Welcome To Dee's Head!
Take a look what's inside
Posts
| ISI: 117 pages. Price: 50.000 IDR |
Penulis antologi fiksi ini cukup lincah untuk menyusupkan ide-idenya ke banyak kisah antara sepasang kekasih. Dan ide-ide yang dia susupkan itu, sungguh liar dan nakal. Kiranya hal itu yang membuat "ISI" ini menjadi begitu padat, selain juga karena berbagai variasi bentuk cerita yang disajikan. (Gibb - www.rawdep.net)
"ISI" benar-benar berisi, bernas dan segar. Reprentasi kaum muda yang tak biasa. Karakter-karakternya terbangun kuat. Selipan-selipan isu di tiap ceritanya terasa "dekat". Satir tapi tetap membumi. Untuk ukuran bayi baru lahir, bobotnya cukup ideal. (Andi Gunawan - penulis buku "Kejutan!")
Apa yang saya pelajari setelah membaca buku ini adalah; bagaimana si penulis bisa menyisakan sebuah ruang bagi pembacanya, dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.(Hara - www.deadmediafm.org)
Bagi yang di luar Medan; Konfirmasi jumlah pesanan dan lokasi anda berada. Kemudian saya akan mengabarkan berapa jumlah yang harus anda transfer termasuk ongkos pengiriman (saya akan cari yang termurah dan teraman, tenang saja). Setelah anda melakukan pembayaran, kembali konfirmasi kepada saya nomor bukti transfer-nya, lalu buku akan segera saya kirimkan.
Bagi yang berada di Medan dan sekitar; Beritahu jumlah pesanan anda, dan kita akan bertemu muka. Bayar di tempat, dan buku mendarat.
ISI diterbitkan secara mandiri. Untuk informasi cara pembelian lebih lanjut, komentar, saran dan kritik, silahkan kontak saya di:
dee.dee.sabrina@live.com
Posts
You need to get out from your hide to see what’s outside.
- About Love. [Dee]
panas. dan gak sesuai dengan pencitraan diri. *krik..
Di Kompas cetak edisi Sabtu, 4 November 2010 hari ini, sebuah artikel terpampang mantap menjadi headline,
Batu Bara dan Sawit di Balik Orang Kaya RI
Isi artikel itu kurang lebih adalah daftar orang-orang terkaya versi majalah Forbes Indonesia. Beberapa nama pengusaha terkenal yang sudah tak asing lagi pun ada di sana. Seperti R. Budi dan Michael Hartono, Eka Tjipta Widjaja si pemilik perusahaan kelapa sawit Golden Agri Resources, Martua Sitorus, dan tentu saja om “Ical” yang terkenal di Indonesia.
Empat nama pertama memiliki bisnis yang bergerak di pengelolaan kelapa sawit, sementara Aburizal Bakrie sendiri terdaftar sebagai salah satu pemilik usaha batu bara.
Lalu, mulai terdengar celoteh di sana-sini. Protes karena kekayaan jutaan hektar menjadi aset sekian orang. Yang kaya dihujat-hujat, dikata tak peduli sesama. Mengeruk harta negara untuk menjadi semakin berada. Ada pula yang mengkaji, merinci rejeki.
Hahahaha… Lucu.
Ini bukan pembelaan, bagi saya itu tak menguntungkan. Cuma sedikit terheran-heran, apakah sekelompok orang tadi yang mengumpat memaki tak coba mengkaji lebih rinci, berapa banyak lowongan pekerjaan bagi buruh kebun, buruh pabrik yang telah para pengusaha itu ikut sumbangkan. Apakah sekelompok orang tadi yang menghujat dengan kata tak coba menelaah lebih dalam lagi, berapa banyak tempat tinggal yang telah dibangun para pengusaha ini sebagai rumah dinas bagi para pekerjanya. Atau mungkin sejumlah sekolah yang ada di kompleks perkebunan seluas beratus-ratus hektar yang sengaja dibangun bagi anak-anak para pekerja mereka.
Tak sebanding. Manusia memang berbakat menjadi akuntan, karena selalu memikirkan perbandingan.
Tapi ada baiknya kita tak pernah melupakan hal baik yang pernah orang lain lakukan, hanya karena hal tak baik yang diperbuatnya lebih banyak bila dijumlahkan.
Sekadar untuk pembelajaran.
Stabat, 4 Desember 2010
Air tidak hanya bisa disaring melalui akar tumbuhan. Saringan alam terbaik untuk mengembalikan air menjadi zat netral dipegang oleh batu dan pasir yang dilaluinya selama proses kembali ke sungai dan laut.
Air memiliki siklus paling sempurna dari semua sumber alam yang lainnya. Minum sebanyak satu galon air per-hari, maka akan mengeluarkan kembali sebanyak jumlah yang sama. Entah itu melalui keringat ataupun air seni. Dan air akan mengalami prosesnya untuk kembali menjadi bersih.
Jadi tak perlu khawatir, bahkan kalaupun jumlah hutan semakin tipis di dunia ini. Kita, manusia, tak akan pernah kehabisan air untuk dinikmati.
***
Tahukah anda, bahwa kera dan gorilla bernafas lebih banyak dan lebih sering dari manusia? Tahukah anda bahwa jumlah keseluruhan udara yang dibutuhkan untuk bernafas bagi satu manusia, tak sampai sepertiga dari yang seekor T-rex butuhkan setiap harinya.
Lalu untuk apa takut kehabisan stok udara bersih? Mengapa repot-repot membebani diri dengan kekhawatiran akan anak-cucu masa depan yang tak lagi bisa menikmati semua ini?
***
Padahal dalam sejarah pun sudah dicatatakan, sejarah tentang kepunahan sekian macam makhluk sebelum kita. Padahal sudah kita saksikan bukti-buktinya, betapa alam telah didera sekian macam kehancuran, dan masih bertahan hingga sekarang.
Kalau sudah begini, siapa membodohi siapa? Pikiran manusia menganiaya dengan fakta-fakta terbaru yang kebanyakan hasil rekayasa.
Dengar, sebenar-benarnya fakta adalah data yang disajikan 100% di atas meja, bukanlah catatan 80% atas hasil pengamatan. Kata siapa manusia tidak akan bisa bertahan bila mengalami zaman es kembali? Tidakkah terlalu merendahkan? Bila Mamot pun berhasil hidup, tapi kita diragukan?
Kata siapa kalau atmosfir menjadi semakin tipis, kulit tak akan cukup kuat menahan terpaan sinar Ultraviolet dari Matahari tanpa saringan? Tidakkah percuma kita diberi kemampuan naluri bertahan seimbang dengan binatang, beserta tambahan akal yang bisa digunakan dengan sempurna?
