Jika yang kita bicarakan tentang luka, lebih baik meminta ‘tiada’ dibanding ‘jeda’.
Hanya sebuah alunan nada tanpa kata, terangkum lamunan sosokmu begitu nyata. Kerja sama yang sempurna oleh hati, mata dan telinga.
Hanya sebuah panorama yang serba tanpa kita, sepi pun menyapa. Aku menyelipkan serba-serbi bayang dan angan. Melebur menjadi penunda luka.
Hanya sebuah bunga tidur. Tercicip manis dan terasa membentengi seluruh ruang untuk ikut campur. Dimana aku tak pernah ingin terbangun, dimana waktu begitu berharganya meski hanya sebentar. Sebuah putaran kesempatan yang tidak ingin kubagi dengan siapa-siapa.
Jangan bertanya kenapa. Merasakannya adalah jawaban paling tepat yang bisa kau dapatkan. Jangan kau kira aku setuju dengan setiap pahit yang mereka suguhkan. Aku terlalu memujamu, bahkan meski kamu hanya berbentuk mimpi. Kepalaku semacam terbentur, seisinya teraduk, tidak ada satupun ingatan terkait denganmu yang mudah luntur. Kukira dengan mengajak kaki pergi menjauhi duniamu, duniaku akan baik-baik saja. Ternyata tidak. Tidak ada yang lebih baik jika segala-galanya tersedia dengan sebuah tanpa.
Kamu yang seharusnya tidak dihadirkan, aku tidak bisa menolak saat semesta melampirkan.
Aku tidak ingin menyelesaikan apapun, karena pertambahan sehari adalah permulaan baru denganmu. Aku tidak ingin sebuah akhir agar kita pun bisa meneruskan lagi cerita-cerita yang menyertakan perjalanan mendewasa hati. Aku ingin lebih banyak kita tanpa khawatir yang mengada-ada. Di perjalanan berlabuhnya hati, tentang menemukan dan ditemukan. Tentang hati yang masih semu menjatuhkan kemana pilihan itu. Ini bukan masalah bahagia atau tidak, bersama atau sendiri, tapi tentang kita yang tidak kuatir akan apa-apa asal hati dijaga si penghuni.
Di pertambahan hari, tentang cerita yang dilahirkan dan kenangan dikuburkan. Aku akan melepaskan ketakutan dan menukarnya dengan senyuman. Kita yang masih berbentuk tanya, rahasia dan ketidakpastian yang nyata. Bolehkah aku menutup mata sebentar, bermimpi lalu membebaskan hati? Mungkin, jutaan dari mereka meminta akhir yang bahagia. Aku percaya, tanpa akhirpun jika bersamamu aku pasti akan bahagia.
Tapi jika boleh menghadirkan sebuah pinta, aku ingin kita saling bahagia karena kita menjadi pusat bahagianya. Bukan kalian, kami, atau siapapun terlepas dari kita.
Pada tumpukan kesibukan, bercampur-aduknya kerumitan, tak kejelasan perasaan, aku menuliskan hiruk-pikuknya kerinduan.
Untuk inisial ke delapan belas,
Suratmu sudah kudiamkan berminggu-minggu. Aku berusaha mengacuhkannya. Aku berusaha untuk tidak memaafkan jeda tanpa kabar-kabarmu. Aku berusaha amnesia untuk seolah lupa tentang kita. Aku mendikte hati bahwa yang ada seharusnya benci. Tapi hati tak bisa tertidur dengan kemauan logika. Sekalipun jeda itu nyaris menghilangkanmu dari peredaran duniaku, tapi hati tak bisa dibohongi akan perasaannya yang masih begitu lugas. Tentang kepergianmu yang tiba-tiba, tentang tanya dan praduga yang disodorkan berulang-ulang oleh hati, seharusnya aku tidak memaafkanmu. Tapi bukankah cinta tak kenal kata seharusnya jika hati telah menurunkan perintah. Tidak ada yang perlu kukoreksi. Mungkin sejuta praduga di kepala kita isinya sama. Jelas-jelas itu karena ulah kita yang merumit-rumitkan rasa.
