Call me Pedy.

34//male//yogyakarta//indonesia

pedyanto@gmail.com

Posts

February 04, 10:40 AM

#Cinta termasuk gharizah/naluri yg teraktivasi oleh rangsangan luar. Beda dg hajatul udhawiyah/basic needs spt rasa lapar yg muncul dr dalam

Untuk jatuh #cinta, Anda butuh stimulus eksternal, melihat wanita cantik anggun misalnya #eaa. Makanya ada pepatah dr mata turun ke hati.

Mata adalah pintu pertama tuk chemistry jatuh #cinta. Maka kita diminta Allah tuk jaga pandangan. Krn begitu mata mulai suka, cinta bersemi

Tahapan berikutnya setelah mata adalah otak. Tugas otak merangkai imajinasi yg membuat perasaan #cinta makin menggebu-gebu.

Imajinasi #cinta misalnya seperti berlari-larian di taman sambil bergelantungan di tiang listrik kayak film2 India. :D

Nah, lalu bagaimana caranya jika kita ingin menghilangkan rasa #cinta tersebut? Karena satu alasan kuat tertentu.

Nah kalo kita sudah paham bahwa #cinta tumbuh karena rangsangan luar, apakah imajinasi ato pertemuan langsung, maka hal ini hrs diputus smua

Maka Anda harus tdk bertemu dengan si dia, ini memang sulit. Tp #cinta adalah perasaan luar biasa yg butuh usaha luar biasa tuk hilangkannya

Nah kalo semua jalur eksternal sudah diputus, maka otak dg sendirinya akan kehabisan data tuk diolah jadi imajinasi #cinta.

Ketika tdk ada imajinasi #cinta, tdk ada lagi bayang2 si dia, lambat laun perasaan cinta akan meredup dengan sendirinya.

Demikian teknik bela diri melawan #cinta yg tidak dikehendaki. Semoga berhasil.

Lalu bagaimana jika teknik-teknik bela diri #cinta yg saya share semalam semuanya gagal dan kita tetap galau maksimal?

Mk mengadulah kpd-Nya, perbanyak rakaat sholat sunnah, hayati bacaan Al-Fatihah, doa ketika sujud & menangislah krn kta begitu lemah. #cinta

Sambunglah tali silaturahmi, perbanyak sedekah, bantulah teman/kerabat yg kesusahan, rajin2 mengaji. Insya Allah 1x24 jam manjur. #cinta

Terus yakinkan diri bahwa jatuh #cinta sebenarnya ilusi yang bersandar pada kesamaan rasa sesaat dan sensasi penyatuan semu yang menipu.

Bahkan psikiater M. Scott Peck jelaskan jatuh #cinta dlm batasan tertentu secara mental tdk sehat. Krn perasaan tsb sangat labil & temporer

Menurutnya #cinta sejati/sesungguhnya justru muncul ketika perasaan2 jatuh cinta tadi sdh lenyap. Saat kita lakukan pengorbanan tulus kpdnya

Permalink | Leave a comment  »

February 04, 10:23 AM

TENG TENG TENG.. Bab Terakhir tentang Ilusi Jatuh #Cinta akan segera dimulai.

Kita kemarin sudah bahas definisi #cinta, pernikahan vs pacaran, cinta hollywood vs cinta sejati. Sekarang yuk diskusi ilusi jatuh cinta.

Tuips pernah jatuh #cinta? Katanya berjuta rasanya. Nah banyak pasangan mengandalkan perasaan ini tuk memulai/akhiri hubungan mereka.

Banyak juga yg meyakini, jatuh #cinta adalah pra syarat untuk menjalin hubungan yg lebih serius dg seseorang.

Padahal jatuh #cinta adalah sebuah ilusi. Berikut penjelasannya.

Disamping gharizah nau' (naluri lestarikan jenis) yg sdh dibahas kmarin. Manusia punya gharizah baqa (naluri ego) spt ingin berkuasa. #cinta

Adanya gharizah baqa/ego membuat manusia ingin eksis, dihargai & berkuasa. Apa yg diinginkan harus bs dipenuhi, spt layaknya raja. #cinta

Naluri ego/ingin berkuasa ini terpenuhi sempurna ketika kita msh kecil/balita, krn kehendak kita hampir selalu dipenuhi orang tua. #cinta

Namun menginjak dewasa, naluri ego/ingin berkuasa tadi lebih sering tak terpenuhi. Banyak keinginan kita yg akhirnya tak terwujud. #cinta

Kita ingin mainan, tak terwujud. Kita ingin berteman dg A, tak terwujud. Kita ingin kekasih B, jg tak terwujud. Akhirnya terasingkan.#cinta

Ketika banyak keinginan yg tak terwujud, kita akhirnya kecewa & sedih. Ternyata dunia sangat kejam. Kita pun terbiasa menderita. #cinta

Suatu hari, kita bertemu dg seseorang. Mata saling bertatapan. Hati pun cenat-cenut. Ah, seandainya dia jg merasa spt yg kurasa. #cinta

Tapi kita sudah terbiasa dg kejamnya dunia, yg tak selalu mewujudkan keinginan-keinginan, termasuk falling with someone. #cinta

Namun ternyata, dia juga punya perasaan YANG SAMA denganku. Aku suka dia, dia suka aku. Aku ingin dia, dia ingin aku. Kita jatuh #cinta!

Bayangkan, kita punya perasaan luar biasa menggebu2 kpd dia. Dan kita pun TAHU dia punya rasa yg SAMA kpd kita --> Mabuk #cinta kepayang.

Itulah yg terjadi ketika kita jatuh #cinta. Ketika aku & dia SATU. Tdk ada lg dunia yg kejam, yg asing, yg tak bersahabat kpd harapan2.

Dan perasaan jatuh #cinta tadi sangat dahsyat melenakan dan memabukkan. Dunia serasa punya berdua. Kita pun yakin, dia tercipta untukku.

Nah, apa yang terjadi berikutnya? Apa yang terjadi setelah jatuh #cinta?

Apakah perasaan bahagia karena jatuh #cinta tadi bertahan seterusnya?

Apakah kesamaan perasaan jatuh #cinta, antara aku dan dia, berakibat pada kesamaan semua hal dan hilangnya perbedaan? Hilangnya masalah?

Apakah hanya karena saya & dia sama2 jatuh #cinta, lantas keinginan, kehendak, karakter, kebiasaan2 saya & dia semuanya sama? Selamanya?

Kesamaan perasaan jatuh #cinta, tentu tidak akan menyamakan semuanya. Kesatuan perasaan jatuh cinta, tentu tidak menyatukan segalanya.

Biasanya, tak lama setelah mabuk #cinta, riak2 perbedaan mulai muncul, retak2 kejelekkan mulai terlihat. Ternyata aku & dia tdk lagi satu.

Seiring jalannya waktu, kesamaan perasaan jatuh #cinta makin mengecil, dan jurang perbedaan lain makin melebar. Ah, ternyata kta tdk cocok.

Akhirnya kisah #cinta mereka berakhir. The End.

Jadi tweeps, kalo kita ikuti "prosedur normal" jatuh #cinta. Maka pasti kita akan sampai pada siklus: "Elo gue END!".

Kisah #cinta seperti ini banyak dialami oleh ABG, artis dalam dan luar negeri, karena terjebak ilusi jatuh cinta. Dan cinta sbg kata benda.

Lalu apakah salah kalau kita jatuh #cinta?

Jatuh #cinta boleh2 saja. Nabi bahkan anjurkan kita melihat calon isteri sebelum dinikahi agar hati cenat-cenut. :D

Tapi jatuh #cinta tdk boleh dibiarkan beraksi sendirian. Ia harus dilanjutkan dengan tindakan2 cinta (sdh dibahas sblumnya), shg langgeng.

Dan pada saat yg sama kita pun terus merajut & mengutamakan #cinta kepada Sang Khaliq, lewat ibadah & pengorbanan.

Karena kta terbiasa mencintai-Nya dg tindakan & pengorbanan. Maka mudah bagi kta tuk mencintai isteri kta dg tindakan & pengorbanan. #cinta

And finally, they live happily ever after, dunia wal akhirah. The End (yg ini betulan selesai). #cinta

Permalink | Leave a comment  »

February 04, 10:11 AM

Semalam kita udah ngobrol tentang definisi #cinta serta wahana sempurna untuk mewadahinya: Pernikahan, bukan pacaran.

