Memaknai “perubahan”, adalah menjalankan dan menikmati setiap langkah prosesnya. “perubahan” bukanlah mengejar deadline atau gebetan yang sudah terlihat jalan dengan saingan kita. “Perubahan” adalah proses, sama halnya dengan meniup dan menghembuskan nafas, sama dengan menunggu sembuh dari sakit, sama dengan menjalankan kendaraan ke tujuan tertentu. Ada tersengal, ada perih, ada macet, namun pasti ada sesuatu yang bermanfaat. Kesulitan kita bernafas, kesakitan kita saat meneteskan cairan penyembuh pada luka, atau bahkan kesialan kita terjebak banjir di Jakarta, tampaknya tidak pernah membuat kita berhenti. Tidak membuat kita diam selamanya. Malah, di saat selanjutnya, proses-proses itu akan kita jumpai lagi. Akan kita jalani lagi. Tanpa kita tahu, tantangannya akan sama atau tidak?
“Membuat Perubahan” adalah salah satu dari sekian banyak nilai yang ada semenjak kita disebut “manusia”, diberi nama, hingga dapat berada dimana kita kini berada.
Menjadi seorang Anak Muda, banyak yang bilang merupakan kesempatan yang tidak pantas disiakan. Masa-masa gemilang untuk melakukan sebanyak-banyaknya - khususnya untuk perubahan. Bukan tidak sepakat sih, tapi bagi saya, masa muda sama saja ‘emas’nya dengan masa-masa lain yang ada dalam kehidupan, sama berartinya dengan waktu-waktu lain yang sudah atau belum terlewati. Lalu, apa pertimbangan “Membuat Perubahan” itu sendiri dimata seorang anak muda seperti saya?
Perubahan sosial yang sesungguhnya bagi saya, adalah hal, tindakan, sikap, aksi, kegiatan, atau apapun namanya - usaha yang melibatkan tidak hanya waktu atau tenaga kita, melainkan melibatkan seluruh aspek dalam kehidupan si pembuat perubahan tersebut. Ada perasaan, keyakinan, kekhawatiran, pengalaman, keinginan, hingga ambisi dan egoisme dalam sebuah ‘bungkus’ berisi perubahan. Perubahan sejatinya, bukan hewan herbivora yang hanya mau makan tumbuhan, juga bukan karnivora yang hanya kenal daging-dagingan, perubahan adalah ‘pemakan segala’.
Tanpa perlu pandang apa yang kita sukai, apa yang ingin kita rubah, dengan cara apa, bersama siapa, dan lain sebagainya, “perubahan” adalah jalan. Jalan yang seharusnya bisa ditempuh siapa saja dalam kondisi apa saja, kapan saja, dimana saja, selama itu tidak merampas Hak Asasi Manusia orang lain.
Saya sendiri memilih untuk menjadi dan menjalani setiap inci perubahan yang ingin saya wujudkan dengan segenap kemampuan dan ketulusan yang saya punya. Ketika saya tidak cukup mampu pergi mengajar ke daerah terpencil di sudut Sumatera sana misalnya, maka bukan berarti saya tidak melakukan apa-apa, mungkin disaat itu saya memilih untuk mengotak-atik lemari buku pelajaran saya jaman Sekolah Menengah Atas dan sadar buku-buku tersebut seharusnya sudah tak lagi disitu, melainkan di gubuk anak penjaja koran yang sehari-hari berjualan di sekitaran kampus saya.
“Proses”, sama seperti “perubahan” yang selalu saya jadikan perjalanan sekaligus tempat persinggahan dalam masa hidup saya. Perjalanan yang sangat nikmat tanpa peduli kapan dan dimana bisa menemukan pom bensin untuk isi bahan bakar. Tempat persinggahan yang aman dan nyaman tanpa perlu khawatir akan dicopet atau kena peluru nyasar.
____
tulisan ini ditulis 1 tahun lalu, tepatnya 13 Januari 2012
NNR
#15 dari #365tulisan2013