***
Kemudian apa yang perlu ditakuti?
Propaganda paranoia oleh media membuat kita seolah lebih lemah dari yang seharusnya. Kampanye-kampanye selamatkan Bumi beserta isinya. Bagaimana kalau diganti menjadi, selamatkan dirimu sendiri.
Karena ternyata, selama berjuta-juta tahun, alam sudah membuktikan, kitalah yang akan kalah. Bukan mereka. Dan alam tidak pernah membunuh. Maka tenang, tenanglah. Jangan lupa lihat sekitar, karena pembunuh nomor satu ada di balik cermin ketika setiap manusia berkaca.
***
Bumi, 23 Oktober 2010
Di dalam kepalanya ada hujan, orang-orang berbicara dengan suara riuh rendah, tangisan anak kecil yang belajar kecewa lebih awal dari seharusnya, ibunya yang mengucap pamit ratusan kali, dering telepon, gelak tawa anak muda, desah nafas berpacu birahi, deru mobil, teriakan marah, bunyi pecahan botol di atas kepala, dentuman musik, bola billyard terpukul tongkat beradu satu sama lain, di dalam kepalanya ada dunia.
Dia bangkit dari tempat tidurnya, duduk di tepian yang rendah dengan kaki menekuk menyangga kedua siku. Tangannya meremas rambut, sebelah kanan kadang memukul kepalanya dengan keras.
Di dalam kepalanya ada hujan, derap langkah orang berlari, tangis bercampur jeritan adik perempuannya, bunyi halus jarum suntik menembus kulit tangan yang mulus, bungkus plastik dirobek paksa, gelas diadu saling bersulang, omelan ibunya setelah dering tak berkesudahan, angin menggesek wajahnya saat dikeluarkan melalui jendela dari mobil yang tengah melaju, tepuk tangan menggema, di dalam kepalanya penuh cerita.
Dia melemaskan otot leher dengan gerakan memutar, sambil kedua tangan memijat tengkuknya, tak banyak membawa pengaruh. Ditelannya cepat dua butir obat pembunuh rasa sakit dengan bantuan segelas air dingin.
Di dalam kepalanya ada hujan, orang-orang saling menampar, pertemuan kulit dengan hentakan tangan, keyboard ditekan tak beraturan, biola digesek pelan, tuts piano ditekan sembarangan, nyanyian, minyak yang memanas bertemu kentang mentah, kemeja yang dipepatkan dalam tas, rambut diacak oleh tangan, matahari pagi dan hingar bingar aktivitas, peluru yang menembus dada, tetesan darah menghasilkan bunyi satuan, di dalam kepalanya terkisah kehidupan.
Dia mengambil mp3 player di atas meja sebelah tempat tidur, memasang earphone dan memutar sebuah lagu bertempo cepat namun melodis. Dikeraskannya volume hingga maksimal dan memenuhi kedua gendang telinganya, menutupi ratusan, ribuan, bahkan jutaan suara yang membuat kepalanya terasa hampir pecah.
Ada suara gemuruh selain yang terdengar langsung di telinganya, lelaki itu bangkit dan bergerak ke arah jendela yang sejak tadi tertutupi tirai tebal menghalangi cahaya. Di luar hujan, deras, dan lepas.
Ditutupnya tirai itu dan kembali ke atas tempat tidur, dibaringkannya tubuh, masih dengan musik kencang terpasang. Kepalanya pun masih sakit hingga membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perut.
Di dalam kepalanya ada hujan, orang-orang berbisik dengan suara samar, erangan ayahnya yang mati oleh timah panas, pidato terakhir presiden diktator, tudingan dan makian anak koruptor, bentakan dua lelaki berpakaian loreng hitam, teriakan mengancam, ketukan keras dan kasar di pintu depan rumah, ibunya yang tertawa sambil menangkupkan kedua tangan di dada, duda yang tertawa di samping ibunya, bunyi sepatu adiknya bergesek lantai diseret ke mobil dengan paksa, ayahnya terkapar berdarah, desah nafasnya di balik lemari kayu jati, degup jantung ketakutan, di dalam kepalanya ada sejarah tak tertuliskan.
Di dalam kepalanya saja. Sebelum dia menutup mata, suara ayahnya di telepon yang terdistorsi bunyi butiran air hujan beradu dengan tanah, kembali menggema, cerita rahasia yang harus dibawa mati bersamanya. Cukup di dalam kepalanya saja.
Lelaki itu menelungkupkan tubuh dan menenggelamkan muka ke dalam bantal tipisnya. Meremas rambut dengan kedua tangan, sambil sesekali yang kanan memukul tengkorak kepala dengan keras. Delapan butir obat penahan sakit telah dia habiskan. Dia tahu sakitnya akan segera hilang, dan datang lagi nanti, saat kembali turun hujan.
Jakarta, 12 Maret 2011
Denting statis sirene penanda waspada berbunyi di kejauhan, berikutnya terdengar raung kereta api. Setelahnya kembali hening mengantarkan detak jarum jam yang tergantung di dinding. Bayu melihat jam itu, pukul tiga pagi lebih tujuh menit. Dia masih berbaring di tepian tilam kapuk yang tipis.
Beberapa bungkus obat berserak di atas lantai semen berwarna hitam. Obat itu telah dihabiskannya tiga malam lalu, bersama sekaleng bir lokal yang telah kosong pula. Selama tiga hari juga dia tak beranjak dari kamar kos berukuran mini itu.
Pikirannya melayang. Pada kekasih yang baru saja terbang ke Papua, melanjutkan penelitiannya tentang budaya Indonesia. Pada sampul album solo-nya yang baru saja jadi. Pada beberapa kawan yang terakhir dia temui, dan diharapkannya akan segera datang mengunjungi.
Sebuah ketukan pelan di pintu kamar yang disertai dua suara bergantian memanggil namanya, memecah lamunan. Bayu diam saja tak bereaksi.
“Ndak ada orangnya ‘e, Mas. Dari semalem dipanggil yo gak nyaut ‘ik! Pergi mungkin.” Seorang laki-laki, si penjaga kos, menegur mereka.
“Gak kok, Mas. Terakhir pulang dari tempat saya Rebo kemaren, gak kemana-mana, lagi sakit. Tapi ini hapenya ditelepon mati. Tidur mungkin ya, udah jam segini juga soalnya.” Bayu mendengar seorang temannya di luar menyahuti.
Mata Bayu masih menyusuri garis siku langit-langit yang patah, ketika sebuah suara lain yang dikenalnya sebagai kawan juga, angkat bicara.