Sekarang, kita akan bahas, apakah #cinta itu dibentuk, atau datang tiba-tiba, a.k.a jatuh cinta/cinta pandangan pertama/dll.

Jawaban atas pertanyaan tadi akan menentukan sikap kita --> Apakah pernikahan diawali, dipelihara & dipertahankan krn ada/tdk-nya #cinta?

Jadi, apakah #cinta itu memang 'jatuh' atau sesuatu yg diusahakan? Jawabannya tergantung pada siapa yg 'mendidik' kita selama ini. :D

Kalo selama ini kita dididik oleh Hollywood atau lebih parah sinetron, maka kita cenderung menjawab #cinta adalah pemberian/datang tiba2.

Tapi kalo selama ini kita dididik oleh Islam, berjibaku dg derasnya ibadah dan ikhlasnya beramal, maka #cinta adalah buah dr pengorbanan :)

Ahh SPOILER! “@dupeti: kl ngikuti pola pikirmu #cinta itu hanya kpd Allah. Pasangan, Harta, Anak dan Keluarga adlh bonus, hanya titipan.”

Jadi, apakah #cinta itu pandangan pertama, atau perjuangan tanpa akhir? Jawabannya tergantung kpd siapa pengalaman jatuh cinta pertama kita.

Kalo dulu pertama kali kita jatuh #cinta pada lawan jenis, dan tak pernah kenal cinta kpd Allah. Maka kita jd pribadi rapuh dg cinta yg semu

Tapi kalo dulu kita berusaha men#cintai Allah, sebelum mencintai hamba-Nya yg anggun itu :D Mudah-mudahan kita dimudahkan raih cinta sejati.

Bukankah Allah meminta kita untuk men#cintai-Nya rasul-Nya & berjihad di jalan-Nya, melebihi cinta kita kpd harta, tahta, wanita & toyota :D

Bukankah Allah berjanji, kalo kita beribadah tunaikan yg wajib, ditambah yg sunnah, maka Allah akan mencintai kita, kita pun #cinta kpd Nya?

Tapi kalo dulu kita berusaha mencintai Allah, sebelum mencintai hamba-Nya yg anggun itu :D Mudah-mudahan kita dimudahkan raih #cinta sejati.

Bukankah Allah meminta kita untuk mencintai-Nya rasul-Nya & berjihad di jalan-Nya, melebihi #cinta kita kpd harta, tahta, wanita & toyota :D

Hadeh! Lagi ngomongin #cinta, App Twitter selalu nongolin foto wanita cant*k berjilbab di kolom "Similar to pedyanto", gak konsen! (-_-")

Jadi Islam mengajarkan kita meraih #cinta, pertama kepada Allah, dan cinta adalah buah dari usaha/ibadah dengan ikhlash & istiqamah.

Nah, kalo kita sudah terampil membina #cinta dengan Allah, lewat ibadah tak kenal lelah. Maka sangat mudah raih cinta sejati dg hambanya.

Sebagaimana #cinta kpd Allah diraih dg usaha/ibadah non stop, demikian pula cinta kpd hamba-Nya juga disemai dg usaha/tindakan2 cinta. :)

Ok tweeps break jumatan dulu, nanti2 dilanjut dengan topik studi kasus dan contoh2 nyata #cinta sejati, stay tune. :D

Ok tweeps lanjut lagi kicauan tentang #cinta. *I can do this all day...* #dejavu #captainamerica

Jadi tuips, kalo mau mencari #cinta sejati, carilah mereka yg sdh "terlatih" mencintai Allah. Mentalnya sdh terbiasa mencintai dg memberi.

Lagi pula, kalau Allah yg "tak kasat mata" saja bisa dicintai dg amal ibadah, apalagi cuma manusia yg kasat mata, lebih mudah. #cinta

Apakah #cinta jadi pra syarat pernikahan? Jawabannya tidak. Justru cinta akan bersemi & berkembang pasca menikah, dg tindakan2 cinta.

Sebagaimana kita mencintai Allah dg memuji, berzikir & berkorban kpd-Nya. Kita pun semakin #cinta kpd isteri, dg memujinya, mendukungnya dll

Dan apakah pernikahan berakhir ketika #cinta memudar? Tdk. Selama tindakan2 cinta terus kita lakukan dg ikhlas, selama itu pula cinta hidup

Tweeps sampai di sini harusnya kita bisa menjawab, apakah #cinta itu kata benda atau kata kerja?

Pada suatu hari Stephen Covey didatangi temannya. Ia mengeluh, ia dan isterinya sudah tdk saling mencintai lg. Apa yg hrs dilakukan? #cinta

Covey hanya menjawab, "Cintai isterimu." Temannya jwb, "Cinta itu sdh tdk ada lagi." Covey jwb lagi, "Cintai isterimu." #cinta

Temannya msh ngotot, "Perasaan itu sdh hilang." Covey: "#Cintai dia. Jika perasaan itu sdh hilang maka itu jd alasan bagus tuk mencintainya"

Akhirnya teman Covey tadi makin bingung & bertanya: "Tapi bagaimana Anda mencintainya ketika Anda sudah tidak #cinta lagi kepadanya?"

Covey menjawab: "Teman, cinta adalah kata kerja. Cinta -perasaannya- adalah buah dari kata kerja/tindakan2 #cinta yg dilakukan sebelumnya."

Covey melanjutkan: "Jadi cintai dia, berkorban untuknya, dengarkan dia, berempatilah kpdnya, dukunglah dia. Apakah kamu bersedia? #cinta

Selama ini kita dididik oleh Hollywood & sinetron; bahwa #cinta adalah kata benda/pemberian tanpa usaha. Ada cinta, jalan, tdk ada, end.

Akibatnya, banyak hubungan #cinta hanya seumuran jagung, fenomena kawin cerai jadi biasa. Ketika ditanya mengapa? Sdh tdk ada lg cinta.

Lebih parah, masing2 menyalahkan pasangannya atas hilangnya perasaan #cinta. Lalu cari cinta yg baru & hancur lg. Pdhal yg salah dirinya.

Permalink | Leave a comment  »

February 04, 10:07 AM

Apakah kita harus jatuh #cinta dg pasangan kita sebelum menikah? Sebaliknya, apakah kita harus berpisah ketika tdk ada #cinta tersisa?

Ok saya ulangi lagi, apakah #cinta itu menjadi syarat atas berawalnya atau berakhirnya sebuah hubungan pernikahan?

Oh ya kalo bicara #cinta konteksnya selalu hubungan pernikahan ya tweeps, bukan pacaran, karena pacaran itu haram hukumnya dalam Islam.

Kalo saya berpendapat #cinta bukan prasyarat untuk mengawali atau mengakhiri sebuah hubungan.

Jadi Anda tidak perlu jatuh #cinta dulu sebelum menikahi pasangan Anda. Atau harus kehilangan #cinta sebelum berpisah dengannya. :)

Jadi tweeps, #cinta itu sebenarnya apa?

Menurut Taqiyudin An-Nabhani #cinta adalah manifestasi dari naluri melestarikan jenis (gharizah nau'). Agar spesies manusia tidak punah.

Just think about it. Spesies manusia bs lestari karena naluri ini. Mahluk yg lain spt amoeba melestarikan jenisnya dg membelah diri. #cinta

Kalo saya boleh milih, cara membelah diri lebih simple, ketimbang berurusan #cinta dg kaum hawa yg complicated :D Tp smua sdh takdir.

Manifestasi gharizah nau' ini diantaranya perasaan suka, #cinta, hasrat seksual, serta perasaan sayang terhadap anak, cucu, dll.

Jadi keliru kalo ada yg bilang #cinta itu bisa dipisahkan dengan hasrat seksual. Cepat ato lambat, pasti akan ke sana juga akhirnya. :D

Makanya Islam tdk hy melarang zina, tp segala hal yg mendekati/mendahului zina jg dilarang. Termasuk 'ritual2' pacaran; berduaan, dll #cinta

Kalo soal #cinta dengan lawan jenis, saranku rumusnya ALL OR NOTHING. Nikahin ato tinggalin sekalian. Jangan mencicil dosa & maksiat!

