Creeping between words and punctuation
Di luar semua pelajaran yang diwajibkan untuk dipelajari umat manusia dari jaman kompor batu sampai jaman impor sapu, di atas aljabar di atas biologi, seharusnya adalah....
pelajaran kecewa.
Terlalu banyak hal yang mengecewakan di atas bumi. Bangun saja dari tidur, nggak perlu beranjak dari kasur, cukup buka timeline twitter dari smartphone yang nggak pernah nganggur, kekecewaan siap meluncur. Bangun ke dapur, telurnya direbus bukan diceplok seperti kesukaanmu. Kecewa menyamar di atas piring. Mengejar interview, lari keluar, jegat taxi penuh semangat, jalanan macet tanpa celah. Kecewa di atas aspal.
Semua hal di atas bumi ini punya bakat untuk mengecewakan. Dan manusia, lebih dari apapun entah mengapa adalah makhluk paling berbakat dalam hal mengecewakan sekaligus dikecewakan. Siap-kecewa pun menjadi keahlian penting yang patut diasah dan di-maintain seperti akun-akun sosmed campaign. Kecewa itu kan buntutnya harapan. Jadi ya kuncinya jangan salah naro harapan. Jangan naro di ‘tempat’ yang paling berpontensi ngecewain. Berhubung manusia itu makhluk yang menurut saya paling mengecewakan, yah jangan lah banyak-banyak naro harapan sama mereka. Kalopun iyah, milih-milih lah.
Mending sebelum kecewa lari ke indomart atau alfamart terdekat, cari kulkas walls, ambil buavita smoothies rasa stroberi. Atau nyalain internet, buka youtube, dan cari channel karaoke.
nabi. Kalau n diganti dengan b, dia menjadi babi. tidak nabi. kalau b diganti dengan n, dia menjadi nani. tidak babi. black box. kalau b diganti dengan p, dia menjadi napi. tidak nani. kalau n diganti r , dia menjadi rabi. black box. tidak napi. kalau b diganti dengan s, dia menjadi nasi (“Black Box”).
| Oke, gambar ini memang nggak berhubungan sama tulisannya. Diambil dari salah satu karya yang ditampilkan di pameran Urban Art Salihara |
| Acara Park(ing) Day 2012 di Jakarta sebagai simbol "Reclaim Your City!" 'mencaplok' private space untuk dijadikan 'public space' |
"...setidaknya di sini wajahnya pintar-pintar, tidak seperti penonton acara pagi itu.." [suara tawa yang palingan di-mix sama efek]
Itu kurang lebih sekilas kalimat yang saya dengar dari kilasan iklan program Stand Up Comedy Metro TV. Kalimat tersebut (kalo saya nggak salah lihat mukanya) diucapkan oleh Soleh Solihun, yang kalo saya nggak salah juga, dari majalah Rolling Stone. Saya asumsikan yang dimaksud 'acara pagi itu' adalah acara-acara musik semacam Dahsyat dan Inbox.
Oh poor you, orang-orang yang merasa pintar hanya karena mendengarkan The Smiths bukan Britney Spears, punya beralbum-album lagu Pink Floyd di laptopnya bukan Westlife, memakai kaos Belle and Sebastian bukan Justin Bieber, dan pergi menonton ERK bukan ST12.
Lagipula, tidakah kamu tahu penonton-penonton acara pagi itu dibayar? (CMIIW) Tidakkah kamu tahu bahwa mereka melakukan itu untuk cari uang? Mereka yang kausebut 'bodoh' atau 'tidak pintar' itu mungkin memang nggak ngerti siapa Morrissey karena memang nggak punya akses untuk tahu (dan nggak wajib fardhu ain juga kan ya). Jangkauan mereka mungkin memang sejauh Syahrini (dan nggak dosa juga loh). Mereka mungkin nggak punya akses internet supercepat seperti yang disediakan oleh papa-mamamu untuk tahu bahwa di negeri ini ada band-band lain di luar "acara pagi itu". Intinya, mereka nggak punya akses untuk menjadi 'pintar' versimu.
Tapi menurut pendapat saya, lawakan bilang mereka 'bodoh' sama sekali tidak menggelitik dan bikin saya ingin ketawa. Lawakan itu nggak lebih baik dari lawakan menghina fisik ala Tukul. Fenomenanya sekarang yang saya tangkap, orang-orang yang suka atau pura-pura suka standupcomedy itu punya pride lebih karena nggak suka Opera van Java dan merasa lebih pintar. Masalahnya, orang-orang kok merasa pintar hanya karena suka sesuatu padahal mereka sama sekali bukan kreatornya juga? Image 'pintar' paket instan.
Akhir kata, Sule (yang mungkin menurut kalian para 'orang pintar' kampungan) jauuuuuh lebih lucu buat saya. Yah, kalau menurut ukuran 'pintar' kalian saya 'bodoh' karena suka Sule, who cares? I don't need people to say that I'm smart just because I like that 'superfuckingsmart' stand up comedy.
#5 dari 365 di 2012
Lagu "Mau Dibawa Kemana" punya Armada di-remake oleh Marcell Siahaan. Sejak dipopulerkan oleh Armada memang lagu ini heboh juga. Yang suka lagu ini kurang lebih kebagi tiga: yang bener-bener suka dan come out, suka diem-diem karena agak malu ngaku suka, sampai yang suka ironis (suka dan apal tapi nyanyiin cuma buat nyela).
Seperti lagu-lagu heboh lainnya, lagu ini pun sering dinyanyikan, mulai oleh pengamen, di tempat karaoke, sampai oleh penyanyi-penyanyi terkenal lainnya. Kebanyakan penyanyi yang menyanyikan ulang lagu ini menyanyikannya dengan gaya jazz atau swing, dsb lah. Salah satunya Marcell. Duh ganteng! Tapi saya nggak suka versi ini. Nggak tahu, menurut telinga saya yang bukan pemusik ini sih versi Marcell feel-nya nggak se-oke versi Armada. Mau Dibawa Kemana versi Marcell kerasa terlalu pretensius, hmm.. kayak bermaksud membuat lagu ini jadi 'lebih keren' dari yang asli dan dengan begitu berarti secara sangat terselubung membuat pernyataan yang saya tangkep dengan sangat suudzon bahwa lagu versi Armada menjadi 'kurang keren'. Dengan kata lain, versi Armada terasa lebih tulus. Paling nggak, buat saya.