Maaf untuk permulaan surat yang cukup mencakar. Aku benci kita yang seperti ini. Tadinya hanya persoalan jarak, tapi menjejak jadi sesuatu yang memuncak. Aku hanya khawatir jika kita berakhir tanpa alasan yang bisa kujadikan pengecualian. Jangan tanya soal rindu, dialah yang selama ini menjagai hariku tanpamu. Satu-satunya hal yang sedang kubiasakan adalah menerima sebuah ketiadaan. Jika tugasmu sudah selesai menjaga kesehatan seisi pedesaan, mampirlah kesini ke hatiku. Mungkin hati juga perlu disembuhkan dengan sedikit pelukan. Aku tahu kita akan baik-baik saja. Perjalananmu juga perjalananku, perjalanan kita. Entah kemana nantinya akan bermuara, semoga kita bisa mengatasinya.
Di sela-sela hiruk pikuknya hidup, aku selalu menyelipkanmu yang hening sebagai penyeimbang duniaku. Sungguh, rasanya tak sanggup menyelesaikan surat ini. Tapi setidaknya ini salah satu perpisahan termanis, yang terangkum tanpa tangis. Di usainya surat ini aku melepaskan huruf-hurufku untuk berlari memelukmu, melegakan hatimu. Aku tahu tidak akan lama sayang. Kita hanya sedang berenang melepaskan penghimpit hati, mendewasa, dan menumbuhkan semakin banyak cinta. Ceritakan aku tentang duniamu disana pada surat berikutnya ya.
Aku menunggu, aku ingin tahu.
Sampaikan salamku untuk Banda Neira.
(untuk @raymnd)
Sebelum melepasmu aku melampirkan secarik rela. Menutup mata, menutup hati dan bersiap terjun tanpa kamu lagi. Tapi tangan transparan itu membawa lari relaku pergi. Jauh entah ke dunia rahasia mana. Aku berusaha mengejarnya dari selatan sampai utara. Aku tidak bisa menempuhnya. Di sela-sela ketidaktenanganku, kamu justru hadir dan mengepungku dengan siasat baru untuk membiarkanku tetap disitu. Disinilah aku, diruangan tak berpintu.
Mata tersaji dengan dua pilihan saat aku membukanya. Menikmati keindahanmu atau melukai hati jika kalau-kalau kamu bersama dia lagi. Di ruangan tak berpintu ini, aku tak ingin terluka lagi. Jika ingin melukaiku dengan hal-hal yang bersebrangan dengan maunya hati, tolong sediakan pintu lain agar aku bisa keluar untuk menyembuhkan luka. Kalau begini aku entah harus bagaimana. Percik-percik luka mulai menyetrumku dengan luar biasa. Melepasmu adalah hal tersulit, tapi dibiarkan diam di sangkar angan tanpa mendapatkan kepastian juga tak kalah sulit.
Tolong. Tolong beri aku pintu keluar. Meski tak bisa aku menculik hatimu pergi, tolong ijinkan aku menyembuhkan hati sembari menemukan rela.
Hanya dua kata, tapi mengganggu seisi kepala. Nyawa dari maknanya yang tak seberapa buatmu, begitu menggema di hatiku. Sederhana, malam itu aku bahagia mendengarnya. Terlepas hatimu sudah berpenghuni, untuk kali ini aku berusaha tidak peduli. Berkali-kali aku menghindari arenamu. Berkali-kali aku menjauh, tapi semakin tanganmu mengeratkan pegangan untuk tak melepaskan. Cinta ini seharum wangi kopi, tapi realita tercicip pahit sampai ke nadi. Kerakusanmu akan temu sebenarnya menyenangkan hatiku, tapi tak mengamankan kondisi hati.
Seberapa sering kamu menyelipkan namanya di sela-sela pertemuan kita? Sesering itulah aku terluka. Dan sesering itulah aku menguatkan hati, tanpa tahu hati sudah pecah dan tak bisa direkatkan lagi. Karena kamu adalah obat sekaligus pencipta luka sekaligus.