Nah skr masuk ke pertanyaan satu milyar :D Apakah perasaan #cinta itu dibentuk atau datang tiba-tiba? Menurutmu? Gantian dong, capek nih..

Permalink | Leave a comment  »

February 04, 09:58 AM

Dimanakah #cinta tertinggi kita berlabuh? Seharusnya kpd Allah SWT. "Dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (2:165)"

Bagaimana mendeteksi #cinta tertinggi kita? Mudah. Ketika kita bersedia mengorbankan apa pun untuk meraihnya. #qurban

Tidak ada #cinta sejati tanpa pengorbanan. Mengapa ibu sangat sayangi anaknya? Smua laki2 yg pernah temani istrinya melahirkan tahu jawabnya

#cinta sejati pasti korbankan semua pilihan. Trik ini dipakai perampok: Harta atau nyawa? Lazimnya pilih nyawa. Krn kta lebih cinta nyawa.

Saat jihad, salah seorang sahabat menjadi perisai hidup Nabi, membiarkan dirinya terpanah berkali2. Krn dia lebih #cinta Nabi dr pd dirinya

Salah seorang sahabat, Hanzalah, tinggalkan honeymoon malam pertamanya & berangkat jihad tanpa sempat mandi junub. Krn #cinta nya kpd Allah

Kenapa koruptor demikian hina? Karena mereka sangat amat #cinta kpd harta & rela korbankan apa pun tuk meraihnya, termasuk reputasi dirinya.

Mengapa Nabi Ibrahim dijuluki khalilullah (kekasih Allah)? Krn ia rela korbankan sesuatu yg paling dicintai (Ismail) tuk meraih #cinta Allah

Umat Islam skr banyak yg menolak korbankan #cinta selain Allah & lebih memilih elus2 "Ismail2" berwujud harta, tahta, hiasan dunia lainnya.

Masak mau berkurban harta lewat sedekah saja pakai hitung-hitungan return on investment *facepalm*. #cinta #qurban

Abdurahman bin Auf berkorban tinggalkan smua aset bisnisnya di Makkah saat hijrah ke Madinah. Sampe di sana ia miskin papa. #cinta Allah

Kebahagiaan di dunia ini sangat kecil dibandingkan dg #akhirat. Analogi Rp.1 vs Rp.1 Milyar saja gak cukup. Ayo buktikan #cinta dg #qurban

Kalo kita belum fall in love with Allah itu karena tindakan kita miskin pengorbanan kepada-Nya. #cinta #qurban

Raih #cinta kepada Allah dengan senantiasa ingat, taat & dekat kepada-Nya, menjalankan syariat-Nya dengan kaffah.

Lan tanalul birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun: Bukanlah kebajikan sebelum kamu menafkahkan harta yang kamu cintai (3:92). #qurban #cinta

Permalink | Leave a comment  »

December 20, 01:30 AM
October 11, 07:34 AM

Saya dulu awalnya memakai koneksi internet Speedy, tapi sekarang saya ganti #EVDO karena bisa dibawa pulang ke rumah dibagi ke anak istri

Kalo Speedy harus ngendon t4 tertentu, tapi #EVDO CDMA bisa fleksibel bawa modem konek dimana pun, tentu harus ada sinyalnya, ini minusnya

Kenapa pilih #EVDO? IMO, pilihan broadband tergantung dari: 1. Sinyal di rumah-kantor kita. 2. Paket yg ditawarkan operator

Di sekitar rumah-kantor saya, dapet sinyal GSM EDGE dan CDMA #EVDO, secara teoritis dan praktis #EVDO lebih cepat dari GSM EDGE

Secara teknologi CDMA #EVDO setara dengan GSM 3G, mampu melaju sekitar 3 Mbps, kalo EDGE gak nyampe 1 Mbps, jadi gw pilih #EVDO

Soal paket, perbandingan kalo Flash 200rb dapat speed max 2 Mbps quota 2.5G sebulan. Kalo AHA #EVDO 200rb max 3 Mbps quota 3G-an sebulan

Buat konek saya tdk pakai modem CDMA #EVDO, tapi pakai MiFi; modem+router yg bisa buat WiFi HotSpot, krn rumah-kantor pake gadget WiFi smua

Nah jangan keburu beli MiFi yg paketan seperti AHA Link. Rugi buang 900rb cuma dapat MiFi CDMA #EVDO, udah gitu di-lock lagi modemnya

Saya pakai MiFi merek ZTE, unlock, dan hebatnya bisa buat kartu CDMA #EVDO atau GSM. Harga 800rb. Jadi pas CDMA lemot, bisa ganti GSM

Permalink | Leave a comment  »

October 11, 04:14 AM

Ketika kita melihat sebuah #mobil, kita berfikir pasti ada yg menentukan bentuk, warna, mesin, fitur mobil dll. Ada sedan, SUV, MPV, dll.

Artinya sebuah mobil tdk berdiri sendiri. Adanya #mobil tsb menunjukkan keberadaan pihak lain yg telah merancang, sekalipun ia tak terlihat

Adanya si perancang #mobil, meski tak terlihat, realitasnya nyata ada; somewhere, somehow, someplace.

Si perancang #mobil tadi sebelumnya telah membayangkan apa warna #mobil tsb, bagaimana desainnya, jenis mesinnya dll. Ia berkehendak mutlak

Di sisi lain #mobil sebagai obyek ciptaan hy bs tunduk dg semua ketetapan si perancang. Ia hanya bisa pasrah dg takdirnya tanpa bs kompromi

Now imagine #mobil tsb memiliki AI shg memiliki kesadaran seperti film Cars. Akankah ia bs berfikir dan menemukan eksistensi si perancang?

Mestinya si #mobil bertanya, siapa yg merancang bentuk, fitur, mesin yg ada pada diriku? Pasti pihak yg punya pengetahuan & kecerdasan

Pengetahuan & kecerdasan td pastilah datang dari tempat lain, ia terpisah & bukan bagian dari #mobil: Kecerdasan dimiliki oleh si perancang

Dari analogi #mobil tadi, kta harusnya bs menyimpulkan bahwa manusia, alam semesta & seisinya yg tertata cermat pastilah ada yg menciptakan

Seperti #mobil, manusia yg memiliki bentuk, ragam & organ rumit menunjukkan adanya pihak lain yg telah merancang, sekalipun ia tak terlihat

Dalam Islam, obyek ciptaan seperti #mobil atau manusia disebut makhluk. Sedangkan si penciptanya disebut khalik, keduanya bertolak belakang

Makhluk spt #mobil diciptakan, maka ia diawali oleh ketiadaan. Ketika tiada, ia hanya terwujud pada 'benak' si pencipta; bentuk, warna, dll

Ketika si pencipta selesai ciptakan #mobil (ato manusia), terwujudlah ia di alam nyata. Dengan bentuk, warna, fitur yg menjadi ketentuannya

Jadi semua makhluk (spt #mobil) diawali oleh ketiadaan dan oleh karenanya ia hanya bisa tunduk pasrah dg smua ketentuan & kehendak pencipta

Manusia dan alam semesta seperti #mobil yg hanya bisa tunduk pasrah dengan ketentuan2 yg berlaku pada dirinya, maka pasti ia diciptakan

Jika sifat makhluk spt #mobil adalah tunduk pasrah terbatasi oleh kehendak rancangan sang khalik. Lalu bagaimana sifat khalik sendiri?

Jika makhluk spt #mobil adalah segala sesuatu yg diciptakan, maka khalik sebagai pencipta tertinggi tidak diciptakan oleh siapa pun

Jika khalik diciptakan spt #mobil, maka pd hakikatnya ia makhluk, dan makhluk menghajatkan kepada pencipta yg lain; khalik yg sesungguhnya

Maka khalik sejati tidak diciptakan, tidak diawali ketiadaan & tidak memiliki keterbatasan spt keterbatasan bentuk fitur mesin pada #mobil

Karena khalik sejati tdk diciptakan spt #mobil, ia tdk memiliki keterbatasan ala makhluk, maka ia serba tidak terbatas dan maha segalanya

Khalik menentukan, makhluk (spt #mobil) ditentukan. See qunut: Fainnaka taqdi wala yuqda alaik. Engkau yg menentukan dan tidak ditentukan.