Dan... sebenarnya kurang lebih hal semacam ini yang juga dilakukan oleh acara Harmoni di SCTV (masih ada nggak sih sekarang?). Lagu-lagu Wali, ST12, Kangen Band, dan band-band yang 'those cool people' sebut 'band alay' ditampilkan dengan iringan orkestra. Lagu-lagu yang biasa dinyanyikan di ruang-ruang karaoke oleh muda-mudi jeukarda nan kewl dengan maksud mencela lagu tersebut dibawakan ulang dengan 'sangat apik' dan 'berkelas' seperti yang ditulis di website stasiun televisi tersebut seperti berikut:
"Mereka akan menghibur pemirsa dengan membawakan sajian lagu-lagu yang telah diaransemen dengan sangat apik dan berkelas."
Apakah itu berarti lagu tersebut 'tidak apik' dan 'tidak berkelas' sebelum diiringi biola dan dinyanyikan dengan jas licin? Atau paling tidak, lagu tersebut 'kurang apik' dan 'kurang berkelas' sebelum lagu tersebut nuansanya ngejazz, ngeswing, atau apa pun itu?
#2 dari 365 di 2012
Widiw, tiba-tiba udah 2012 aja (semoga suku Maya salah, amin!). Mumpung masih awal 2012, mau review kegiatan tulis-menulis tahun lalu nih. Jadi, tahun lalu dapet info dari om yang satu ini tentang 365tulisan2011. Dari judulnya udah jelas, kegiatan ini buat nulis 365 tulisan di 2011. 365 emang jumlah hari dalam 1 tahun, tapi nulisnya nggak harus setiap hari, bebas, yang penting jumlahnya 365. Bebas di-upload dimana aja, biar makin seru bisa sekalian di-share juga di twitter: @365tulisan2011 (sekarang jadi @365tulisan2012). Waktu itu kepikiran, "Wah seru nih, menantang! Ikut aaah, kali aja bisa beneran sampe, atau paling nggak, lebih sering nulis".
Terus sekarang?
Nggak jauh beda! Saya sering iri campur salut sama orang-orang yang punya rencana dan target yang jelas dan sangat konkret dalam hidupnya, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Misalnya, tahun depan mau jadi senior anu di kantornya, bulan depan harus punya mobil, tahun depannya lagi harus dapet penghargaan ono, tahun depannya lagi beli rumah, dan seterusnya. Mantap deh. Sementara saya, bisa dibilang, setahunan ini hidup pakai rumus yang terdiri dari dua kata: jalanin+aje. Kalaupun punya target, nggak sekonkret itu. Ngambang, melayang-layang, mengapung, tinggal disenggol dikit pake sendal juga tenggelam.
"Some of the most interesting people I know don’t know what to do with their lives". Yang bener!?
Apa itu cuma pembelaan diri tanpa statistik orang-orang yang nggak tahu mau apa ngapain dalam hidupnya? Kayak saya sekarang misalnya. *beli kaos tulisan I-N-T-E-R-E-S-T-I-N-G*
Yang jadi masalah adalah.....
Itu kan kalimatnya bukan ‘all the most interesting people’, tapi ‘some of the most interesting people’. Jadi, beberapa aja, nggak semua orang yang nggak tahu mau ngapain otomatis jadi 'most interesting people'. Bagaimana kalau ternyata saya memang termasuk orang yang ‘don’t know what to do with their lives’, tapi nggak termasuk ‘some of the most interesting people’? DANG!!
Udah nggak punya tujuan hidup, bukan orang yang menarik juga. Lompat aja sana!
#97 dari 365 di 2011
*gambar dari: http://stuffnoonetoldme.tumblr.com/
Waktu saya SD, lupa kelas berapa, saya punya batu kecil yang selalu stand by di depan pintu rumah. Batu biasa, seukuran jempol kaki kira-kira. Ngggg.... nggak, batunya nggak berpetuah. Nggak ada jinnya juga (kayaknya sih). Yang bikin spesial adalah si batu ini selalu saya tendang setiap jalan dari rumah ke suatu tempat dan sebaliknya, dari tempat itu kembali ke rumah. Tentunya, tempat-tempatnya yang deket dari rumah. Misalnya, kalo lagi jajan Anak Mas rasa keju ke warung Pak De atau Bu Sarmin, maen ke rumah tetangga, atau ngaji di rumah tetangga. Si batu ini bakal saya tendang sampai ke tempat tujuan sambil jalan, pas sampai tujuan akan saya taruh di tempat yang kira-kira aman dan nggak akan hilang atau bercampur dengan batu lain di sekitarnya. Nah, pas mau balik ke rumah, si batu ini bakal saya tendang lagi, dan begitu seterusnya. Kalo nggak salah sih bahkan si batu ini suka saya kantongin deh biar nggak ilang.
Masalahnya......
Sampai sekarang saya nggak tahu tujuan ngelakuin hal sebermanfaat itu. Dibilang seru juga yah nggak terlalu. Keren boro-boro. Asumsi paling gampang sih, mungkin itu salah satu varian OCD saya waktu kecil. Tapi ini emang rada menantang. Bayangkan, kita harus berjalan menggiring si batu yang nggak semenggelinding bola! (Biasa aja ya?) Kita harus pastiin si batu nggak terlalu jauh sama kita tapi nggak deket-deket amat juga. Ini biar kita nggak capek mesti nendang terlalu sering. Belum lagi, yang paling harus dihindari adalah..... (ini bisa disebut kiamat!) kalo si batu nyemplung ke selokan. Wah... ibarat ajal buat si batu. Saya pernah beberapa kali nyemplungin ke selokan dan harus segera nyari batu pengganti yang biasanya perlu beberapa saat untuk adaptasi bentuk dan tendangan lagi.
Saya lupa kebiasaan ini berlangsung berapa lama. Kayaknya sih lumayan lama. Lupa juga kapan berhentinya. Mungkin waktu saya mulai meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki pintu kedewasaan pintu kanak-kanak level berikutnya! Wooohooooo!
*Mungkin kalo jaman saya kecil udah ada cwider, saya nggak ngegiring batu pas jalan, tapi ngecek taimlain
#66 dari 365 di 2011
Langit senja ini mirip warna langit di desktop background notebook-mu. Langit di desktop background notebook-mu yang berwarna biru muda campur jingga, dengan dua siluet burung yang sedang nongkrong di kabel. Mungkin itu kenapa senja ini kamu tidak merangkak ke dalam layar seperti senja biasanya. Pada senja-senja biasanya kamu akan menyalakan notebook Jepangmu, menunggunya sampai 100% bangun dari tidurnya, kemudian setelah muncul gambar yang sudah tiga tahun melebar di layarmu itu, kamu akan pelan-pelan merangkak dan masuk ke dalam sore dalam sebelas inci. Kamu seret bangku plastik dan duduk di sisi jalan aspal tepat di bawah lilitan kabel listrik dan telepon yang di atasnya ada dua siluet burung. Kamu duduk sambil memandangi langit biru yang juga jingga. Biru dan jingga yang tersekat, seperti warna kue lapis dan kue pelangi. Warna-warnanya tidak tercampur. Pada senja-senja biasanya itu kamu duduk diam di dalam layar sampai malam di luar layar turun. Saat itulah kamu akan keluar lagi dari layarmu dan tidur dengan nyenyak semalaman.