Kamu mencintai dia, aku mencintai kamu. Ada yang terlambat dan terasa terlalu cepat. Tentang kebetulan-kebetulan yang menggandeng kita untuk terus bersama, apakah tujuannya? Apakah tujuannya jika menghadirkan dia yang menjepit seluruh mimpi kita untuk berhenti di titik yang entah sementara atau selamanya. Terlambatkah untuk mencuri hatimu? Terlalu cepatkah untuk berhenti berharap bahwa suatu hari kamu bisa kumiliki? Jika waktu bisa berputar ke masa dimana kita hanya sepasang asing, mungkin tak ada yang akan bersaing. Dan mungkin kini kita bukan saling yang bersilang dan berpaling ke lain hati.
Berjelajahlah dulu, aku masih menunggu tanpa tau titik habisnya daya tahanku. Inginku tak ada, selain memilikimu yang masih berbentuk angan-angan. Semoga semesta mendengar isi hati yang semestinya diutarakan. Aku tahu, mereka sedang mendengarnya.
Aku pernah bertanya-tanya tentang ketidakhadiran mereka yang mengaku akan selalu ada.
Sewaktu awan kelabu tiba, akulah satu-satunya yang berusaha mati-matian mengusirnya. Tapi disaat duka menyapaku, kemana perginya mereka?Sewaktu miliaran peduli dan kebaikan terkirimi, ada yang menolak dan bahkan sama sekali tidak menghargai.
Kini aku belajar beberapa hal. Luka bisa hadir karena mereka, tapi takkan tinggal tanpa seijin kita. Jadi aturlah pola pikirmu.Mungkin orang-orang yang biasa kita temani sewaktu mereka sedih, sedang dibutuhkan orang lain untuk mengusir kesedihan.
Tidak apa-apa hati, ini bagian dari rasa. Mendewasalah.
Agung : “Wajahmu bersinar, meski berbayang kesedihan. Aku mencari tetes air mata, dari tawa yang tawar dan lengkung pelangi di atasnya.”
Aku : “Untuk apa mencari air mata? Ia sudah bersembunyi di tempat rahasia. Seketika lega menuruni tangga, bungkam ini pun luluh juga. Meski sebenarnya pahit yang terangkum masih menyamar dibalik setiap senyum.”
Agung : “Mengapa membendung kesedihan, padahal alirannya akan bermuara kepada samudra kebebasan, hingga menguap oleh hari esok yang lebih cerah.”
Aku : “Mungkin memang ada yang perlu dibendung, agar tidak meledak-ledak. Mungkin kita hanya perlu membatasi segala sesuatunya agar seimbang.”
Seketika gelap, lelap menyergap. Kami mengemasi pikiran kami sendiri-sendiri. Selamat tidur kamu dan aku.
(Aku dan @agngft)
Aku sadar, bahwa semakin lama aku berada di zonamu luka akan semakin menyebar. Karena itulah aku menghindar.
Pada keterlambatan tibamu nanti, ada sebuah janji untuk tak mempertanyakan keberadaanmu selama ini.
Pada keterlambatan tibamu nanti, aku takkan menghitung waktu pada arloji. Tapi aku akan mensyukuri kamu yang kusebut calon penghuni hati.
Pada keterlambatan tibamu nanti, mungkin aku akan hibernasi bermimpi. Sungguh, tidak ada yang lebih kuingini selain melihatmu di sisi.
Di bawah cakrawala ketika senja terjadi di pantai malole, Banda Naira.
Kepada, Patricia
Aku tak berani banyak menduga-duga, atau memberi soal tanya-jawab untuk seisi kepala tentang suratku ini kan tersampaikan untukmu atau tidak. Karena hal itu hanya akan membuat debar dadaku memuncak, mungkin sabarku bisa saja jadi musuh satu-satunya yang kupunya, sebab kepalaku enggan beradu argumentasi tentang keadaan kita sekarang ini. Namun dari pertama kutulis surat ini, agar kau tahu, kekasihmu ini merindukan lengkung bias cahaya yang terpantul di matamu; spektrum warna yang kugilai indahnya.