Dan khalik harus 1. Krn mustahil ada 2 khalik yg masing2 tak terbatas, yg satu tdk batasi yg lain. Bs konflik ciptakan makhluk spt #mobil

Kalau ada khalik yg hrs disembah, maka mestinya ia bersifat2 serba tdk terbatas & maha segalanya, bukan makhluk lemah spt #mobil or manusia

So kalo pilih agama, pilih yg rasional, sembah khalik yg rasional pula, ikuti kitab suci yg juga rasional. Jangan sampai sembah #mobil :D

Permalink | Leave a comment  »

June 15, 09:57 PM

"Kebahagiaan" adalah berhasil merapikan pembukuan keluarga dan bisnis dari kertas2 berserakan ke file xls yg tersimpan rapi di dropbox :-D

Permalink | Leave a comment  »

April 21, 06:21 AM

We all know that we don’t get enough sleep. But how much sleep do we really need? Until about 15 years ago, one common theory was that if you slept at least four or five hours a night, your cognitive performance remained intact; your body simply adapted to less sleep. But that idea was based on studies in which researchers sent sleepy subjects home during the day — where they may have sneaked in naps and downed coffee.

AMERICAN SLUMBER Number of hours of sleep (self-reported) on weeknights.

Antonio Bolfo for The New York Times

Enter David Dinges, the head of the Sleep and Chronobiology Laboratory at the Hospital at University of Pennsylvania, who has the distinction of depriving more people of sleep than perhaps anyone in the world.

In what was the longest sleep-restriction study of its kind, Dinges and his lead author, Hans Van Dongen, assigned dozens of subjects to three different groups for their 2003 study: some slept four hours, others six hours and others, for the lucky control group, eight hours — for two weeks in the lab.

Every two hours during the day, the researchers tested the subjects’ ability to sustain attention with what’s known as the psychomotor vigilance task, or P.V.T., considered a gold standard of sleepiness measures. During the P.V.T., the men and women sat in front of computer screens for 10-minute periods, pressing the space bar as soon as they saw a flash of numbers at random intervals. Even a half-second response delay suggests a lapse into sleepiness, known as a microsleep.

The P.V.T. is tedious but simple if you’ve been sleeping well. It measures the sustained attention that is vital for pilots, truck drivers, astronauts. Attention is also key for focusing during long meetings; for reading a paragraph just once, instead of five times; for driving a car. It takes the equivalent of only a two-second lapse for a driver to veer into oncoming traffic.

Not surprisingly, those who had eight hours of sleep hardly had any attention lapses and no cognitive declines over the 14 days of the study. What was interesting was that those in the four- and six-hour groups had P.V.T. results that declined steadily with almost each passing day. Though the four-hour subjects performed far worse, the six-hour group also consistently fell off-task. By the sixth day, 25 percent of the six-hour group was falling asleep at the computer. And at the end of the study, they were lapsing fives times as much as they did the first day.

The six-hour subjects fared no better — steadily declining over the two weeks — on a test of working memory in which they had to remember numbers and symbols and substitute one for the other. The same was true for an addition-subtraction task that measures speed and accuracy. All told, by the end of two weeks, the six-hour sleepers were as impaired as those who, in another Dinges study, had been sleep-deprived for 24 hours straight — the cognitive equivalent of being legally drunk.

So, for most of us, eight hours of sleep is excellent and six hours is no good, but what about if we split the difference? What is the threshold below which cognitive function begins to flag? While Dinges’s study was under way, his colleague Gregory Belenky, then director of the division of neuroscience at the Walter Reed Army Institute of Research in Silver Spring, Md., was running a similar study. He purposely restricted his subjects to odd numbers of sleep hours — three, five, seven and nine hours — so that together the studies would offer a fuller picture of sleep-restriction. Belenky’s nine-hour subjects performed much like Dinges’s eight-hour ones. But in the seven-hour group, their response time on the P.V.T. slowed and continued to do so for three days, before stabilizing at lower levels than when they started. Americans average 6.9 hours on weeknights, according to the National Sleep Foundation. Which means that, whether we like it or not, we are not thinking as clearly as we could be.

Of course our lives are more stimulating than a sleep lab: we have coffee, bright lights, the social buzz of the office, all of which work as “countermeasures” to sleepiness. They can do the job for only so long, however. As Belenky, who now heads up the Sleep and Performance Research Center at Washington State University, Spokane, where Van Dongen is also a professor, told me about cognitive deficits: “You don’t see it the first day. But you do in five to seven days. Unless you’re doing work that doesn’t require much thought, you are trading time awake at the expense of performance.”

And it’s not clear that we can rely on weekends to make up for sleep deprivation. Dinges is now running a long-term sleep restriction and recovery study to see how many nights we need to erase our sleep debt. But past studies suggest that, at least in many cases, one night alone won’t do it.

Not every sleeper is the same, of course: Dinges has found that some people who need eight hours will immediately feel the wallop of one four-hour night, while other eight-hour sleepers can handle several four-hour nights before their performance deteriorates. (But deteriorate it will.) There is a small portion of the population — he estimates it at around 5 percent or even less — who, for what researchers think may be genetic reasons, can maintain their performance with five or fewer hours of sleep. (There is also a small percentage who require 9 or 10 hours.)

Still, while it’s tempting to believe we can train ourselves to be among the five-hour group — we can’t, Dinges says — or that we are naturally those five-hour sleepers, consider a key finding from Van Dongen and Dinges’s study: after just a few days, the four- and six-hour group reported that, yes, they were slightly sleepy. But they insisted they had adjusted to their new state. Even 14 days into the study, they said sleepiness was not affecting them. In fact, their performance had tanked. In other words, the sleep-deprived among us are lousy judges of our own sleep needs. We are not nearly as sharp as we think we are.

Maggie Jones (margueritepjones@gmail.com) is a contributing writer for the magazine. Editor: Tony Gervino (t.gervino-MagGroup@nytimes.com).

Permalink | Leave a comment  »

April 21, 02:30 AM

Security companies and IT people constantly tells us that we should use complex and difficult passwords. This is bad advice, because you can actually make usable, easy to remember and highly secure passwords. In fact, usable passwords are often far better than complex ones.

So let's dive into the world of passwords, and look at what makes a password secure in practical terms.

Update: Read the FAQ (updated January 2011)

How to hack a password

The work involved in hacking passwords is very simple. There are 5 proven ways to do so:

  1. Asking: Amazingly the most common way to gain access to someone's password is simply to ask for it (often in relation with something else). People often tell their passwords to colleagues, friends and family. Having a complex password policy isn't going to change this.
  2. Guessing: This is the second most common method to access a person's account. It turns out that most people choose a password that is easy to remember, and the easiest ones are those that are related to you as a person. Passwords like: your last name, your wife's name, the name of your cat, the date of birth, your favorite flower etc. are all pretty common. This problem can only be solved by choosing a password with no relation to you as a person.
  3. Brute force attack: Very simple to do. A hacker simply attempts to sign-in using different passwords one at the time. If you password is "sun", he will attempt to sign-in using "aaa, aab, aac, aad ... sul, sum, sun (MATCH)". The only thing that stops a brute force attack is higher complexity and longer passwords (which is why IT people want you to use just that).
  4. Common word attacks: A simple form of brute-force attacks, where the hacker attempt to sign-in using a list of common words. Instead of trying different combination of letters, the hacker tries different words e.g. "sum, summer, summit, sump, sun (MATCH)".
  5. Dictionary attacks: Same concept as common word attacks - the only difference is that the hacker now uses the full dictionary of words (there are about 500,000 words in the English language).

When is a password secure?

You cannot protect against "asking" and "guessing", but you can protect yourself from the other forms of attacks. A hacker will usually create an automated script or a program that does the work for him. He isn't going to sit around manually trying 500,000 different words to see if one of them is your password.

The measure of security must then be "how many password requests can the automated program make - e.g. per second". The actual number varies, but most web applications would not be capable of handling more than 100 sign-in requests per second.