Tapi senja hari ini lain. Senja hari ini seperti versi empat dimensi dari desktop background-mu. Seolah-olah kamu memakai kacamata empat dimensi sambil memandangi layar notebook-mu. Senja kali ini, kamu tidak lagi merangkak ke dalam layar. Kamu lari keluar kamar dengan histeris, sampai-sampai lupa memakai sendal (tentu saja kamu tidak peduli), dan menikmati senja yang tidak sebelas inci.
#40 dari 365 di 2011
Di sebuah taman kota penuh galian kabel. Di setiap sisi jalan setapak taman ini tertanam bangku-bangku beton tanpa senderan yang setiap malam sepertiganya alih fungsi jadi ranjang penduduk-penduduk anonim dan alias. Ada danau mini yang airnya sudah kering, anak-anak jaman sekarang menyebutnya tempat sampah. Taman ini berada di kota yang hitam mendung di utara dan kuning cerah di selatan. Kadang perpaduan, tapi lebih sering tersekat. Itulah kenapa burung-burung yang terbang lewati kota ini selalu panik. Ada yang tiba-tiba stroke dan sayapnya kaku, menabrak genteng, tiang listrik, yang paling beruntung berhasil lewati kota dengan selamat tapi dengan bulu yang 60% rontok.
Di pojok utara taman berdiri dua pohon yang dari lebar batangnya tampak belum begitu tua, tapi bukan berarti muda. Jarak antara dua pohon ini enam puluh detik lagu. Jenis lagunya bebas. Dua pohon tidak pernah mementingkan jenis lagu selama lagu-lagu tersebut mampu menyampaikan pesan mereka. Begitulah cara mereka berhubungan. Mereka tidak peduli apakah mereka saling mengerti bahasa masing-masing. Meskipun usia mereka sama, mereka adalah dua jenis pohon yang berbeda. Monokotil dan dikotil. Terkadang sebelum sampai ke mereka, pesan dalam lagu enam puluh detik tersebut akan terhapus angin, tergigit nyamuk, terpeleset embun, termakan tikus got, terinjak gembel. Peduli setan.
Toh yang terjadi antara mereka pun two way monologue. Karena walaupun ini terjadi antara dua pihak, tak ada perdagangan di dalamnya, tak ada pertukaran yang lebih dari sekedar pesan lewat lagu enam puluh detik. Bodo amat, kata mereka. Mereka tak butuh pertukaran, tak butuh saling mengerti, tak butuh omong kosong yang lebih kosong dari kolong-kolong bangku taman dan otak undur-undur. Singkatnya, mereka tak butuh dialog. Lagipula "Untuk apa dialog ketika tanah yang becek bisa menjawabmu jauh lebih menarik daripada lawan bicaramu?", pikir mereka.
#32 dari 365 di 2011
I'm not that into anime/manga, but I love this one!
Clow cards ini adalah magical cards yang diciptakan oleh Clow Reed dalam anime/manga Cardcaptor Sakura buatan CLAMP.
Di bawah ini 4 kartu clow yang pengen saya curi:
1. The Fly
Power: It can create wings for flying. When Sakura uses it, it puts wings on her sealing staff and she can ride on it.
[Aseeek aja nggak perlu macet-macetan, irit, ramah lingkungan. Siap jaket aja selalu biar nggak masuk angin. Jas hujan juga, namanya juga negara tropis]
2. The Rain
Power: It can make rain and, if it interacts with Wood, the two can grow a forest.
[Karena saya suka hujan! Seru kalo lagi panas, tinggal aktifin kartu ini dan adem..]
3. The Illusion
Power: It shows the illusion of what the viewer wishes to see the most, or what its master wants it to show.
[Pengen liat James Franco, Johnny Depp, tempat-tempat keren yang jauh, liat surga sekalian juga kali yah]
4. The Time
Power: It can freely control the flow of time
[Siapa yang nggak mau!?]
Biasanya kalo saya suka satu lagu, saya suka cari-cari cover version-nya. Kalo yang nyanyiin ulangnya terkenal, gampang dicari. Tapi kalo yang nyanyiin ulang nggak terkenal, jaman sekarang udah numplek di youtube, banyak yang bagus (yang nggak bagus juga nggak mau kalah banyaknya). Asal koneksi lagi cihuy aja. Kadang ada juga lagu yang saya suka karena cover version-nya, padahal lagu originalnya nggak suka. Hmm.. mungkin lagu-lagu yang dinyanyiin ulang ini kayak orang yang didandanin ulang. Misalnya yang rambutnya lurus dikeriting atau sebaliknya, gincu merah diubah jadi gincu item, bedaknya ada yang ditebelin atau ditipisin atau jadi nggak pake bedak, yang matanya polos ditambahin eyeliner, maskara, sama eyeshadow, bahkan pake softlens, gaunnya dirobek-robek, ditelanjangin, atau malah dipakein jilbab. Ngomong apa ini!!?
Contohnya lagu Creep. Lagu yang umurnya 4 tahun lebih muda dari saya ini tadi saya cari ulang di dokumen laptop dan nemu 6 versi anaknya.
1. Versi sesama band Inggris, Muse. Ini termasuk versi yang lebih sederhana make up-nya (cuma pake gitar tok) tapi lebih emosian vokalnya, si Matthew Bellamy nyanyinya berdesah-desah dan kayak lebih berkeringat dibanding Thom Yorke. Versi ini kayak cowok yang tadinya bergaya Britpop (jins, kaos, kemeja flannel) diubah jadi nggak pake baju, cuma pake jins. Kalo saya lebih suka versi asli dibanding yang ini.
2. Versinya Prince. Saya nggak ngikutin musiknya Prince, tapi menurut saya versi ini rada bosenin. Dan karena ini versi live, jadi ada tambahan berisik suara penonton sorak-sorak. Tapi kalo mau konsisten sama analogi orang yang didandanin ulang tadi, mungkin kalo versi Radiohead gincunya merah, versi ini gincunya ungu keitem-iteman kali yah.