“Nu, mambu! Kok bau bangke ya? Perasaanku gak enak, dobrak aja yoh!”
Bunyi hentakan keras mengiringi derap langkah terburu. Pintu terhempas membentur dinding, seperti gerak lambat, ada jeda sekian detik sebelum mereka melihat tubuhnya tak bergerak di bawah. Tiga lelaki dewasa masuk menguasai kamarnya. Bayu masih berbaring tenang dengan kedua tangan terlipat di atas perut. Ketiga lelaki mendekati tubuhnya, mengguncang-guncang badannya. Bayu tetap tanpa suara. Bertiga mereka mengangkat tubuhnya, bergegas ke rumah sakit meski tahu sia-sia. Bayu melanjutkan lamunannya dalam posisi yang sama.
Tentang mimpinya menjadi musisi, sebuah album solo tanpa aturan yang tak sesuai idealisme. Tentang kekasih cantiknya yang begitu banyak kecewa, ingin segera dibayarnya dengan rasa bangga. Tentang masa muda yang tersia-sia oleh pergaulan kota. Tentang hidup dan sejuta cita-cita, yang sekarang hanya bisa dibayangkannya.
Jakarta, 14 Maret 2011
*sedang mengenang
Hari ini Tuhan datang pada cahaya pagi yang telah lama tak kutemui. Sehari sebelumnya, Dia datang bersama lagu yang sayup-sayup menyambutku bangun dari tidur panjang, saat matahari telah beranjak tinggi. Sehari sebelumnya lagi, kusaksikan kedatangannya saat senja memamerkan jingga di langit sebelah barat, aku seperti melihat wajah-Nya di awan yang telah berubah warna menuju pekat, di antara garis-garis tipis pembentuk tulang pipi Sang Maha Sempurna. Tuhan telah datang berkali-kali, menyamar berpuluh bentuk menakjubkan yang masih terekam dalam ingatan.
Beberapa malam sebelum ini, menjelang tidur saat pagi beranjak tinggi, dan seruan puja-puji terdengar di berbagai penjuru, Izrail berbaring begitu dekat hingga kurasakan nafasnya yang teratur pada ujung pelipis. Pernah pula di suatu siang, dia berdiri di sampingku, memperhatikan jalanan begitu padat dengan aktivitas kehidupan. Dia, malaikat pencabut nyawa itu, membawa sepi. Telah berkali-kali, kutemui dia bersama sepasang sayapnya yang sendu. Malaikat berwajah tampan, dengan senyum teduh, siapa sangka kematian hadir dalam wujud begitu indah.
Berjuta tahun lamanya
Beribu generasi sudah
Yang pintar mengukir nama, dikenang dalam kitab-kitab dan buku pengetahuan
Yang memilih tak terlihat, menghilang bersama lepas nyawa
…
Mungkin teriakan pertama bayi saat menghirup udara dunia
Adalah protes kelahiran yang tak diinginkannya
Dari gumpalan pengharapan seorang wanita
Hadirlah yang sebelumnya tiada
…
Kita bukan seperti yang diceritakan dalam sejarah
Bersama riwayat Adam dan Hawa
Pencitraan akan betapa beruntungnya manusia
Berkesempatan menebus dosa
…
Beberapa mengejar mimpi terlalu tinggi
Beberapa berhenti sejak terbudak dunia
Sebagian di antaranya memilih percaya pada awan, bulan, dan dongeng Ibu Peri
Sisanya memilih setia dengan lakon opera tentang cinta
…
Lalu kita akan mati
Sebelum sayap mengepak sempurna
Yang muda dan bijaksana
Pergi dalam kenangan akan tawa
…
Kusebut Nabi yang menginspirasi
Propaganda hal agama sebelum politik merajalela
Dunia akan tetap sama
Yang tua pasti berganti pada waktunya
…
Beberapa mengangkat pedang atas nama Tuhan yang berbeda
Beberapa meyakini-Nya dalam kebenaran hakiki dalam hati
Sebagian di antara mereka mengagungkan Pencipta yang mereka tak bisa buktikan kebenarannya
Sisanya, seperti aku, memilih setia dan percaya Dia ada
…
Lalu kita akan mati
Sebelum sayap mengepak sempurna
Yang muda dan bijaksana
Hilang menjadi kenangan di dalam kepala.
…
Mereka yang telah berjalan bersama
Mereka yang tertulis dalam lembar niatan mencari makna
Yang terkasih, yang tercinta
Peluk cium dan tabik hormat dariku dan semesta
Hari ini kutemui apa yang kucari sekian lama, mengambang di dalam sebuah gelas tinggi berisi air putih. Tak ada kopi, seperti yang selama ini termimpi-mimpi. Cerita perjuangan, kebersamaan, dan pengharapan ada di sana, di bening sumber kehidupan pertama dalam peradaban manusia. Dua ekor lalat menghuni permukaannya, bergerak hendak melompat keluar. Lama kuperhatikan tingkah mereka, hingga keduanya mati lemas kemudian. Tersimpul sebuah penemuan yang lama dinanti. Sore ini kubaca kunci dari semua pertanyaan;
Kebenaran hanya hadir bagi mereka yang mencari jawaban.
—————————————
Stabat, 23 February 2011
For sale; tears and grief story
translation
Dijual; air mata dan cerita duka
***
Stabat, 10 February 2011
Astrologi adalah ilmu absurd yang tidak logis.
Banyak orang yang menganggap Astrologi, Zodiak, atau Horoskop adalah semacam mitos, tahayul atau ramalan kosong yang diragukan kebenarannya. Tak sedikit pula yang merasa bahwa pengkotak-kotakan manusia berdasarakan bulan kelahirannya adalah sesuatu yang dangkal dan sama sekali tidak ilmiah, tidak bisa dilogikakan.
Saat masih duduk di bangku sekolah, tentu kita pernah mendengar tentang Hukum Gerakan Planet Kepler, yang menjelaskan pergerakan dan perlintasan planet-planet dengan Matahari sebagai porosnya. Teori ini masih memiliki beberapa kekurangan, dan akhirnya disempurnakan oleh Newton dengan menyertakan gaya gravitasi sebagai salah satu elemen yang turut pula mempengaruhi pergerakan planet-planet di sekitar Matahari ini. Newton menyimpulkan bahwa partikel submikroskopis yang membentuk segala materi (fisika partikel) hingga perilaku materi alam semesta sebagai satu kesatuan kosmos.
Dimana letak hubungan teori Fisika ini dengan ilmu Astrologi?