This means it takes the following time to hack a simple password like "sun":

  • Brute-force: 3 minutes
  • Common Word: 3 minutes
  • Dictionary: 1 hour 20 minutes

Note: "sun" has 17,576 possible character combinations. 3 letters using the lowercase alphabet = 263

This is of course a highly insecure password, but how much time is enough for a password to be secure?

  • a password that can be hacked in 1 minute is far too riksy
  • 10 minutes - still far too risky
  • 1 hour - still not good enough
  • 1 day - now we are getting somewhere. The probability that a person will have a program running just to hack your account for an entire day is very little. Still, it is plausible.
  • 1 month - this is something that only a dedicated attacker would do.
  • 1 year - now we are moving from practical risk to theoretical risk. If you are NASA or CIA then it is unacceptable. For the rest of us, well - you do not have that kind of enemies, nor is your company data that interesting.
  • 10 years - Now we are talking purely theoretical.
  • A lifetime: 100 years - this is really the limit for most people. Who cares about their password being hacked after they have died? Still it is nice to know that you use a password that is "secure for life"

But let's take a full swing at this. Let's look at "100 year - secure for life". It has good ring to it and it makes us feel safe. There is still the chance that the hacker gets lucky. That he accidently finds the right password after only 15 years instead of 100. It happens.

Let's step that up too and go for the full high-end security level. I want a password that takes 1,000 years to crack- let's call this "secure forever". That ought to be good enough, right?

Making usable and secure passwords

Now that we have covered the basics, let's look at some real examples, and see just how usable we can make a password, while still being "secure forever".

Note: The examples below are based on 100 password request per second. The result is the approach that is the most effective way to hack that specific password - either being by the use of brute-force, common words or dictionary attacks.

First let's look at the common 6 character password - using different methods:

In this example complexity clearly wins. Using a password with mixed case characters, numbers and symbols is far more secure than anything else. Using a simple word as your password is clearly useless.

Does that mean that the IT-departments and security companies is right? Nope, it just means that a 6 character password isn't going to work. None can remember a password like "J4fS<2", which evidently mean that it will be written on a post-it note.

To make usable passwords we need to look at them differently. First of all what you need is to use words you can remember, something simple and something you can type fast.

Like these:

Using more than one simple word as your password increases you security substantially (from 3 minutes to 2 months). But, by simply using 3 words instead of two, you suddenly got an extremely secure password.

It takes:

  • 1,163,859 years using a brute-force method
  • 2,537 years using a common word attack
  • 39,637,240 years using a dictionary attack

It is 10 times more secure to use "this is fun" as your password, than "J4fS<2".

If you want to be insanely secure; simply choose uncommon words as your password - like:

A usable and secure password is then not a complex one. It is one that you can remember - a simple password using 3+ words.

It is not just about passwords

One thing is to choose a secure and usable password. Another thing is to prevent the hacker from hacking password in the first place. This is a very simple thing to do.

All you need to do is to prevent automatic hacking scripts from working effectively. What you need to do is this:

  1. Add a time-delay between sign-in attempts. Instead of allowing people to sign-in again and again and again. Add a 5 second delay between each attempt.

    It is short enough to not be noticeable (it takes longer than 5 seconds to realize that you have tried a wrong password, and to type in a new one). And, it forces the hacker to only be able make sign-in requests 1 every 5 seconds (instead of 100 times per second).

  2. Add a penalty period if a person has typed a wrong password more than - say - 10 times - of something like 1 hour. Again, this seriously disrupts the hacking script from working effectively.

A hacker can hack the password "alpine fun" in only 2 months if he is able to attack your server 100 times per second. But, with the penalty period and the 5 second delay, the same password can suddenly sustain an attack for 1,889 years.

Remember this the next time you are making web applications or discussing password policies. Passwords can be made both highly secure and user-friendly.

Update: Read the FAQ (updated January 2011)

Permalink | Leave a comment  »

March 28, 11:36 AM

Let's cut to the chase.

Say you decide to go on a fast, and so you effectively starve yourself for a week. At the end of seven days, how would you be feeling? You'd probably be hungry, perhaps a little weak, and almost certainly somewhat thinner. But basically you'd be fine.

Now let's say you deprive yourself of sleep for a week. Not so good. After several days, you'd be almost completely unable to function. That's why Amnesty International lists sleep deprivation as a form of torture.

Here's what former Israeli Prime Minister Menachem Begin had to say in his memoir White Nights about the experience of being deprived of sleep in a KGB prison: "In the head of the interrogated prisoner a haze begins to form. His spirit is wearied to death, his legs are unsteady, and he has one sole desire: to sleep ... Anyone who has experienced this desire knows that not even hunger and thirst are comparable with it."

So why is sleep one of the first things we're willing to sacrifice as the demands in our lives keep rising? We continue to live by a remarkably durable myth: sleeping one hour less will give us one more hour of productivity. In reality, the research suggests that even small amounts of sleep deprivation take a significant toll on our health, our mood, our cognitive capacity and our productivity.

Many of the effects we suffer are invisible. Insufficient sleep, for example, deeply impairs our ability to consolidate and stabilize learning that occurs during the waking day. In other words, it wreaks havoc on our memory.

So how much sleep do you need? When researchers put test subjects in environments without clocks or windows and ask them to sleep any time they feel tired, 95 percent sleep between seven and eight hours out of every 24. Another 2.5 percent sleep more than eight hours. That means just 2.5 percent of us require less than 7 hours of sleep a night to feel fully rested. That's 1 out of every 40 people.

When I ask people in my talks how many had fewer than 7 hours of sleep several nights during the past week, the vast majority raise their hands. That's true whether it's an audience of corporate executives, teachers, cops or government workers. We've literally lost touch with what it feels like to be fully awake.

Great performers are an exception. Typically, they sleep significantly more than the rest of us. In Anders Ericcson's famous study of violinists, the top performers slept an average of 8 ½ hours out of every 24, including a 20 to 30 minute midafternoon nap some 2 hours a day more than the average American.

The top violinists also reported that except for practice itself, sleep was second most important factor in improving as violinists.

As I began to gather research about sleep, I felt increasingly compelled to give it higher priority in my own life. Today, I go to great lengths to assure that I get at least 8 hours every night, and ideally between 8 ½ and 9, even when I'm traveling.

I still take the overnight "redeye" from California to New York, but I'm asleep by takeoff — even if takes an Ambien. When I get home at 6 or 7 a.m., I go right to bed until I've had my 8 hours. What I've learned about those days is that I'd rather work at 100 percent for 5 or 6 hours, than at 60 percent for 8 or 9 hours.

With sufficient sleep, I feel better, I work with more focus, and I manage my emotions better, which is good for everyone around me. I dislike having even a single day where I haven't gotten enough sleep, because the impact is immediate and unavoidable. On the rare days that I don't get enough, I try hard to get at least a 20-30 minute nap in the afternoon. That's a big help.

Here are three other tips to improve the quantity and quality of your sleep:

  • Go to bed earlier — and at a set time. Sounds obvious right? The problem is there's no alternative. You're already waking up at the latest possible time you think is acceptable. If you don't ritualize a specific bedtime, you'll end up finding ways to stay up later, just the way you do now.
  • Start winding down at least 45 minutes before you turn out the light. You won't fall asleep if you're all wound up from answering email, or doing other work. Create a ritual around drinking a cup of herbal tea, or listening to music that helps you relax, or reading a dull book.
  • Write down what's on your mind — especially unfinished to-do's and unresolved issues — just before you go to bed. If you leave items in your working memory, they'll make it harder to fall asleep, and you'll end up ruminating about them if you should wake up during the night.