3. Versi musisi dan DJ Amrik, Moby. Nah ini yang namanya versi tambah menor. Ini juga versi live. Selain full-band, juga ada tambahan musik elektroniknya, yah dia kan DJ. Jadi ini ibarat cowok dengan gaya Britpop yang dipakein jaket kulit, topi, sama kalung.
4. Versi Ingrid Michaelson. Di versi ini, anggaplah si cowok tadi operasi kelamin jadi cewek, terus si cewek ini pake dress katun putih, flat shoes, blush on dan eyeliner tipis, rambut diiket asal. Musiknya cuma gitar, sebenernya instrumen utamanya yah suaranya Ingrid yang kayak sambil niup balon pas nyanyi.
5. Versi koor, grup Scala & Kolacny Brothers. Ini lagu yang ada di trailer-nya The Social Networks. Dari suaranya sih kayak koor anak-anak. Cuma pake piano sama gitar elektrik tipis banget di belakang. Ini versi yang dipakein jilbab kali yah? hehe
6. Kayaknya ini versi yang terbaru, versinya Eliza Doolittle. Si cowok tadi di sini berubah jadi cewek Inggris muda yang suka pake mini-dress atau celana pendek+sneaker dengan nyaman kemana-mana. Selama setengah lagu, isinya cuma vokalnya Eliza sama dikit banget iringan bass gede yang berdiri itu apa namanya yah. Barulah di sisanya ada tambahan perkusi sama gitar. Ini versi favorit saya karena lagi suka-sukanya aja sama Eliza Doolittle, hehe.
Sekian ceracau musik alakadarnya saya.
#17 dari 365 di 2011
Sepotong ulat kelaparan di pojok laptop. Mencoba-coba meracik makanan. Bahan pokok di monitor kanan bawah. Berkejap-kejap angkuh. Bumbu-bumbu telentang sepanjang papan. qwertyuiopasdfghjklzxcvbnm. Ulat mulai memasak. Pilih racik bumbu. Rebus lalu goreng. Di pojok monitor kanan bawah. Kompor volume-based. Masakannya gagal. Si ulat menangis. Berjanji takkan pernah memasak lagi. Sampai kapan pun. Mungkin sampai lapar sebuas hutan kebakaran.
#8 dari 365 di 2011
Saya nggak terlalu suka sama bau khasnya XXI. Entah baunya emang kayak gini di semua XXI dari Sumatera sampai Papua atau cuma di XXI yang saya pernah datangi saja. Baunya itu kayak campuran bau pendingin ruangan campur karpet, atau ada yang bisa jelasin lebih tepat? Saya sempet beberapa kali nggak terlalu nikmatin filmnya karena bau yang buat saya cukup mengganggu.
Saya sebut 'cukup mengganggu' karena memang nggak 'tok mengganggu'. Tingkat 'mengganggu'-nya lemah. Karena saya ingat omongan teman saya yang jarang ngomong tapi sekalinya ngomong cukup berisi. Waktu itu lagi nonton berita di tv dan ada voxpop, "Yah menurut saya ini cukup baik blah blah blah". Lalu si kawan berinisial RM (ini nama panggilannya juga) nyeletuk, "Kenapa yah orang kebanyakan kalo nilai sesuatu selalu pake kata 'cukup'? Kalo baik kenapa nggak 'baik' aja?". Hmm..bener juga. Mungkin ini ada hubungannya sama karakter orang kita yang nggak to the point kalo ngomong. Sotoynya saya sih begitu.
X: "Nilai lo gimana?" Y: "Yah lumayan lah..cukup bagus".
Lalu si X lihat transkrip nilai si Y, ternyata A semua. Ini jelas penggunaan kata 'cukup' yang membangkitkan emosi! Kalo bagus yah bagus aja. Rendah hati? Nggak juga, menurut saya itu jatuhnya malah songong. Walaupun banyak juga yang menyalahgunakan kata 'cukup' sebelum kata sifat untuk rendah hati. "Alhamdulillah, anak saya cukup sukses", padahal anaknya pemilik 10 perusahaan dan kalimat yang lebih tepat mungkin "Anak saya sukses abesss!". Takut dibilang sombong kali yah kalo lebih pilih kalimat kedua. Seperti kata Dorce, kesempurnaan hanya milik Allah. :p
Tapi kalo penggunaan 'cukup mengganggu' buat aroma XXI di awal tulisan ini nggak ada tujuan apa-apa. Takut pihak XXI marah? Geer amat pihak XXI ada yang baca ini. Mau pake kata 'mengganggu' tapi nggak sebegitunya. Jadi yah sekali lagi, memang aroma XXI buat saya hanya cukup mengganggu.
#7 dari 365 di 2011
Bukan OCD tingkat parah yang menyusahkan sih, tapi kadang mengganggu.
1.Obsesif Konsonan (g/d/b/j)
Terutama waktu kecil, selalu dimarahi mama tiap mulai obsesif mengulang-ulang "eggg", "eddd", "ebbb", dan "ejjjj"; tanpa membuka mulut dan tanpa kenal tempat. Mungkin si mama malu. Seperti kekurangan oksigen dan kacau kalo belum melakukannya. Untungnya sekarang udah nggak terlalu. Cuma kalo inget dan ada yang ingetin, jadi mulai lagi, cuma untuk beberapa waktu dan nggak semenyiksa dulu. Waktu kecil mama bilangnya "Itu nanti kena sarap kalo terus-terusan, paur*!". Akhirnya pas nonton Oprah Winfrey Show tahu sendiri kalo itu namanya OCD. Nonton itu jadi sangat bersyukur karena yang saya alami itu nggak bahaya dan terlalu mengganggu. Apalagi di situ ada anak kecil yang OCD-nya teriak "coffee!" dan menggeleng-gelengkan leher tiba-tiba. Ngeri.
2. Lima-Lima-Lima!
Banyak hal kecil yang saya lakukan harus saya lipatgandakan jadi lima kali. Misalnya, saya nggak sengaja nyentuh tembok, saya harus sentuh tembok itu empat kali lagi, biar pas jadi lima. Atau kalo naek tangga atau ngelangkah biasanya sebisa mungkin pas lima kali dan kelipatannya. Kalo nggak, rasanya kayak dosa dan nggak adil. Ngok! Ternyata yang satu ini saya nggak sendiri. Temen saya yang ini juga begitu. Untungnya obsesif disorder yang ini nggak terlalu keliatan dan ketahuan sama orang. Nggak kayak si konsonan tadi yang sampe diancem "sarap" sama si mamah.