Sebetulnya sudah banyak artikel-artikel yang menjabarkan penjelasan panjang mengenai hal ini, bahkan membahas Ilmu Astrologi secara matematis. Tapi yang akan saya terangkan adalah logika paling dasar yang bisa dipahami oleh siapa pun.
Pada dasarnya, Astrologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari sifat dan karakteristik manusia berdasarkan posisi bulan dan planet yang menaungi saat hari kelahirannya. Sebut saja orang-orang kelahiran 20 Januari - 19 Februari (Aquarius) yang bersamaan dengan perputaran Planet Uranus, maka dikatakan planet yang menaunginya adalah Uranus. Lebih lanjutnya mari kita telaah, bagaimana planet Uranus dan Saturnus tentu memiliki partikel dan materi pembentuk yang berbeda, dengan garis lintas mengelilingi Matahari yang juga berbeda. Hal ini dikaitkan lagi dengan posisi Bulan pada saat kelahiran seseorang.
Lalu apa pengaruhnya?
Tenaga magnet yang terbentuk dari posisi planet dan bulan, akan berdampak secara langsung kepada daya gravitasi. Dan hal ini yang kemudian akhirnya mempengaruhi karakteristik manusia pada saat kelahirannya.
Di Jawa telah dikenal sejak lama sebuah istilah Pranata Mangsa. Perhitungan satu tahun dibagi 12 waktu, yang kemudian menjadi panduan untuk menentukan masa waktu tanam bagi para petani, musim kemarau, musim hujan, hingga prediksi kapan binatang ternak akan bereproduksi, sampai perkiraan terjadinya bencana alam. Pranata Mangsa ini ditetapkan oleh orang-orang jaman dulu yang belajar langsung dari alam, membaca pertanda-pertanda dan letak bintang yang terlihat.
Hal ini sedikit banyak sudah membuktikan bahwa pergerakan benda-benda di luar angkasa berpengaruh tidak sedikit kepada gejala alam yang terjadi di Bumi. Jika masih terlalu sulit dikaitkan, maka akan saya berikan contoh yang lebih sederhana lagi.
Kita tentu masih ingat teori pasang surut air laut yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi bulan terhadap bumi. Kemudian, bagaimana pasang surutnya air laut ini mempengaruhi hewan-hewan yang berhabitat di dalamnya, seperti kepiting, penyu, dll. Pada musim tertentu, kepiting bisa menjadi sangat gemuk, dan pada musim lainnya, menjadi kurus kerempeng. Tingkat agresifitas hewan-hewan itu pun bisa berbeda tergantung pasang surutnya air laut. Itu adalah bukti jelas bahwa gravitasi mempengaruhi karakteristik fisik dan sifat makhluk hidup.
Ya, lalu apa hubungannya dengan Astrologi dan Zodiak itu?
Tahukah anda, bahwa 75% tubuh manusia dipenuhi oleh cairan? Cairan inilah yang menerima dampak langsung dari gaya gravitasi yang terjadi pada saat manusia dilahirkan. Hal ini diterapkan pula dalam Ilmu Psikologi yang dipakai hingga jaman modern kini. Pengenalan karakteristik seseorang melalui zodiaknya sudah menjadi salah satu bahan pertimbangan wajib dan sah bagi para pakar Ilmu Kejiwaan.
Jadi…
Astrologi, Zodiak, adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan yang bisa diterima dengan logika, dan bukan tahayul yang tidak bisa diyakini kebenarannya. Namun layaknya ilmu lain yang terbatas berfungsi sebagai sebuah panduan, Zodiak tidak bisa dipraktekkan secara mentah-mentah.
Karena hanya sepertiga dari keseluruhan karakter manusia yang masih bisa terbaca melalui ilmu ini, maka setiap individu tetaplah unik dan berbeda. Banyak faktor lain yang membentuk karakter seseorang, seperti hormon pembawa sifat yang diturunkan oleh kedua orang tua, lingkungan dia dibesarkan, pola asuh, serta pendidikan.
Bagaimana kemudian kita bisa mengenali karakter seseorang secara keseluruhan, adalah sebuah pekerjaan yang belum tentu bisa dilakukan meski telah seumur hidup tinggal bersama.
Stabat, 8 Februari 2011
“Dek, tunggu sapa ko mukak pintu?”
Esah menegur adiknya, Inu. Yang ditegur tak bereaksi sama sekali.
“Tak elok ditengok orang, anak gadis temangu macam tu. Dah dekat magrib lagi. Masuklah.”
Tapi Inu masih tak beranjak. Esah menghampiri gadis kecil yang dua tahun lebih muda itu, dan berjongkok di dekatnya.
“Apa ko tunggu, bekeras hati sungguh?” Dibelainya rambut Inu.
“Aku ‘nak tunggukan mak, Kak. Kata wak sebelah, semalam ‘tu mak telpon kata hendak pulang ni hari.” jawab Inu.
“Iyalah, aku pun tahu. Tapi tak perlu ko tunggu sini, entah malamnya baru mak datang. Masuklah dulu.” Esah menarik tangan adiknya. Inu tak bergeming, dikeraskannya badannya menahan ajakan Esah.
“Inu, Esah! Masok kelen! Apa kata orang magrib-magrib anak puan bebincang mukak pintu,” sebuah suara berat dari kamar menghardik mereka.
Esah menganggukkan kepala sambil melihat Inu dengan pandangan membujuk.
Setengah berbisik Inu berkata, “kau masoklah, Kak. Nanti dipukulnya ko. Aku ‘nak tunggu mak di sini. Dah capek aku disuruh isap burung bapak, capek aku dibentak-bentak. Kuadukan dia sama mak. Biar mak pigi lagi ke Malaysia, dibawaknya kita.”
Esah berusaha menahan air mata, sembari mengelap muka adiknya yang telah basah.
“Esah! Inu! Pukimaknya budak-budak ni!”
Dua perempuan beranjak remaja itu terkejut mendengar bentakan berikutnya dari arah kamar. Hingga terangkat bahu, lalu bergetar ketakutan badan mereka. Esah baru saja berdiri ketika Inu berteriak.
“Mak!!”
Esah melihat ke arah jalan setapak menuju rumah. Seorang perempuan dewasa berjalan agak terseok di sana. Kedua tangannya penuh memegang tas dan beberapa kantong plastik besar. Langit magrib yang remang membuat mereka sulit melihat dengan jelas. Sampai perempuan itu tiba di bawah lampu teras rumah, Esah dan Inu kehilangan senyum mereka melihat perutnya, tak kalah besar dengan tas yang dia bawa.