Permalink | Leave a comment  »

March 28, 11:14 AM

Do you have the feeling, as I do, that in the tsunami of everyday life, we're getting too much of stuff we don't need, and not enough of what we do? Herewith my first set of suggestions about how to redress the imbalance:

WE NEED LESS: WE NEED MORE:
Information Wisdom
Shallow billionaires Passionate teachers
Self-promotion Self-awareness
Multitasking Control of our attention
Inequality Fairness
Sugar Lean protein
Action Reflection
Super sizes Smaller portions
Private jets High-speed trains
Calculation Passion
Experts Learners
Blaming Taking responsibility
Judgment Discernment
Texting Reading
Anger Empathy
Output Depth
Constructive criticism Thank-you notes
Possessions Meaning
Righteousness Doing the right thing
Answers Curiosity
Long hours Longer sleep
Complaining Gratitude
Sitting Moving
Selling Authenticity
Cynicism Realistic optimism
Self-indulgence Self-control
Speed Renewal
Emails Conversations
Winning Win-win
Immediate gratification Sacrifice

Permalink | Leave a comment  »

Posts

October 11, 04:33 AM
Ketika kita melihat sebuah #mobil, kita berfikir pasti ada yg menentukan bentuk, warna, mesin, fitur mobil dll. Ada sedan, SUV, MPV, dll.

Artinya sebuah mobil tdk berdiri sendiri. Adanya #mobil tsb menunjukkan keberadaan pihak lain yg telah merancang, sekalipun ia tak terlihat

Adanya si perancang #mobil, meski tak terlihat, realitasnya nyata ada; somewhere, somehow, someplace.

Si perancang #mobil tadi sebelumnya telah membayangkan apa warna #mobil tsb, bagaimana desainnya, jenis mesinnya dll. Ia berkehendak mutlak

Di sisi lain #mobil sebagai obyek ciptaan hy bs tunduk dg semua ketetapan si perancang. Ia hanya bisa pasrah dg takdirnya tanpa bs kompromi

Now imagine #mobil tsb memiliki AI shg memiliki kesadaran seperti film Cars. Akankah ia bs berfikir dan menemukan eksistensi si perancang?

Mestinya si #mobil bertanya, siapa yg merancang bentuk, fitur, mesin yg ada pada diriku? Pasti pihak yg punya pengetahuan & kecerdasan

Pengetahuan & kecerdasan td pastilah datang dari tempat lain, ia terpisah & bukan bagian dari #mobil: Kecerdasan dimiliki oleh si perancang

Dari analogi #mobil tadi, kta harusnya bs menyimpulkan bahwa manusia, alam semesta & seisinya yg tertata cermat pastilah ada yg menciptakan

Seperti #mobil, manusia yg memiliki bentuk, ragam & organ rumit menunjukkan adanya pihak lain yg telah merancang, sekalipun ia tak terlihat

Dalam Islam, obyek ciptaan seperti #mobil atau manusia disebut makhluk. Sedangkan si penciptanya disebut khalik, keduanya bertolak belakang

Makhluk spt #mobil diciptakan, maka ia diawali oleh ketiadaan. Ketika tiada, ia hanya terwujud pada ‘benak’ si pencipta; bentuk, warna, dll

Ketika si pencipta selesai ciptakan #mobil (ato manusia), terwujudlah ia di alam nyata. Dengan bentuk, warna, fitur yg menjadi ketentuannya

Jadi semua makhluk (spt #mobil) diawali oleh ketiadaan dan oleh karenanya ia hanya bisa tunduk pasrah dg smua ketentuan & kehendak pencipta

Manusia dan alam semesta seperti #mobil yg hanya bisa tunduk pasrah dengan ketentuan2 yg berlaku pada dirinya, maka pasti ia diciptakan

Jika sifat makhluk spt #mobil adalah tunduk pasrah terbatasi oleh kehendak rancangan sang khalik. Lalu bagaimana sifat khalik sendiri?

Jika makhluk spt #mobil adalah segala sesuatu yg diciptakan, maka khalik sebagai pencipta tertinggi tidak diciptakan oleh siapa pun

Jika khalik diciptakan spt #mobil, maka pd hakikatnya ia makhluk, dan makhluk menghajatkan kepada pencipta yg lain; khalik yg sesungguhnya

Maka khalik sejati tidak diciptakan, tidak diawali ketiadaan & tidak memiliki keterbatasan spt keterbatasan bentuk fitur mesin pada #mobil

Karena khalik sejati tdk diciptakan spt #mobil, ia tdk memiliki keterbatasan ala makhluk, maka ia serba tidak terbatas dan maha segalanya

Khalik menentukan, makhluk (spt #mobil) ditentukan. See qunut: Fainnaka taqdi wala yuqda alaik. Engkau yg menentukan dan tidak ditentukan.

Dan khalik harus 1. Krn mustahil ada 2 khalik yg masing2 tak terbatas, yg satu tdk batasi yg lain. Bs konflik ciptakan makhluk spt #mobil

Kalau ada khalik yg hrs disembah, maka mestinya ia bersifat2 serba tdk terbatas & maha segalanya, bukan makhluk lemah spt #mobil or manusia

So kalo pilih agama, pilih yg rasional, sembah khalik yg rasional pula, ikuti kitab suci yg juga rasional. Jangan sampai sembah #mobil

October 03, 12:41 AM

TVOne! Siarkan ini kalo Anda memang bukan TV BANCI GUNDIK AS!!


Ada yang Menggiring Opini Masyarakat

MEDAN-Kapolda Sumut Irjen Pol Oegroseno mengeluarkan pernyataan yang berseberangan dengan Mabes Polri soal teroris di Sumut. Kapolda menegaskan, serentetan peristiwa yang menghebohkan Kota Medan dan sekitarnya, mulai perampokan Bank CIMB Niaga, hingga penyerbuan Mapolsekta Hamparan Perak, dilakukan oleh sisa separatis, bukan teroris.

Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara pada forum diskusi antara Kapoldasu dengan sejumlah Ormas Islam, MUI Medan dan jajaran Pemko Medan di Ruang Rapat IV, Balai Kota, Kamis (23/9).

”Dari penyelidikan yang ada sampai saat ini, kejadian yang terjadi mengarah pada orang-orang separatis,” ujar jenderal bintang dua itu kepada sejumlah wartawan.

Mengenai ciri-ciri pelaku, Kapolda enggan mengungkapkannya. ”Semuanya masih didalami, masih terus dilakukan pengejaran. Yang penting ketangkaplah. Jadi, jika nanti ada yang ketangkap lagi, bisa ditanya langsung apa motifnya. Dari situ, berarti Anda-Anda bisa menyimpulkan,” ujar Kapolda.

Dijelaskannya, sejauh ini pihak Poldasu beserta jajarannya masih melakukan pengejaran terhadap orang-orang yang terduga masuk dalam jaringan separatis tersebut.

Terkait penyerangan mapolsekta Hamparan Perak, Kapolda membantah adanya kemungkinan unsur balas dendam yang melatarbelakanginya. “Tidak. Dari penyelidikan yang ada, tidak ada unsur balas dendam,” tegas Oegroseno.
Dia juga mengatakan, telah terjadi penggiringan opini agar masyarakat percaya para pelaku adalah teroris. “Ada satu media yang terus menggiring masyarakat ke arah sana, sehingga masyarakat percaya bahwa mereka adalah teroris,” katanya.

Pada forum diskusi itu, beberapa tokoh agama yang hadir sempat melayangkan kritik kepada pihak Poldasu. Salah satunya adalah Ketua Majelais Ulama Indonesia (MUI) Medan, Mohammad Hatta yang meminta petugas tidak langsung menembak mati dalam proses penangkapan meski diduga teroris.

“Dari berita yang berkembang, orang-orang yang ditembak polisi tidak melakukan perlawanan. Nah, kenapa polisi langsung menembaknya. Apakah memang telah terbukti orang itu teroris atau sebagainya? Dan apakah pada saat itu memang orang itu melakukan perlawanan,” tanya M Hatta.

Hatta mengurai, Islam tidak identik dengan seperatis dan teroris. Islam adalah agama yang cinta akan kedamaian, yang selalu memandang perbedaan sebagai sebuah berkah. “Islam tidak pernah mentolerir pembunuhan, baik yang dilakukan terhadap polisi ataun siapapun yang masih disangka sebagai orang yang berbuat salah, kecuali ada alasan yang betul-betul tepat,” katanya.

Humas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Medan, Azwir mengatakan, kondisi sekarang membuat umat Islam tidak nyaman. Karena seolah umat Islam itu adalah umat yang suka dengan kekerasan.