3. Pencet-Pencet
Kalo ada yang punya tombol dan nggak boleh dipencet, jauhkan dari saya. Gemes banget kalo liat tombol, baik itu komputer atau dimana pun, termasuk tuas. Sekarang misalnya, lagi ngetik seperti ada tombol-tombol yang minta dipencet agak keras. Random. Dan mau nggak mau harus saya pencet tanpa alasan yang jelas. Sekarang udah bisa dikontrol sih, kayak misalnya kalo gemes pengen pencet tombol 'off' di laptop, nggak saya lakukan. Rasa takut si laptop rusak mengalahkan obsesi mencet tombol 'off' tiba-tiba. Kejadian paling mengganggu: waktu kecil di rumah tetangga pernah gemes liat tuas yang saya nggak ngerti tuas apa, saya buka-tutup dan kena marah orang karena ternyata itu tuas gas alam. Kalo sekarang, paling saya cuma harus maklum kalo keyboard laptop bermasalah karena sering saya tekan keras-keras tanpa alasan.
Ada beberapa obsesif nggak penting-menyebalkan lainnya yang nggak berpola, tapi segitu aja pengakuan obsessive compulsive-disordah saya.
*paur: bahaya
#4 dari 365 di 2011
Dua ribu sepuluh
Inilah jaman di mana wajahmu dibukukan
Manusia mengalahkan burung
"Siapa bilang cuma burung yang bisa berkicau?"
Di abad saat kau bisa bernyanyi berlaga lewat tabungmu
"Like like like", bimsalabim jadi arteysss prok prok prok!Mungkin astronot tidak lagi mengejar planet-planet
Terlalu banyak planet yang sudah ditemukan
Overload di tasnya*
Planet-planet yang mengejar astronot**
Dia memburu apostrophe
Supaya Jumat
Menjadi Jum'at
Senyumnya terselip di sudut apostrophe
Dia berbisik
Kamu adalah you're
Bukan your
Kali ini tak ada senyum terselip
Kedua matanya kontraksi
Ada yang ia tangisi
Merah-kuning-hijau
Air matanya pelangi*
Tangisannya tak butuh apostrophe
Selagi apostrophe bersengketa
Mari berpesta
*terinspirasi dari lukisan ini dari sini
Pada suatu malam sebelum pagi seharga lima puluh ribu rupiah. Dulu semua lelah kubekukan baik-baik di word 97-2003 document, meski lebih sering di rich text format yang waktu itu dokumennya kunamakan dengan nama mata kuliahku. Ini ya rasanya mendengar lagu rock berdebum-debum di telinga dengan hati bernada minor. Kupingku arctic monkeys, hatiku pop melayu. Rasanya seperti makan gulali dengan rasa pedas di lidah. Seharusnya aku ketik itu list untuk besok bertemu calon partner kerja baru, dan beberapa hal lagi yang aku tulis di any.do. Buat weekly report. Tulis pengantar microsite. Tulis artikel community. Google analytics. Dan masih banyak lagi di daftar tomorrow, upcoming, someday, dan banyak banyak lagi di kepalaku. Semua gesture-mu penuh pretensi. Kantong muntah mana kantong muntah. Aku tak pernah lupa pengalaman pertama kali aku makan pecel lele (aku makan ayamnya) diajak oleh kakakku. Bagaimana aku diajarkan cara mencuci tangan sehabis makan dengan cuma kobokan dan jeruk nipis tadi tidak amis. Lap terlebih dahulu tangan yang penuh bumbu dengan tisu, baru masukkan ke dalam kobokan, peras jeruk nipis di tangan, keringkan dengan tisu. Satu set instruksi yang masih aku gunakan belasan tahun setelahnya setiap kali makan di tenda pecel lele. Oh, hati bisa seabu-abu ini ya.
You just can’t simply put too much superlatives in your writing to make it real
and engaging
Very and so much are never enough
You just can’t simply said that you like something so you can do it
Interest is not enough, unfortunately
You need to put some humility to your glass of coffee
And buy a single well-function ear at the nearest human organs shop
But if there’s a day when you ask me any words of suggestion
I think you can just simply talk
With no bluff
Setelah lama tak mampu menulis puisi
Anggap saja minggu lalu
Pantai dan rumah sakit bertetangga
Haruskah puisi selalu untuk siapa
Siapa yang dituju?
Bolehkah puisi tak untuk siapa-siapa,
tak punya alamat,
melayang-layang saja tanpa tali,
jalan lunglai di tengah kota dan tersedak knalpot,
tersesat di pasar,
transit di halte-halte transjakarta.
Puisiku kereta tanpa stasiun
Tiketnya tak pernah dicetak
Karena kamu terlalu dekat dan terlalu jauh untuk dipuisi.
Sore tadi. Di alfamart yang tidak terlalu alfa dibanding indo. Sepi begitu brutal merampas riuh. Tawa terlalu cepat ditelat sabun cair dan teh botol. Fatmawati padat. Terlalu rapat untuk mengelap keringat. Seperti fx di kamis malam yang penuh warga berkeringat. Pelan-pelan aku mengubur kepala di samping eskalator. Minggu di tahun baru. Besok malam kita harus pakai helm. Siapa yang tahu kapan kocokan dadu akan berangka sama lagi. Siapa yang tahu kapan dadu melempar kita ke lantai yang sama lagi. Makan malam pipi kiri, kita turun setelah senayan.
Halo teman-teman,
Pernah ke Bogor? Tau kota Bogor? Atau tingal di Bogor?
Tau kan kalo Bogor kota hujan?
Kalo hujan pasti dingin.
Kalo dingin butuh pelukan, butuh segelas teh hangat, butuh rumah untuk berteduh, butuh keluarga untuk saling menghangatkan.
Tapi sayangnya diluar sana masih…
Di dadaku. Tak ada kamu. Di dadaku. Tak seperti vina. Tak ada seyummu. Di dadaku. Yang ada mesin cuci, menggiling-giling. Memerasmu. Melumat senyummu. Rindu sudah lama menggonggong. Kamu tak juga berlalu. Nyatanya, bertemu tak selalu sudahi rindu. Mendekat kali ini semakin merasa jauh. Dekat yang jauh. Jauh yang dekat. Tidak dua ribu. Aku di mana di situ. Detik kecil sebelah mana yang jadi tempatku di harimu. Bisa saja milidetik. Aku tak pernah tahu, teruskan yg sesederhana itu adalah pondasi yang akhirnya tumbuh menggila menjadi jarak yang pelan-pelan mengenyahkanku. Mengenyahkanmu. Mengenyahkan apapun. Kecuali rasa, bahu, dan telinga.