Stabat, 5 Februari 2011
Peterpan.
Pertama kali saya kenal mereka lewat sebuah album kompilasi “Kisah 2002 Malam”. Saat itu saya masih memakai seragam putih-biru, alias SMP. Penampilan vokalis dengan gaya rambut belah tengah, terus terang saja kurang menarik. Lagu yang kemudian mengangkat nama Peterpan akhirnya saya ketahui berjudul “Mimpi yang Sempurna”. Meski tak ada yang istimewa, harus diakui bahwa lagu ini cukup enak didengar.
Lagu kedua band ini yang kemudian digemari pasar adalah, “Semua Tentang Kita,” dari album perdana mereka, “Taman Langit”, cenderung lebih santai dan pelan, mellow. Saya suka lagu ini. Nadanya sederhana, liriknya menyentuh, dan bisa membawa pendengar masuk ke dalam kisah yang dituturkan sang vokalis. Namun permulaan saya benar-benar tertarik dengan band ini adalah saat mendengar, “Yang Terdalam”, hits kedua dari album yang sama.
Ariel.
Kulepas semua yang kuinginkan, tak akan kuulangi.
Kalimat pertama yang dinyanyikan pada lagu ini membuat saya tersenyum. Bila ditelaah lebih jauh, seolah dia sedang bercerita, bahwa keinginan adalah sumber kekecewaan, atau bisa saja bermaksud bahwa, keinginan seringkali berujung pada kesalahan, untuk sebaiknya tidak diulangi. Ketertarikan selanjutnya muncul ketika saya mengetahui bahwa mereka menciptakan sendiri semua lagunya, dan ditulis oleh sang vokalis yang bernama Ariel.
Mengingat pada zamannya, Indonesia telah banyak sekali kehilangan para penulis lagu berbakat, hal ini tentu saja menarik perhatian. Bukan, saya bukan pengamat musik, hanya penikmat. Pada awal tahun-tahun 2000 sekian, pencipta lagu di Indonesia belum juga bertambah. Masih generasi tua seperti Yovie Widianto saja yang berjaya. Maka munculnya sebuah band yang bisa menciptakan sendiri lagu mereka, dan seorang vokalis yang menyanyikan sendiri kata-katanya, adalah modal yang cukup untuk bisa menapaki sukses, setidaknya, itu menurut saya.
Masih ku merasa angkuh, terbang kenanganku jauh. Langit kan menangkapku, walau kan terjatuh.
Dan fase kekaguman terhadap sang pencipta lirik, Ariel, terjadi saat mendengar sebuah radio memutar lagu “Bintang di Surga”, yang menjadi andalan dari album kedua Peterpan. Lagi-lagi, baris pertama pada lagu sudah membuat saya cukup berpikir dan berusaha untuk mencernanya. Bagaimana mungkin ketika jatuh, langit lah yang akan menangkapmu? Sejauh apa kau terbang, hanya karena kenangan? Oke, saya mungkin terdengar berlebihan, tapi sungguh, saya merasa keseluruhan lirik pada lagu tersebut adalah salah satu dari yang terbaik. Dibandingkan Samson yang kurang lebih melejit pada saat bersamaan, Peterpan lebih mudah untuk dihargai, meskipun dalam kualitas suara vokalis, Ariel masih jauh tertinggal dari Bams, vokalis Samson.
Yang membuat saya semakin menyukai band ini adalah, meski tak signifikan, mereka benar-benar menunjukkan kemajuan. Sebagai band, mereka seperti sudah menemukan karakternya dalam album ini, tidak seperti yang pertama. Suara Ariel juga sudah lebih enak untuk didengar. Lirik-liriknya terdengar lebih matang, lebih dalam, dan simbolis.
“Di Belakangku”, adalah mutlak, lagu yang membuat saya jatuh cinta dengan kemampuan Ariel dalam merangkai kata. Saya bahkan tidak menemukan kata-kata pujian yang paling pas. Lihat saja lirik yang terdapat di dalamnya:
Kau peluk aku
Sebelum membunuhku
Tersenyum melihatku
Merenung melihatmu
Kau menungguku
Menunggu ku terjatuh
Setiap langkah tertuju
Setia dalam menunggu
Aku menunggumu
Menunggumu, menunggumu
Mati di depanku
Di depanku, di depanku
Penggambaran tentang rasanya dikhianati, dengan perumpamaan ditikam dari belakang, Ariel sangat cerdas dalam mengolah kalimat-kalimat simbolis dalam lagu ini. Tak ada kata-kata picisan tentang betapa sakitnya perasaan, tak ada kalimat-kalimat murahan seperti pada lagu kebanyakan, tapi siapa pun yang mencoba mendalami, pasti bisa mengerti apa yang coba disampaikan.
Dan pada album-album selanjutnya, kekaguman saya terhadap vokalis Peterpan ini pun kian bertambah. Seiring dengan lamanya kiprah mereka di dunia musik Indonesia, terlihat kemajuan di setiap album barunya. Kematangan bermusik, penyusunan lirik, dengan sendirinya Peterpan membuktikan kualitas mereka pada semua orang, meski sempat terganjal kasus dengan dua mantan personilnya yang telah hengkang.
Pornografi
Apa pun pencitraan tentang Ariel yang sekarang beredar di masyarakat, terkait kasus heboh tentang video porno Ariel dan beberapa orang wanita, seharusnya tidak membuat kita lupa memandangnya sesuai porsi. Soal keimanan dan moral, tak seorang pun berhak menghakimi, kita sudah punya Tuhan yang pasti bisa melakukan tugas tersebut dengan baik. Bila sejak awal kita mengenal Ariel sebagai seorang penyanyi, pencipta lagu, musisi, seyogyanya penilaian kita pun tidak melebar kemana-mana.
Bagi saya pribadi, Ariel tetaplah mengagumkan. Kata-kata yang dia hasilkan dari otaknya sendiri, kreatifitas yang dia bagi kepada orang banyak melalui musik, haruslah dipandang terpisah dari segala hal buruk yang dilakukannya. Sejujurnya saya merasa cukup kehilangan ketika Ariel divonis menjalani hukuman selama 3 tahun lebih dalam penjara. Itu artinya, selama 3 tahun ke depan, telinga kita akan absen dari kata-kata cemerlang buatannya. Dan di saat industri musik Indonesia perlu diselamatkan dari kalimat-kalimat murahan lagu cinta yang seolah diproduksi massal, mencari seseorang yang terlahir dengan bakat mahir mengolah kata, tentu bukanlah hal mudah.