“Kami minta, Densus 88 transparansi agar berita yang ditangkap masyarakat tidak simpang siur. Karena ketidaktransparanan yang terjadi, membuat orang-orang yang tidak senang dengan Islam akan menjustifikasi Islam adalah agama teroris. Ini harus ada tindak lanjut dari Poldasu dan khususnya Densus 88,” tegas Azwir.
Ustadz Zulfikar Hajar berpandangan, persoalan ini sebaiknya melibatkan ulama dan tokoh-tokoh lintas agama. “Ulama siap membantu aparat, untuk menciptakan kekondusifitasan di Medan dan Sumatera Utara serta Indonesia,” ungkapnya.

Menyikapi hal itu, Kapolda akan menjadikannya sebagai masukan bagi kepolisian, khususnya Poldasu. “Dengan komunikasi seperti ini, akan memberikan masukan bagi kepolisian khususnya Poldasu untuk tetap waspada,” tambahnya.

Di akhir kegiatan itu, Oegroseno meminta masyarakat membangun komunikasi, yang selama ini terputus begitu saja. “Dengan dibangunnya komunikasi dengan masyarakat desa, segala kemungkinan yang akan muncul dan terjadi bisa sesegera mungkin diantisipasi,” ulasnya.

Untuk mewujudkan komunikasi dengan masyarakat desa, Poldasu akan menurunkan petugas polisi dibantu seorang petugas TNI, untuk menjalin komunikasi sekaligus memantau kondisi.

Sebelumnya, Wali Kota Medan Rahudman Harahap yang didampingi Ketua DPRD Medan Amiruddin dan Humas Pemko Medan Hanas Hasibuan menyatakan, kegiatan itu diselenggarakan untuk memberikan pemahaman dan berita yang benar terhadap masalah yang tengah terjadi dan lagi hangat-hangatnya diperbincangkan yakni, masalah perampokan dan terorisme. “Ini demi memberi keterangan yang benar bagi masyarakat, tentang kebenaran kejadian,” ujar Rahudman.

JANGAN2 ISU TERORIS HANYA GONGGONGAN (GUK..GUK..) TUK SENANGKAN MAJIKANNYA: OBAMA YG NOVEMBER MAU DATANG?


September 26, 04:21 AM

Islam jelas tidak mengajarkan aksi terorisme. Jangankan dalam keadaan damai seperti sekarang, dalam keadaan yang jelas-jelas perang saja Islam mengharamkan membunuh non-kombatan, seperti anak-anak, perempuan, orang tua renta, rahib-rahib atau pendeta-pendeta yang berada di gereja, sinagog dan kuil. Mereka semuanya tidak boleh diperangi atau dibunuh. Bagi para kombatan yang ditawan, maka mereka harus diperlakukan dengan baik, antara lain, bisa dibebaskan tanpa tebusan (al-mann), atau dibebaskan dengan tebusan (al-fida’), sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Muhammad:4 (Hafidz Abdurrahman).

Jadi jelas Islam mengecam aksi terorisme yang belakangan ini marak terjadi. Tapi Islam juga harus mengecam semua bentuk terorisme yang lain, terutama terorisme yang dilakukan oleh negara (state terrorism). Sering kali, banyak orang kalap, mencak-mencak dan mengutuk habis aksi terorisme (kelompok). Tapi anehnya mereka hanya cengar-cengir terhadap aksi state terrorism. Padahal korbannya jauh lebih banyak.

Lebih jauh lagi, apa perbedaan terorisme (kelompok) dan terorisme negara?

 

Terrorism

State Terrorism

Pelaku

Kelompok kecil (itu pun biasanya bentukan/infiltrasi intelijen)

Negara besar (seperti Amerika dan Israel)

Pakaian pelaku

Biasa

Seragam militer

Senjata

Ala kadarnya, bom dari bahan pupuk

Canggih, WMD, bom dari bahan sulfur, plutonium, pesawat tempur, kapal induk, tank, bom cluster, dll

Bentuk serangan

Sesaat dan sporadis

Permanen dan meluas (Palestina sejak 1948 dijajah Israel sampai sekarang)

Sifat serangan

Sembunyi-sembunyi

Terang-terangan (bahkan ajak-ajak negara lain)

Jumlah korban

Sedikit

Buanyakk (rakyat sebuah negara)

Jumlah yang membenci

Buanyakk (thanks to tvOne)

Sedikit

Bahasa standar jurnalistik

Rakyat Palestina (yang dijajah dan tak bersenjata) menyerang/menerjang/melukai…

Tentara Israel (yang menjajah dan bersenjata lengkap) melakukan serangan balasan/tindakan membela diri/pre emtive attack…

Motif

Islam, pokoknya tuduh dulu, bukti belakangan (Seperti Bom Oklahoma City, ternyata pelakunya McVeigh)

Negara menyembunyikan Osama bin Laden/WMD (seperti Irak yang akhirnya tidak terbukti sama sekali)

Dampak ekonomi

Rugi, keluarga dan orang terdekat bisa dituduh kaki tangan teroris dan dikucilkan oleh masyarakat

Untung, ada banyak tender raksasa pembangungan infrastruktur negara hancur yang jadi bancakan kaum kapitalis

Hukum

Ilegal, bisa “digosok” habis-habisan oleh Salep 88, eh Densus 88 (emang panu?)

Legal, bahkan yang menentang bisa ditangkap atau malah dituduh teroris


September 04, 07:53 AM
Tadi pas saat2 genting garap proyek, internet mati, deadline gak mau kompromi, Mbah Google yg biasa nulungi pun angkat kaki.

Alhamdulillah, didekatku pas ada 2 buku yg isinya jadi solusi. Padahal 2 buku itu aku beli 9 tahun lalu, dan selama ini ku abaikan mereka, biasanya kalo gak hilang, dimakan rayap, ato dipinjem teman gak kembali. Ya Allah, ampuni hamba, yg sering lupa baca bismillah sebelum kerja, yg sering sepelekan pemberian2 Mu. Dan ternyata hal2 yg kita anggap biasa, menjadi luar biasa disaat yg tepat!

Aku jadi bertanya2, selain buku, apa lagi (ato siapa lagi) pemberian Nya yg aku abaikan saat ini, tapi kelak satu saat nanti justru menyelamatkanku?

August 22, 06:26 AM

AMSTERDAM-Pengadilan Banding Belanda menjatuhkan hukuman denda sebesar 2.500 euro atau 3.200 dolar AS kepada sekelompok Muslim di negaranya karena telah membuat dan mempublikasi kartun yang mengolok-olok pembantaian kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua atau holocaust.

Pengadilan di Kota Arnhem menganggap kartun yang diterbitkan di situs Arab European League (AEL) pada 2006 itu sebagai perbuatan yang tidak perlu dan ‘menyakitkan’. Dalam kartun itu digambarkan bahwa holocaust itu merupakan kejadian yang terlalu dibesar-besarkan oleh Yahudi. Pengadilan juga memberikan sanksi percobaan selama dua tahun pada AEL agar tidak mengulangi perbuatannya.

Kartun ini menggambarkan dua laki-laki di kamp konsentrasi Auschwitz di Austria yang melihat beberapa mayat. ”Saya tidak berpikir mereka adalah Yahudi,” kata seorang pria dalam kartun itu. Orang yang satunya lagi menjawab, ”Kita harus bisa sampai ke angka 6 juta.” Kartun itu mempertanyakan bagaimana bisa sebanyak enam juta orang Yahudi dibunuh pada masa holocaust.

Kelompok Muslim di Belanda itu sebenarnya tak ingin menyerang tragedi holocaust. Mereka hanya ingin menunjukkan standar ganda kebebasan berbicara yang kerap diterapkan di Belanda dan negara Eropa lainnya. Kartun itu muncul setelah surat kabar Denmark menerbitkan kartun Nabi Muhammad SAW yang memicu protes di kalangan umat Islam di banyak negara.


August 20, 09:24 PM

Saya beruntung dapat menghadiri seminar hasil penelitian bertajuk Gerakan-Gerakan Transnasional pada 23 dan 24 Juni 2010 yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama (Litbang Depag) di Gedung Bayt al-Quran, Jakarta. Awalnya, sebagian peserta yang berasal dari para peneliti, MUI dan ormas-ormas merasa ‘curiga’ dengan topik seminar ini. Namun, Ketua Penyelenggara Seminar, Ahmad Syafi’i Mufid, segera menepis. Ia mengatakan, “Sekarang ini ada sebagian pihak yang memandang negatif gerakan transnasional, bahkan ada yang melihatnya berbahaya. Nah, seminar hasil penelitian ini justru ingin membuktikan apakah kekhawatiran itu benar.” Berdasarkan penjelasan ini, tentu saja, kita semua merasa lega.