Di dadamu. Ada aku?
Malam tadi aku melihat bekas luka di tanganmu meliuk-liuk. Mengikuti putaran kepala pulpen hotel, garis-garis, dan narasi selembut sore semanis teh buatan mama. Hati ini menyublim berterbangan mengikut angin menabrak-nabrak jendela kantor dan salon. Kompleks kotak-kotak ini milik kita. Aku dengan kopi pagi kental eksperimentalku, kamu dengan kopi encer yang tampak kamu buat asal-asalan di pagi atau siang menuju sore, membuat aku menebak-nebak apa yang kamu lakukan malam sebelumnya sehingga kau butuh kopi untuk mengganjal mata itu. Padahal mungkin saja kamu seperti aku, hanya ingin minum kopi saja, bukan ingin memenjara kantuk. Aku selalu penasaran cerita menarik apa yang dapat diceritakan bekas lukamu itu yang selalu kulihat setahunan ini. Bagaimana jika kamu bercerita dan aku mendengarkannya sambil menyeruput pagi yang hangat kepanas-panasan?
Seribu knalpot untuk satu rindu
Aku tahu kita cuma kerlipan bintang di langit sesekali
Tak bisa dibeli, tak mungkin dicuri
Butuh ratusan kesal dan kesalahan untuk berdegup dan kecewa
Kamu ada di satu ruang kosong tak berpintu
Yang menjadikan kita adalah jendela
Butuh ratusan kesal dan kesalahan untuk aku sudahi kamu
Lalu reda di bangku kayu
Kita terpaksa tahu
Kita hanya potongan kue tester di hipermarket
Yang out of stock
Yang remah-remahnya disapu berakhir di got mampet
Aku tahu kita cuma kerlipan bintang di langit sesekali
Sesekali lagi di got, sesekali lagi di hipermarket, sesekali lagi di menara pemancar, sesekali lagi, sekali lagi.
A developed country is not a place where the poor have cars. It’s where the rich use public transportation.
- Gustavo Petro, Mayor of Bogotá
Perempuan lajang paling suka beli underwear
Bola mata balita ini membengkak dan meletus
Foto ‘topless’ Kate Middleton segera beredar
Taman pun terlihat seksi….
Anjing tunggui makam tuannya selama 6 tahun
Vespa diulur seperti ular!
Ingin pesan toyota Prius C,
silakah!
Buruh akan gelar mogok massal jika…
Jokowi batal shalat Jumat bareng foke
*Kompas.com timeline mash up, 14 September 2012
Penat tiba di keset welcome. Tombol ‘esc’ di keyboard menyala. Sudah waktunya meluncurkan roket-roket di kepala. Rutinitas, meleleh lewat lubang-lubang harmonika. Cari ranselmu, kita lari dan tutupi bulan dengan telunjuk. Harusnya ini saatnya kita menikmati pohon gunung awan tanpa twitpic. Kunyah habis matahari tanpa sisa untuk instagram. Enjoy your path tak harus di-path. Lalu selesai. Kita lari pulang lagi. Ke kota yg selalu pantas dicaci. Tarik smartphone, rasa dicuci.
I need to bomb these thoughts. Wean it from its addiction to everything. We are walking abortion said those Manic Street Preachers. Silently creeping to catch Kennedy’s bullet, Saddam’s rope, Monroe’s medicine, Antoinette’s guillotine, choose it wisely. Lately, life felt like swimming in the lonely crowd. Sunk under grumbling noise. When listening is not more than a ticket to talk, endlessly. The lonely crowd is an amazingly extrovert creature. They write the script with their unstoppable hands. Flush their loneliness by pushing the ‘enter’ button.
While by the end of the day, the lonely crowd always get lonely.
Semuanya terdesak tak pernah lagi tersedak
Pintu
Menumpuk, bersarang di pojok dada kanan atas
Mengendap di telapak kaki, membanduli langkah
Menguap di kepala tanpa cerobong
Hari ini, air mata semakin klise saja
Menetes lewat twit-twit
Mengering sebelum sign out
Anus
Aku suka naik ojek dengan bulan mengekor di ujung kepala
Rasanya seperti pulang ditemani bulan
Knalpot
Sesungguhnya, memang pernah masuk?
Tempat kita bertemu
Adalah jeda
Saat puisi mati bersama lelah
Rindu meleleh ke gorong-gorong penuh sampah
Sisa mana sisa tak bersisa
Cuma rasa yang bisa didaur ulang
Siapa yang butuh mati
Aku sudah mati ratusan kali
di kepalaku
Ledakan kepala dalam kepala
Terjun bebas dari dua sumur di lantai dua
Siapa yang butuh hidup
Aku sudah hidup ratusan kali
Ketika
aku menyukaimu dengan nol bintang di kolom review
dan ribuan jempol terbalik ke arahmu
Bekas luka di telunjukmu
Masuk ke mimpiku
Matamu tertelan
Dua sumur
Orang-orang menanam pagar duri
Di sekeliling badanmu
Menyebar ranjau di luar kamarmu
Memasang alarm pada langkah kakimu
Mengganjal sumur-sumur
Memompa kabut, dan
Menghujani hujan
#9 dari 366 di 2012
Mengunyah spasi
Bersama koma
sebagai bawang goreng
Titik bukanlah akhir,
karena selalu bisa kuketik ulang
Menelan spasi
Menyisihkan tanda tanya di tepi piring
Ekstra tanda seru
Dengan kata 'enyah' di depannya
Tidak butuh jeda
Tapi sudah
#3 dari 365 di 2012
Karena sore ini begitu ramah melebihi senyum jutaan rupiah presenter TV. Pintu yang nyaris tak pernah dibuka ditemani segelas kopi encer. Nyalakan lampu ruang tengah! Supaya ketika kau masuk ke dalam, suasana hatimu yang bagus itu tidak lumat lenyap dikunyah gelap.
Sudah lama ibumu tidak menggoreng kerupuk udang dan emping untuk makan malam. Biasanya ini adalah waktu ketika nasi ditanak untuk mengisi perut-perut kalian. Belanja bulanan adalah ritual suci roda-roda keras di bawah besi menggelinding di lantai licin supermarket. Diam-diam kau masukan cokelat, taro, dan permen bubuk yang meletup-letup di lidah. Belum cukup, kau masukan juga keripik kentang. Menanti saat ibumu melotot ketika mbak-mbak kasir bergincu tebal itu mengeluarkan semua barang selundupanmu.