Jadi kapan kira-kira, kita semua bisa memandang manusia, sesuai pada porsinya?
————-
Stabat, 1 Februari 2011
There’s a fine line between genius and insanity. I have erased this line.
Namaku Padu Giring Hanuari. Dilahirkan di Frankfurt, Jerman, aku tumbuh hingga remaja di sana. Menjelang SMP, barulah aku menginjakkan kaki di Jakarta, Indonesia, setelah Papa berhenti menjabat sebagai duta besar di sana. Tak ada yang menarik dari kota ini, hanya sekumpulan orang yang merasa begitu wah dan diragukan kualitasnya sebagai manusia. Sejak awal aku tak pernah suka kota besar, membuatku tak nyaman.
Wajahku tampan, berasal dari keluarga terpandang. Perempuan mana yang tak akan jatuh hati, aku hebat sekali dalam menarik simpati. Sejak SMP lagi, aku sudah bergonta-ganti wanita untuk ditiduri. Bajingan? Mungkin, mungkin. Tapi percayalah, aku tak pernah memaksa. Bahkan, seringkali mereka yang meminta. Aku tak suka romansa, enggan merasakan sayang, cinta, atau apalah namanya itu. Katakanlah aku penakut. Aku tahu aku pecinta yang hebat, dan gadis-gadis itu tak layak mendapatkannya.
Hidupku serba berlebih, meski begitu, aku bukanlah anak kaya manja yang tak tahu rasanya susah. Saat melanjutkan pendidikan ke sebuah universitas negeri di Semarang, aku membiayai sendiri hidupku. Sebuah hukuman dari Mama yang sejak awal tak setuju aku berada jauh darinya.
Aku bekerja sambil kuliah. Menjadi pelayan kafe pun kulakoni, sampai akhirnya mendapat pekerjaan cukup layak sebagai designer grafis paruh waktu di sebuah perusahaan event organizer. Tak makan seharian pun aku tahu rasanya, saat aku belum terbiasa mengontrol pengeluaran dan berakhir kelaparan di penghujung bulan. Tak satu keluhan pun kuucapkan. Aku percaya setiap tindakan pasti diikuti oleh resiko.
* * *
“Pagi!”
Perempuan itu selalu memanggilku, Pagi. Seorang senior di kampus, Senja. Ya, betul itu namanya. Senja Merona Cerah Jingga. Tidak, tidak, aku bercanda. Senja Indira, nama lengkapnya. Cantik, pintar, supel dan ramah, mirip sempurna.
“Kamu hidup di masa lampau.”
Pernah sekali kuutarakan, Senja memiliki terlalu banyak cerita lalu yang tak bisa ditinggalkannya. Kalau sudah begitu, dia akan membantah habis-habisan. Memutar segala bahasa untuk mencari kata paling tepat dan penyangkalan paling halus, yang intinya bermakna sama. Aku hanya akan tersenyum, dan diam. Oh iya, aku lupa bilang, aku tak suka berdebat panjang.
“Pagi!”
Entah sejak kapan, semua orang memanggilku dengan nama itu. Tak terlalu buruk sebetulnya, aku menyukai pagi. Karena pagi membuatku berpikir, setidaknya ada 24 jam lagi untuk memperbaiki keadaan, apapun itu. Aku selalu menyukai sebuah permulaan. Kembali kepada, Pagi. Bahkan beberapa dosenku pun mulai memanggilku begitu.
“Harusnya cuma aku yang boleh memanggilmu, Pagi.”
Senja berkata padaku suatu hari, dengan wajah ditekuk cemberut. Aku kira dia tak serius, tapi raut wajahnya benar terlihat kesal. Keningnya berkerut-kerut dan matanya menerawang tak tentu arah.
“Kenapa?”
Senja tidak menjawab, dan aku tak hobi mengulang pertanyaan, kubiarkan saja. Bukan aku tak tahu tentang itu, karena satu kali pernah aku tak sengaja mendengar perbincangannya dengan Gara, sahabat kentalnya di kampus. Saat itu Gara bertanya, apa ada hubungan di antara kami. Kulihat Senja tertawa.
“Terlalu sempurna. Pagi dan Senja, pasangan bumi? Aku dan Pagi hanya teman.”
“Begitu? Lalu kenapa harus kesal jika orang lain memanggilnya dengan nama pemberianmu?”
“Anggaplah panggilan kesayangan. Sesederhana itu.”
Aku menyukainya, betul. Sejak masa orientasi lagi, dia hanya dua angkatan di atasku, saat itu pertama kukenal Senja. Dia bukanlah perempuan-perempuan kelas tinggi yang dulu selalu menjadi incaranku di ibukota. Tak sama dengan gadis-gadis metropolitan yang selalu memancing pikiran kotor untuk ditiduri. Senja terlalu istimewa, bahkan untuk sekadar dikhayalkan saat malam, menjelang tidur dengan harapan mimpi basah dengan perempuan jelita.
Senja yang tak bisa melupakan Angga, si cinta pertama sejak SMA. Senja yang entah sadar atau tidak, nyatanya masih memupuk mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka bagi. Menikah, hidup di sebuah rumah sederhana pada kota kecil seperti Semarang, Solo atau Jogja, membesarkan dua anak dan bahagia sampai tua. Beberapa kali kulihat dia mencibir diri sendiri di depanku, ketika menertawakan pemikiran remaja yang begitu percaya dengan mimpi utopis macam itu. Senja yang kemudian memiliki banyak sekali penggemar. Senja yang lalu bergonta-ganti pacar, menganggap lelaki sebagi pengisi waktu luang di kala bosan. Senja yang menyimpan kekecewaan dan membaginya dengan cara yang salah kepada setiap orang.
Adalah tahun keempatku kuliah, ketika Senja yang telah lebih dulu lulus, datang bertandang. Maka bernostalgia lah kami. Menyusuri lorong-lorong kampus yang dipadati mahasiswa baru. Tertawa-tawa mengenang masa orientasi, saat dia bergaya kacak pinggang di depanku yang masih malu-malu dan lugu.
“Masih gemar menikmati pemuja?”
Senja tersenyum simpul, berkata sudah terlalu tua untuk berlagak remaja. Ada perasaan lega yang singgah di dada sebelah kiri. Lalu entah darimana keberanian tiba-tiba saja datang, aku menyatakan rasa dan memintanya untuk belajar setia bersamaku. Tak butuh waktu lama menjawab, Senja tertawa sekilas.
“Pagi dan Senja. Ah, kita terlalu sempurna!”
* * *
“Senja!”
“Senja!”