Jika surat ini memang telah sampai di tanganmu, aku berharap kau tidak membaca surat ini sesambil menangis, sebab telah banyak air matamu kau tumpahkan untukku. Pertengkaran kita yang terakhir di depan rumahku, ketika itu turun hujan, kau memaksaku untuk tak pergi jauh meninggalkanmu. Di sisiku, aku menangis, bukan untukmu, namun untuk ketidakberdayaanku mencintai dua hal; kau dan juga pengabdianku pada dunia kesehatan.
Di sini aku baik-baik saja, Patricia, dan perasaan ini masih sama seperti sejak masing-masing dari kita salah tingkah ketika pandangan kita bertemu lalu tak sengaja saling bertatapan; debar cinta kali pertama.
Sebenarnya dengan surat ini, aku ingin memberitahukanmu bahwa aku sudah lama pergi meninggalkan kota kelahiran kita, mungkin sudah terlambat dan aku juga tak akan menduga-duga bahwa kau tak tahu aku ditugaskan di daerah ini. Keesokan hari setelah pertengkaran hebat kita, aku pergi dengan membawa sisa-sisa amarah terhadap semesta, kepada diriku sendiri, dan kepada lunaknya sendi-sendi tubuh ini yang terbawa arus pilihan yang tak mampu untuk kutinggalkan. Sebelum menuju ke bandara, aku sengaja meninggalkan kertas di depan rumahmu kala itu, pagi-pagi buta, surat yang berisi alamat tempat yang kutinggali sekarang ini, juga nomor telepon klinik tempatku mengabdi. Aku ini lelaki pengecut, tak sempatnya lima menit, kertas itu kurobek. Biarlah, lagi pula inginku, kau bahagia, dengan tanpa kehadiranku sekarang. Kau pasti mencemaskan keadaanku. Sekotak paket berisi pakaian hangat juga syal dengan rajutan tangan yang halus. Telepon-telepon yang tak satu kalipun pernah ku angkat. Aku pastikan itu darimu. Perjuanganmu begitu gigih, sayang. Tak banyak orang-orang yang tahu keberadaanku sekarang, kau pasti bertanya kepada ibu. Ibu memang baik, padahal sebelumnya aku sudah memohon beliau untuk tak memberitahukan keberadaanku kepada siapapun.
Maaf, Patricia
Saban hari kekasihmu ini harus berkeliling di desa yang amat terpencil untuk memeriksa kesehatan-kesehatan warga, aku memperjuangkan peradaban dan kemajuan di sana, sebab banyak dari mereka yang tak begitu akrab dengan dunia pengobatan modern. Tetapi aku bahagia, setidaknya perjuanganku tidak sia-sia. Mereka sekarang tak lagi sering beradu debat atas hal-hal yang mereka anggap tabu dan bagiku, cara pengobatan mereka dengan perihal dunia ruh leluhur.
Setengah tahun berlalu.
Tunggulah sedikit lagi, Patricia. Akan ku selesaikan tugasku di sini dan kembali pergi kepadamu.
Kekasihmu.
Aku tak menagih ‘selamanya’ tapi tolong jangan selamanya kamu jadikan hati serupa bianglala rasa.
Kepala sedang meramu barisan kata, tapi semacam ada tembok raksasa yang menghalangi rasa untuk diutarakan.
Masih tempat yang sama, tempat pencipta bahagia. Tapi tanpa kamu, yang tersisa hanyalah hampa.
Masih tempat yang sama, tempat tertinggalnya jejak dan pelahir sesak.
Masih tempat yang sama, hanya perasaan-perasaan kita saja yang berkelana.
Masih tempat yang sama, tempat sepasang asing menyapa dua hati yang telah menjadi puing. Hati yang retak karena ego masing-masing.
Masih tempat yang sama. Tapi yang diantar olehmu bukan lagi aku, melainkan dia.
Masih tempat yang sama, titik temu dari dua penjuru yang terpenjara jarak. Tapi sayangnya disinilah kata ‘usai’ justru dimulai.