Sudah terlalu lama sejak terakhir kali gorden-gorden tipis itu menjadi persembunyian ayahmu mengintip pacar kakakmu yang bertamu. Ah, kursi-kursi besi putih beralas karet.
Kamu. rindu. itu. semua.
Kamu rindu sore hangat, suara televisi, dan pertengkaran-pertengkaran instan yang tersudahi di meja makan. Katika kamu belajar ternyata perut mampu menelan amarah.
Sore ini berbau belasan tahun lalu. Buka pintumu. Walaupun kini tetanggamu kaujumpai di sela-sela koneksi internet.
#96 dari 365 di 2011
#93 dari 365 di 2011
Di sela-sela hari selalu ada lubang hitam. Seperti sumur tak berair. Kamu terjebak di dalamnya. Berdiri. Duduk. Balik kanan. Balik kiri. Jongkok. Rancu! Apakah karena tak tahu kemana jadi tak mau kemana atau karena tak mau kemana jadi tak tahu kemana. Sebenarnya kamu bisa melompat atau memanjat. Meski dindingnya bersemut dan berlumut. Tapi setelah memanjat dan keluar, lalu apa? Jika kamu bisa berjalan dan berlari, lalu apa?
Setiap harimu adalah jalan-jalan penuh asap knalpot dan ludah. Di antara itu, kamu berlari mengejar sudah. Huruf, uang, dan air conditioner yang selalu terlalu. Terlalu dingin, terlalu panas. Kepalamu penuh seperti tas perkakas, kotak bekal dan makanan yang sulit dibagi. Kan lebih baik kamu membagi makananmu sedari awal daripada kamu paksa habiskan itu semua lalu kamu muntah. Di balik kaca itu ada pengacau termanis yang pernah kautemui. Jangan pecahkan kaca, ketuk pintunya, atau pecahkan kaca, tangan berdarah, lalu sudah.
Di sela-sela oksigen selalu ada piring kosong.
Seperti kepala, hati, dan angkot ngetem.
#92 dari 365 di 2011
Aku menyewa kamar di pojok kepalaku
Loker di ujung bibirmu
Kubuka setiap mendung datang
Aku mengontrak satu petak di lidahmu
Satu petak di matamu
Satu petak lagi di telingamu
Pengungsi-pengungsi selalu datang
Tamu yg pura-pura tak sengaja lewat
Aku menyewa kotak pos di ujung jariku
Membilas rindu di menara pemancar
Membeli racun tikus di hatimu
Dear kamu-yang-nggak-boleh-baca-surat-ini..
Kamu tahu nggak kalo saya merasa terlambat dan menyesal baru mulai menyukaimu belakangan ini. Seperti sudah menyiakan banyak hal dari kamu dan kebersamaan kita. Tapi biar bagaimanapun, yang penting, sekarang saya bisa berbagi banyak hal sama kamu.
Kamu pendengar yang baik, juga pembagi cerita yang menarik. Kadang cara kamu perlakukan saya bikin saya terbang. Untuk kembali mendarat, saya coba ingat kalau kamu nggak cuma sebaik itu sama saya. Kamu baik sama siapapun.
Jujur, belakangan ini kamu adalah salah satu orang paling konsisten yang ada di hari-hari saya. Walaupun saya nggak tahu posisi saya di hari kamu, apalagi hati kamu. Mungkin lebih baik saya nggak usah tahu. Ini udah lebih dari cukup. Waktu dan ruang yang kamu kasih.
Mungkin kita emang nggak akan kemana-mana ya. Saya tahu itu. Tapi saya cuma pengen bilang, terimakasih banyak.
Regards,
Saya-yang-kadang-nyesel-harus-kenal-kamu
Aku bukan di pletarium
Aku bukan kosmonot
Tapi saturnus itu selalu mengetuk kepalaku
Ketukannya halus, menggelikan perut
Di dalam kamarku yang sempit dan berantakan
Kamu lupa?
Aroma buku-buku lapuk
Dengan kutu-kutu buku yang mendengkur
Kelelahan menyantapi kertas-kertas kuning yang sempat putih
Berbaris menjadi garis-garis
Rak-rak basi
Membentuk punggung naga besi, ah hanya di mimpiku!
Bab pertama
Aku muda, seperti sekarang
Hanya lebih muda
Kamu lupa?
Masa lalu seperti benih yang menyerahkan dirinya kepada tanah
Tanpa harapan apa pun untuk tumbuh atau berbuah
Tinta-tinta itu
Melantai di kertas-kertas sidu
Muntahan pena itu berevolusi
Menjadi titik-titik di layar
Dari VCD sampai DVD
Dari toko rental sampai kaki lima
Lagu adalah mesin waktu termerdu yang pernah aku gunakan
Lantas kelakar adalah mesin waktu terlucu yang pernah kaubawa
Hari-hari adalah ruang tunggu pasien di klinik jiwa sehat
Sementara malam hanya menjanjikan mimpi yang tak seberapa
….dan
Semoga kamu lupa
Lampu-lampu jalan berdiri terlalu larut
Gantikan aspal yang sudah jaga sesiangan
Waktunya aspal-aspal tidur
Lampu jalan bertugas
Pekerja seks bergegas
Angkot malam lalu lalang
Bertebaran
Lalat hijau bermesin, lalat hijau berbensin
Malam lembab
Mata sembab
Aku ingin koprol ke jutaan malam lalu
Jutaan senja lalu
Lalu lalu apa
Membekulah waktu dan ruang
Yang lain boleh berjalan
Kecuali detik jam di tanganku
Yang lain boleh bergerak
Kecuali roda roda angkot
Yang lain boleh menua
Kecuali kita
Paused…
Di atas lalat bermesin, lalat berbensin
#68 dari 365 di 2011
Kecamatan-kecamatan lahir di sepuluh ujung kukumu
Redup dan terang bersamaan gerakan jari padatmu
Kamu raja, kamu kaisar, kamu sultan, kamu camat
Skor, gawang, seragam, arena adalah keramat
Bukankah kamu yang selalu mengajariku
Cara untuk tidak tertidur di depan televisi
Agar ia tidak mengunyahku
Dan remote control tidak menghisap jari-jari mungilku
Tapi aku butuh lebih dari sekadar nasihat
“Jangan tertidur lagi di depan televisi”
Huruf Z di namamu yang terbuat dari kaki kecoa yang kauinjak
Bintang laut yang selalu ingin kuajak menari
Meskipun selalu aku yang memulai tarian
Meskipun selalu aku yang mengakhirinya
Kehausan tidak pernah meninggal
Bahkan setelah kepalanya kupenggal
Benar-benar berbanding terbalik
Dengan hukum ekonomi
Mungkin kehausan tak mempan dipenggal
Ia harus ditembak di dada kiri
Lalu diledakan
Jika bom di kepalaku meledak
Jika sebelumnya aku berdoa
Detik-detiknya berlari di atas treadmill
Padahal angkanya lari mundur
3…2…1…
(ceritanya lanjutan dari Rubah Misterius)
Sakit! Setelah kepindahanku ke kota yang jauh lebih besar dan lebih ramai ini, pencarian rubah misterius semakin membuatku frustasi. Nyaris setiap tali yang kulihat, bahkan tali sepatu, membuatku ingin ikat leher. Kadang aku pikir mungkin kalau mati aku bisa bertemu dan mengenal lebih dekat si rubah misterius. Tapi aku belum mau mati. Baiklah, aku masih takut mati. Cuma terkadang ada saat dimana aku membayangkan leherku diikat saja lalu digantung di ventilasi, pastikan ventilasiku kuat menahan berat badanku. Pencarian ini lebih menggilakan sekaligus menggelikan ketika informasiku tentang si rubah nyaris sekosong mangkuk buburku pagi tadi. Nol. Yang tersisa hanya seledri pemalas yang tak pernah berusaha lebih untuk bersembunyi di belakang daging, kerupuk, atau paling tidak bawang goreng agar termakan.