Senja berdiri menghadap belakang, aku mengulurkan tangan dan memanggilnya, tapi dia tak juga berbalik arah melihatku, aku terbangun. Mimpi itu seperti diulang selama beberapa hari.
Bermula saat pertengkaran kami, ketika aku melihatnya sedang menikmati kopi di sebuah kafe kecil, sore hari. Salahku, tak begitu sabar, aku memojokkannya ketika kami bertemu. Kupikir lagi kemudian, aku yakin dia akan bercerita, karena memang tak pernah ada rahasia.
Itu pertengkaran hebat kami pertama setelah empat tahun bersama, bukan yang terakhir, sayangnya. Tak berapa lama berselang, saat sedang meminjam telepon genggamnya, sebuah sms masuk dan terbaca, salah satu penggemar lama. Rasa penasaran membimbingku menjelajahi kotak masuk, pun kota pesan terkirim. Aku tak biasa seperti ini, karena semua kuatur berdasarkan porsi. Apa yang tak ku tahu, tentu tak akan menyakitiku. Maka pertengkaran kedua terjadi, kali ini lebih hebat lagi. Meski tak membentak atau berteriak, emosi membuat nadaku menjadi tinggi, tak tenang seperti selalunya.
Sebut saja aku cemburu. Bagaimana tidak, enam bulan lagi dia resmi menjadi istriku, kenapa tak memantapkan diri dan malah sibuk meladeni lelaki sana-sini? Angga, ya, terlebih lagi, dia. Bukankah, bagi perempuan, cinta pertama adalah yang tak terlupa? Aku merasa dibodohi, terluka. Semua penjelasannya terasa mentah, kami menjaga jarak, untuk pertama kalinya berjalan ke lain arah. Senja bahkan berganti menghakimi kedekatanku dengan beberapa kekasih di masa lalu. Kau bilang aku belum rela melepas para penggemar terselubungku, meski sudah pernah kujelaskan saat ini mereka bertahan sebagai teman, kurasa ketika emosi berdebat dengan ego, hanya akan melahirkan bom lebih besar dari yang masing-masing bawa.
“Kenapa tak akui saja, kau menikmati dipuja, memang suka membuat mereka bertanya, dan gemar tak terbaca. Bahkan dalam perkara rasa.”
“Apakah usia ikut berperan dalam sikapmu? Karena aku lebih muda, kah? Kau bilang mereka semua sama, aku yang istimewa. Kau bilang tahu batasanmu, tahu kapan harus berhenti. Apakah kita sedang bermain, lagi?”
“Kenapa tak tanya permainan apa yang belum kucicipi? Karena membariskan 5 wanita, dan memperkenalkan mereka sebagai kekasihku pun, aku pernah.”
“Katakan lagi, kau pintar mengatur porsi, dan aku sulit berhenti. Hey, aku bisa bercinta dengan siapa saja, lalu lupa nama mereka keesokan harinya.”
“Saat kau masih meraba-raba rasa, aku lebih dulu mengecap buah dada, tenggelam dalam birahi, dan tertawa-tawa ketika mereka berbicara cinta.”
“Tahunan aku membuktikan diri, kau berani bilang kau lebih tahu permainan ini? Haha… Aku tak sedang bercanda, kau malah buat aku tertawa.”
“Kau bilang tak bermaksud, aku bilang, aku tahu semua. memiliki penggemar memang terasa istimewa. Sayang, kita hampir sama.”
“Hanya saja, aku telah menerima karmaku, belajar, dan lebih dulu jenuh bermain. Sementara kau, berusaha terlalu keras untuk menghantarkan karma kepada orang-orang yang salah. Ingatkan sekali lagi, aku, atau kau yang belum bergerak maju?”
Serentetan kalimat hanya bisa bergaung di kepalaku. Tak pernah sanggup kulontarkan pada perempuan itu. Dan hari ini mereka berputar kembali di dalam sini. Saat membaca surat undangan yang telah terbuka di depan mata. Pernikahan Senja dengan si cinta pertama dalam hitungan minggu.
Singkat dan cukup tenang perpisahan kami waktu itu, tanpa air mata. Senja mengucap rasa, bilang cinta, tapi tak mendustai, dia bilang belum bisa kemana-mana, tak bisa menghapus indahnya kenangan di kepala. Kutanya, apakah lebih indah dari pagi?
“Karena Pagi dan Senja adalah terlalu sempurna. Dan sempurna tidak pernah ada.”
* * *
Namaku Padu Giring Hanuari. Tapi panggil saja aku, Pagi. Karena pagi adalah sebuah permulaan, awalan baru untuk setiap hari. Aku suka pengharapan, tak akan mati hanya karena satu kali kekecewaan. Dan kutemukan seseorang yang pantas dicintai dengan cara luar biasa. Dini. Lengkapnya, Dini Hari Menjemput Pagi. Tidak, tidak, aku bercanda. Perempuan itu bernama Aleta, resmi menjadi istriku beberapa hari lagi. Tak ada mimpi, tak ada masa lalu, tak ada kisah cinta pertama dan karma, tak ada harap-harap palsu yang dibangun di atas trauma. Dia berhasil mengingatkanku akan indahnya ketidaksempurnaan, yang telah lama kutinggalkan.
* * *
Stabat, 28 Januari 2011
Adalah masa yang lalu, saat kita biasa berbagi cerita di lantai teratas, beratapkan langit, pada sebuah sofa tua yang teronggok pasrah dekat tembok-tembok lembap dan basah. Kala itu, seringkali kesadaran kita hanya tersisa sepertiganya, sementara sebagian lainnya terbawa fantasi tak tahu kemana. Kau akan berbaring di pahaku, tengadah melihat langit, kemudian memejam. Lalu aku akan mengamati wajahmu sepuasnya, sebelum kau sadar kuperhatikan berlebihan.
“Umur kita berapa?” Tanyamu suatu kali pada malam yang kurang lebih bernuansa sama, langit cerah, berbekal botol bir di masing-masing tangan kita.
“Aku 18, kau 19,” jawabku singkat.
“Di umur 20, kita sudahi saja kegilaan ini, bagaimana?” Kau memberikan usulan.
“Umur siapa? Kau, atau aku?” Aku balik bertanya.
“Kau. Hahaha…,” jawabmu disambut tawa.
“Hahaha… Curang,” aku berkomentar sekilas, pengaruh bius agak menyulitkan berbicara, kau tahu.
