2008).

Kota yang baik adalah yang membahagiakan warganya. Kebahagiaan tidak dapat diukur dengan pendapatan perkapita, melainkan juga mencakup mental-spiritual. Kapitalisme global membuat takaran kebahagiaan melulu materi. Dan kita kita disetir menuju itu. Yang kelama-lamaan akan mereduksi ketahanan dan kemampuan jiwa manusia menjadi jiwa-jiwa manja yang ingin serba instan dan pragmatis – lihat penghuni Axiom di film Wall-E, generasi pemalas yang dimanja teknologi, gak beda jauh dengan seonggok daging glonggongan. Itu baru dilihat dari segi manusianya. Belum lagi segi lingkungan alam yang terperkosa, rusaknya equilibrium Gaia. Perancangan anthroposentris terbukti malah menjerumuskan manusia. Alam menjadi murka. Saya percaya akan sifat reflektif dari alam, ketika kita memperlakukan dia dengan buruk, dia akan memperlakukan kita dengan buruk. Jika kita memperlakukan dia dengan baik, dia akan memperlakukan kita dengan baik pula. Builder seharusnya adalah bak seorang shaman, mampu berdialog secara intersubjektif dengan site tempat ia membangun maupun dengan klien, merupakan penghubung keinginan dan kebutuhan site, klien, dan dirinya sendiri. Mampu menyamakan frekuensi sehingga tidak ada pihak yang dirugikan dan rusak keseimbangannya secara fisik, maupun mental-spiritual. Alih-alih, perhatian stakeholder pada kebahagiaan manusia saja belum utuh, apalagi pada alam, makin jauh terlupakan..

Setiap senin dibacakan,

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia….

Sudah lupakah kita?

Kini Jakarta pelahan hilang jiwanya..

artikel ditulis di notes facebook, ahir 2008


Tagged: jakarta, mall, personal, thoughts
January 22, 03:47 AM

luigi russolo

Apa yang kalian ketahui mengenai noise music? Saya yakin sebagian dari kalian akan memikirkan Sonic Youth, Swans, atau Pixies, yang muncul seiring dengan membanjirnya music berlabel grunge yang dibawa oleh Nirvana, Pearl Jam, dan Soundgarden pada tahun 90-an di indonesia. Bila kalian mengira noise music adalah mereka, kalian salah (walaupun tidak salah sepenuhnya). Sejarah dari noise music muncul jauh sebelum mereka. Berbagai sumber mengatakan bahwa orang yang mulai menganggap noise sebagai musik adalah Luigi Russolo.

Lahir di Portogruaro pada 30 April 1885. Datang dari keluarga musik dan sangat serius untuk menjadi musisi. Ia kemudian pindah ke Milan pada tahun 1901 dan belajar seni di Accadaemia di Brera. Russolo aktif sebagai pelajar seni dan ikut ambil bagian dalam restorasi lukisan Leonardo Da Vinci – Last Supper di Santa Maria delle Grazie.

Kemudian ia bergabung dalam gerakan Futurist. Dan menyelami dunia suara melalui puisi. Ia ingin membuat sesuatu terhadap musik seperti apa yang telah dibuat oleh F.T Marinetti (seorang tokoh Futurist) terhadap puisi. Dan pada tahun 1913 ia mengerbitkan sebuah tulisan yang berjudul L’arte dei rumori atau The Art Of Noise

“Kehidupan masa lalu kesemuanya adalah keheningan. Pada abad ke-19, dengan ditemukannya mesin. Noise dilahirkan. Saat ini noise menguasai akal sehat manusia”.

Ia juga mempercaya bahwa irama dan nada telah ditetapkan semenjak awal sejarah, dan komponen yang kompleks seperti poliphony (banyak nada yang dimainkan secara bersamaan) adalah cara manusia untuk menambah kemajuan dari musik. Dalam perkembangannya musik telah mencapai kerumitan yang luar biasa. Dan Russolo menyimpulkan bahwa penggabungan noise ke dalam bahasa musikal ada langkah selanjutnya yang logis untuk menambah perkembangan dari musik. Ia kemudian menulis lagi

“Kita seharusnya membongkar kungkungan suara ‘musik yang murni’, dengan menguasai suara-suara noise yang tidak terbatas.. biarkan diri kita mengembara melalui kota-kota modern dengan telinga yang dipertajam, bukan dengan mata kita, nikmati perbedaan suara air, udara, atau gas di pipa-pipa metal, suara deru motor (yang bernafas dan bergetar seperti binatang), katup-katup yang bekerja, dentum piston, deru gerinda, berisik rel kereta, bendera dan kain yang melambai. Kita seharusnya menikmati orkestrasi bantingan pintu, gemuruh manusia, hiruk pikuk setasiun kereta, tambang, mesin cetak, dan pembangkit listrik”

Seiring dengan manifestonya, Luigi Russolo menciptakan sebuah alat yang bernama Intonarumori. Yaitu sekelompok akustik noise generator dengan bebagai kategori yang terpisah.

Intonarumori

Intonarumori

Setiap instrumen terbuat dari kotak kayu dengan pipa paralel dan speaker karton atau metal di bagian depannya. Performer alat ini memegang sebuah tuas yang bisa mengatur tinggi rendah nada. Terdapat 27 jenis intonarumori ini, dengan nama yang berbeda tergantung dari suara yang dihasilkan: melolong, petir, gemerisik, pecah, ledakan, dentuman, bisikan, dsb.