Gerakan-gerakan Islam yang dikategorikan transnasional dan dipaparkan dalam hasil penelitian tersebut antara lain Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh dan Salafi. Para peneliti memaknai gerakan transnasional sebagai gerakan yang memiliki ciri, yakni: (a) tidak lahir dari kultur local; (b) tercerabut dari akar kelokalan.

Dalam forum terbatas itu, kami memberikan pandangan bahwa semua yang ada di Indonesia ini tidak dapat lepas dari pengaruh luar. Terkait kultur lokal, sesungguhnya tidak ada kultur di Indonesia yang benar-benar murni lokal Indonesia. Pasti ada pengaruh dari dunia luar. Hal ini karena Indonesia merupakan titik pertemuan berbagai kultur. Sebagai contoh, dangdut dipengaruhi oleh India; candi Borobudur pun dipengaruhi oleh India; kebaya dan kerudung dipengaruhi oleh nilai Islam; peci yang katanya sekarang menjadi ciri Indonesia diambil dari torbus Turki; jas, dasi dan rok perempuan dipengaruhi oleh kultur Barat. Begitu juga, Pancasila. Kalau kita melihat teks Pancasila yang diusulkan oleh Soekarno dulu banyak yang bukan bersifat lokal. Misal, yang beliau usulkan ‘internasionalisme’ dan social justice (keadilan sosial). Belum lagi istilah dan nilai republik, demokrasi, hak asasi manusia, gender, kabinet, partai dan sistem kepartaian, dll. Semua itu bukanlah nilai maupun kultur lokal. Kalau pengertiannya demikian maka hampir semua organisasi di Indonesia termasuk NU, Muhammadiyah dan organisasi HAM terkategori transnasional. Karena itu, sejatinya tidak perlu lagi ada cap negatif (stigma) terhadap gerakan Islam yang disebut transnasional.

Di antara hasil penting dari penelitian tersebut adalah semua gerakan Islam yang dijadikan obyek kajian tidak perlu dikhawatirkan. Hasilnya positif. Sebagai contoh, Din Wahid, dalam penelitiannya menemukan di lapangan bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan gerakan dakwah yang bersifat pemikiran, politik dan berjuang tanpa kekerasan. Hal serupa ditemukan dalam aktivitas HTI di Depok oleh peneliti Asnawati. Temuan keduanya di lapangan ini makin memperkuat hasil penelitian sebelumnya seperti yang pernah dilakukan oleh Oesman Nawab.

Selain itu, hasil penelitian Litbang Depag tersebut menyebutkan bahwa HTI memiliki hubungan yang baik dengan berbagai organisasi, lembaga dan ormas Islam. Hal ini memang sesuai dengan kenyataan. Berbagai aktivitas yang diadakan HTI sering dihadiri oleh tokoh-tokoh dari berbagai ormas. Selain itu, HTI menghadiri undangan dari berbagai ormas yang terus mengalir ke kantornya. Silaturahmi pun terjalin terus-menerus. Ini semua menafikan pandangan sementara pihak bahwa gerakan yang mengusung gagasan Khilafah ini bersifat ekslusif terhadap organisasi, lembaga dan ormas Islam lain. Karena itu, tidaklah mengherankan bila Din Wahid dalam rekomendasi penelitiannya menyebutkan, “HTI perlu disikapi dengan dialog, bukan dengan stigmatisasi.”

Ada beberapa poin penting yang bisa dipetik dari Seminar di atas. Pertama: hasil penelitian ini membuktikan bahwa kekhawatiran terhadap HTI selama ini tidaklah beralasan sama sekali. Ini dibuktikan bukan hanya secara teoretik, tetapi juga secara praktik. Ekspos hasil penelitian oleh lembaga yang relatif kredibel kiranya bisa mengurangi tensi kecurigaan terhadap HTI. Ini penting karena selama ini memang ada semacam kecurigaan terhadap HTI bahwa antara teori dan praktik itu berbeda. Maksudnya, secara teori HTI menyatakan diri sebagai gerakan non-kekerasan, tetapi ada pihak tertentu yang curiga HTI melakukan kekerasan atau setidaknya memberikan inspirasi terhadap kekerasan. Nah, hasil penelitian itu membantah tudingan itu.

Kedua: hasil penelitian ini diharapkan bisa menambah kepercayaan diri, bahwa dakwah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, istiqamah menapaki jalan yang pernah ditempuh oleh Rasulullah saw. insya Allah akan membuahkan hasil.


August 20, 12:53 PM
Tidur setelah sahur memang jamak dilakukan orang pada bulan puasa. Namun dokter spesialis penyakit dalam, Ari Fahrial Syam, memberi saran sebaiknya hal itu tidak dilakukan. “Karena makanan belum dicerna dan malah bisa berbalik dari lambung ke kerongkongan (atau biasa disebut refluks) karena pengaruh gravitasi,” kata dia ketika dihubungi, Jumat lalu.

Jika refluks terjadi, Ari melanjutkan, asam lambung akan naik dan melukai kerongkongan. Karena mengalami luka, kerongkongan akan terasa panas seperti terbakar, dan mulut pun terasa pahit.

Dia punya cara untuk menyiasati kemungkinan terjadinya refluks asam lambung ini. “Dengan cara tidur setengah duduk atau tidur menggunakan bantal yang tinggi,” kata Ari.

Namun dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu lebih menyarankan orang yang berpuasa tidak tidur setelah bersantap sahur. “Sebenarnya kan percuma tidur, paling cuma satu jam,” katanya. Ideal-nya, ia menambahkan, seseorang boleh tidur dua jam setelah makan. “Tapi masih bisa ditolerir tidur satu jam setelah makan,” kata Ari.

Makanan yang sukar dicerna, Ari melanjutkan, adalah makanan yang terlalu berlemak. Keju dan minyak dalam jumlah banyak akan memerlukan waktu dua jam untuk dicerna. Sedangkan nasi dengan sayur berkuah atau telur dan ikan rebus biasanya memerlukan waktu satu jam untuk dicerna.

Agar lambung punya cukup waktu untuk mencerna santapan sahur, peraih Young Clinician Award pada World Congress of Gastroenterology Bangkok 2002 itu menyarankan orang yang berpuasa makan sekitar satu jam sebelum waktu imsak. “Jam 3-an sudah makan makanan padat. Jangan mepet-mepet waktu imsak,” katanya.

Barulah mendekati waktu imsak, menu dilanjutkan dalam bentuk camilan, buah-buahan, dan minum air putih. Dengan cara ini, ketika tidur, makanan sahur telah dicerna dan terhindar dari refluks. Seusai salat subuh, jika memang sangat mengantuk, orang yang berpuasa dianjurkan tidur sebelum beraktivitas.

Ari juga menjelaskan bahwa nutrisi yang paling diperlukan manusia secara garis besar adalah karbohidrat, protein, dan lemak. Untuk santapan sahur, ia sarankan agar makan nasi, kentang, dan ubi sebagai sumber karbohidrat. Untuk protein,daging, ikan, dan telur bisa menjadi pilihan. Lemak dapat diperoleh dari minyak dan daging ayam negeri.

Namun, Ari mengingatkan, orang yang berpuasa untuk menghindari makanan yang mengandung lemak berlebih saat sahur karena susah dicerna. Demikian pula konsumsi susu. Bagi yang berusia di atas 30 tahun, sebaiknya memilih susu rendah lemak atau bahkan tanpa lemak.

Konsumsi cairan yang dianjurkan Ari adalah jus buah-buahan, seperti mangga atau jeruk, karema menyediakan vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh. “Tapi jangan pakai gula atau susu,” kata Wakil Sekjen Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia itu.

sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5053053


August 18, 04:26 AM

Uploads

abcdefghijklmnopqrstuvwxyz abcdefghijklmnopqrstuvwxyz