Kota baru ini penuh tiang listrik, menara pemancar menggunting awan, remote control universal, kabar burung yang lebih cepat dari roket, dan potongan rambut barumu. Tentu saja, sejak terakhir kali aku lihat rubah misterius di festival kota lama, aku tidak pernah melihatnya lagi. Hanya mengintip-intip ulang ingatan visualku tentangnya. Untunglah aku sempat mendapatkan potretnya walau tak sejelas kemungkinan bahwa aku takkan pernah lagi melihatnya. Sebenarnya aku takut dengan kemungkinan ini. Walaupun kemungkinan aku takkan pernah bertemu dengan rubah lagi sangat besar, tapi aku masih berusaha mencarinya.
Pertama kali pindah ke kota ini, aku langsung mengunjungi taman kota. Ada tiga taman kota di sini. Taman yang terbesar tidak dibuka umum. Hanya sebatas tiket tentu saja aku pertaruhkan demi memutus rasa penasaranku ini. Taman ini meski berbayar, tidak begitu menyenangkan. Banyak toko dan tempat makan di dalamnya. Tunggu beberapa tahun lagi, mungkin taman ini akan dipanggil 'mall'. Taman kedua sebenarnya hampir sebesar taman sebelumnya, tapi beberapa kabar burung menceritakan kisah aneh. Sudah kusebutkah bahwa di kota ini kabar burung melesat lebih cepat dari roket? Kabar burung berkicau bahwa ukuran taman kedua ini akan berbeda besar-kecilnya tergantung orang yang memasukinya. Ada orang yang merasa taman ini sangat kecil sampai mengiranya halaman rumah seseorang. Ada juga yang merasa taman ini sangat besar, merasa tersesat di dalamnya. Taman ketiga, menurutku, taman terindah di kota ini. Bunga-bunganya, pohon-pohon, lampu-lampu, bangku-bangku, bahkan semut-semut dan belalangnya seperti merasa sedang menjadi set film romantis.
O ya, dari pencarian di ketiga taman itu, rubah misterius masih misterius. Ada saat di mana setiap aku keluar rumah, mataku selalu awas barangkali rubah misterius akan tiba-tiba muncul di depan, di kiri, di kanan, atau mungkin di atasku. Ada juga saat di mana aku berpikir si rubah mungkin akan kutemukan jika aku tidak mencari. Tapi bahkan saat aku berpikir seperti itu pun sebenarnya aku masih mencarinya. Pikiranku bahwa si rubah mungkin akan kutemukan jika aku tidak mencari adalah salah satu caraku mencari si rubah. Jadi, aku tidak pernah tidak mencari.
Beberapa kali aku bertemu dengan kakaknya, si kucing. Sekali aku menanyakan adiknya lagi dan dengan garongnya lagi-lagi sembari makan ia berkata bahwa ia tidak tahu si rubah dimana. Seperti ada bisikan yang memberitahuku bahwa sampai kapan pun si kucing tidak akan menjawab pertanyaanmu dengan jawaban lain selain tidak tahu dan geleng-geleng kepala. Di pertemuan-pertemuan berikutnya, aku tidak pernah mau menyapanya lagi. Tidak perlulah aku ceritakan lagi cara-cara anehku dalam mencari si rubah. Seperti saat aku naik ke menara pemancar dan diam selama 36 jam untuk mencari si rubah. Got-got bau neraka kota ini pun pernah kulewati dengan empat muntah dalam sehari. Sampai di hari sabtu lalu. Ketika aku sedang berjalan menuju pasar sambil memperhatikan kabel-kabel kota sekusut rambutku, tetap dengan mataku yang masih awas.
Aku menemukan sebuah saluran air yang jika kuikuti alirannya akan membawaku ke sebuah sungai. Di sungai itu tinggal berbagai jenis hewan. Di sisi sungai, ada sebuah pohon dengan daun yang baru dipangkas. Aku memperhatikannya dari semak-semak. Tidak terlalu jelas, tapi aku yakin di balik pohon tersebut ada rubah misterius yang sedang tidur. Aku tak berani mendekatinya, karena jika ia kabur sepertinya aku akan lompat dari menara pemancar. Aku tidak akan mendekatinya lebih jauh dari ini dulu. Paling tidak sekarang aku tahu dimana salah satu tempat bermain si rubah. Dan aku punya semak-semak yang nyaman untuk mengintip si rubah meskipun ia jarang muncul di sana. Aku tahu ia pernah mengais-ngais tanah di belakang pohon tadi. Bukan berarti kini si rubah sudah tidak misterius. Dan ini bukan lampu merah yang menghentikan pencarianku akan si rubah.
#35 dari 365 di 2011
Arrange editorial, edit, and publish contents to share city stories for an online lifestyle city directory, urbanesia.com.
It's a magazine for youth or high-school students on a Non-Governmental Organization. The magazine talks about human right and gender equality issues with easy-reading style. Empowering youth.
Discuss, write, and edit many kinds topic about youth, human rights, and gender in friendly way of writing.