Intonarumori pertama kali ditampilkan pada tahun 1913 di Teatro Storchi Modena. Pada tahun 1914 dia mengadakan konser di Milan (Teatro Dal Verme), Genoa a(Politeama) dan London (Coliseum). Kemudian terjadi Perang Dunia I dimana Russolo menjadi relawan, bersama dengan teman-teman Futuristnya. Kemudian ia mengalami cedera yang cukup parah sehingga menghabiskan 18 bulan di berbagai rumah sakit.

Pada tahun 1921, setelah Perang Dunia I, ia mempresentasikan 3 konser di Paris, dan pada tahun 1922, turut berpartisipasi pada drama dari Filippo Tommaso Marinetti berjudul il tamburo di fuoco dengan memberi background musik dengan intonarumori.

Karena pertentangannya dengan fasism, Russolo menghabiskan wkatu antara 1927 sampai 1931 di paris. Kemudian pada tahun 1931 dia berpindah ke Tarragona di Spanyol, dimana ia mempelajari ilmu occult philosophy. Kemudian pada tahun 1933 ia kembali ke Italy, dan menerbitkan penyelidikan filosifisnya berjudul Al di la della materia (beyond matter) pada tahun 1938. Pada tahun 1941-1942, ia mendalami seni lukis kembali karena merasa frustasi dengan hidupnya yang dihabiskan sebagai pembuat instrument. Dan menciptakan sebuah gaya realis yang ia namai “classic-modern”. Russolo meninggal pada tahun 1947. Sisa eksperimentasi musikalnya hilang, dan intonarumori pun rusak karena terbakar pada Perang Dunia II.


John Cage

Selain Luigi Russolo. Ada satu lagi composer avant garde yaitu John Cage (5 September 1912 – 12 Agustus 1992). Ia merupakan composer sekaligus penulis, filsuf, dan ahli seni cetak dari Amerika. Ia sangat terkenal dengan komposisinya yaitu 4’33”. Komposisi 4”33’ adalah sebuah komposisi dimana pemain melakukan gerakan (dalam hal ini 3 gerakan) tanpa membunyikan satupun notasi. John Cage mendapatkan inspirasi mengenai komposisi ini di sebuah Anechoic Chamber di Universitas Harvard. (Anechoic chamber adalah sebuah ruangan kedap suara dengan desain yang khusus. Dimana tidak ada suara yang dipantulkan oleh dinding-dindingnya. Dan apabila ada suara yang dihasilkan di ruang tersebut. Tidak akan terjadi gaung,  selain itu anechoic chamber juga terisolasi dari ruang luar. Sehingga bila kita diam didalamnya maka kita benar-benar tidak mendengar apa-apa). Mitos mengatakan bahwa John Cage berdiam didalam anechoic chamber selama beberapa saat. Kemudian ia merasakan ada 2 suara kecil yang timbul, ada yang memiliki pitch tinggi ada yang rendah. Ketika ia menanyakan ke ahli teknis yang menjaga disitu. Ia mendapatkan jawaban bahwa suara tinggi adalah suara dari sistem syarafnya yang bekerja. Dan suara rendah berasal dari sirkulasi darahnya.

John Cage lalu menyimpulkan bahwa kita tidak dapat melarikan diri dari suara sampai kita mati. Sehingga ia mengekspresikan perasaannya itu melalu komposisi 4’33”.

Komposisi ini dimainkan oleh seorang pemain piano. Dimana dalam waktu tertentu ia berdiri membuka tutup piano-menutupnya-duduk-kemudian membukanya kembali, tanpa memainkan alat tersebut.

Kemudian John Cage mendalami berbagai ilmu spiritual dari timur. Salah satunya adalah I-Ching (book of changes). Ia kemudian membuat sebuah komposisi yang berjudul “music of changes”. Komposisi itu dibuat dengan cara melempar 3 koin. Dan melakukan pemilihan nada berdasarkan hasil dari lemparan-lemparan koin tersebut, sesuai dengan kaidah-kaidah I-Ching .

Selanjutnya John Cage makin tertarik dengan ide “changes” tersebut. Ia kemudian membuat sebuah komposisi berjudul imaginary landscape no.4 (1951). Komposisi dimainkan dengan 12 radio. Setiap radio dimainkan oleh 2 orang. Satu orang mengontrol frekuensi radio, yang satu lagi mengontrol volume radio. Cage menuliskan dengan detil scoringnya secara konvensional, menjelaskan kapan pemain mengganti frekuensi dan kapan menaik turunkan volume. Tentu saja suara yang dihasilkan sangat berbeda tergantung dimana komposisi itu dimainkan dan tergantung dari siaran radio apa yang sedang berlangsung.

John cage kemudian sering menerapkan kepercayaannya terhadap Zen Buddha dalam komposisi. Dijelaskan :

“Pertunjukkan ini adalah perayaan kehidupan – bukan sebuah usaha untuk memberi keteraturan atas kekacauan, bukan pula mengusulkan kemajuan atas penciptaan, tapi hanyalah untuk membangkitkan kehidupan yang kita jalani, yang sangat indah ketika seseorang bisa menyingkirkan akal dan hasrat darinya, dan membiarkannya berjalan sesuai dengan kodratnya.”

Tercermin dalam pepatah zen favoritnya, nichi nichi kore konichi yang berarti “everyday is a beautiful day”.

artikel ditulis di terrorincognita.multiply.com pada :

May 14, ’07 10:47 PM

Sumber :
http://www.ubu.com/historical/russolo/index.html
http://www.thereminvox.com/article/archive/31/
http://web.archive.org/web/20050305093832/switch.sjsu.edu/switch/sound/articles/wendt/folder6/ng632.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/John_cage

Shameless Self Promotion hehe. noise performance saya di bbrp event. thx.


Tagged: Music, noise
abcdefghijklmnopqrstuvwxyz abcdefghijklmnopqrstuvwxyz