* * *
Adalah kalanya dulu, saat aku hendak tidur, dan kau menemukanku tergeletak dalam posisi yang hampir selalu sama, menyamping sambil hisap ibu jari. Bukan aku tak tahu kau biasa memandang diam-diam dan mencuri waktu menikmati wajahku yang tenang terpejam., hanya seringkali berpura-pura tak tahu, tak peduli, lebih tepatnya bingung bagaimana harus bereaksi. Maka kubiarkan malam-malam panjang itu menjadi saksi tunggal atas kulit telapak tanganmu yang lebih halus dari permukaan wajahku, menyusuri helai-helai rambut ikalk dan berhenti dengan menarik jari yang kunikmati dalam bibir sembari terlelap.
“Ih, kotor…,” kudengar samar-samar suaramu.
Kemudian kau akan berbaring, gelisah tak menentu, menjaga jarak agak jauh, untuk setelahnya berpura-pura terguling, dan mendarat tepat di belakangku, menyusupkan wajahmu di balik punggung. Kita akan bertahan dalam posisi yang sama hingga pagi.
Tapi itu tahun pertama, sebelum sekian tahun berikutnya, kau akan terang-terangan memelukku dalam tidur. Alasanmu karena telah terbiasa, entah terbiasa memeluk siapa, kau bilang suatu kali, kau sudah terbiasa sendiri. Aku tak pernah betul-betul peduli, kau tahu, sebetulnya sesekali, aku pun ingin membalas rangkulan itu.
* * *
Adalah malam itu, aku akhirnya mengerti, betapa kau tak hanya sekadar menemani, pula belajar memahami. Aku sedang duduk dengan sebungkus rokok di sampingku, pada balkon lantai tiga, sedang mencoba berdamai dengan kepala. Kau datang dengan segelas teh di tangan kiri, dan tangan kananmu memegang secangkir kopi. Sudah kubilang aku hanya butuh tenang, kuminta kau diam, tapi kurasa kau sama keras kepala, masih saja kau berceloteh riang. Tak mempan dengan tatapan menghina, kau bahkan membiarkanku memuntahkan marah, menjadikanmu tong sampah yang bahkan tak tahu apa-apa.
“Lega?” Tanyamu waktu itu. Aku tertampar, mengangguk hanya sekali lalu berujar,
“Maaf.”
Selanjutnya kita mencuri kutipan-kutipan fiksi, saling bertukar cerita tentang buku-buku sejarah yang pernah kita baca. Mendiskusikan teori-teori konspirasi, kau mengajariku sekian ragam istilah bahasa, lalu mencelaku bodoh karena tak tahu tentangnya. Sampai datang empu cahaya di ujung sebelah kiri tempat kita berdiri, bersama-sama menjemput pagi, dan tersenyum memulai hari.
* * *
Adalah beberapa tahun sesudahnya, kau menghilang begitu saja, tak ada kabar terlebih berita. Yang sempat kudengar sesudahnya hanya, cerita angin yang memberi pesan, kau telah pulang ke kampung halaman. Aku mencoba bercerita padamu melalui kotak virtual, tapi kau tak pernah muncul di sana. Tak pernah hadir lagi pada pagi, seperti terdahulu yang biasa kau lakukan, menemaniku dalam jarak.
Kau kemana, mengapa hilang seperti layang-layang?
Hey, tak rindukah pada kawan?
Apa kabarmu, aku sudah genap berusia 20, kita sudah berhenti menggila, kuharap kau tak mengulanginya di mana pun kau berada.
Selamat menyambut 21, aku merindukanmu.
Tapi dialog-dialog itu hanya terjadi satu arah, kau menguap, entah.
* * *
“Aku, kurasa, aku mencintaimu.”
Adalah pertemuan kita setelah sekian lama pada suatu subuh, kau kembali mengumbar rasa, yang empat tahun lamanya kutepis jauh-jauh. Memupuk rasa lebih padamu, adalah seperti mimpi ilalang untuk bersatu dengan angin, yang hanya selalu menyinggahinya pada penghujung batang rapuh, tanpa menetap. Aku tercekat, lalu mengucap, maaf. Sudah ada dia waktu itu, merajai seluruh rongga organ perasaku.
“Tak apa, aku akan menunggu,” katamu tak menyerah.
“Bagaimana jika tak bisa? Bagaimana jika sampai kapan pun, aku hanya akan mencintai dia?” Tanyaku suatu kali itu.
“Itu cuma pikiran kekanakan, sesaat, tak kekal,” kau menjawab tenang.
Kau bercerita tentang putaran ratusan hari yang kau lalui di negeri kelahiran ibu-mu, tentang waktu-waktu yang kau maksimalkan untuk menguapkan rasa kepadaku. Kau bilang, kita sama tahu, kita tak terlahir untuk menjadi lebih dari ini, dari dua orang sahabat yang akan saling mengasihi sampai mati. Tapi kau bukan manusia tanpa logika, aku tahu kau cukup pintar mengolah rasa, dan jika kau bilang tak bisa, aku cukup percaya kau telah mencoba.
“Empat tahun, sejak pertama bertemu,” nafasmu masih beraroma alkohol, saat mengucapkannya.
“Lalu?” Tanyaku.
“Aku masih mencintaimu seperti dulu. Sejak hari itu, saat kau dengan dingin menenangkan tangisan dan menggendongku keluar begitu saja. Ingatkah?” Kau bertanya memastikan, aku mengangguk tipis.
Kau mengecup bibirku pelan, kita berciuman. Tak sampai hitungan menit, kujauhkan wajahmu.
“Kau tahu, rasanya seperti mencium saudara sendiri, maaf,” aku berkata seolah tak punya hati, lalu pergi.
Kau menangis, tentu saja, aku tahu. Percaya atau tidak, aku yang paling mengerti. Tapi kurasa, kau pun yang paling memahami, bagiku, perasaan dulu, harusnya tetap menjadi masa lalu. Aku memberi penjelasan, bagaimana harapan untuk bisa memilikimu pernah begitu gila bermain di kepalaku. Tapi sudah kubuang jauh-jauh, dan kau tahu aku tak suka berjalan mundur.
Maka selesailah sudah.
* * *
Adalah pada pagiku, seperti pagi ini, selalu sepagi ini. Aku menjelajah dunia maya, seperti yang kulakukan sejak SMA. Bahkan setelah bertahun-tahun sesudahnya, saat kau telah resmi menjadi istri seorang pria tampan berdasi, kau masih sering muncul di balik layar segi empat yang lama kita kenal. Tapi baru saja tadi, bukan kau yang hadir di balik layar putih, seorang kawan lain membawa berita terkini.
Dia sudah melahirkan dengan selamat, anak laki-laki.
Alhamdulillah. Titip doa, semoga bahagia.
Kimi Nicholay Aresta Constantine, itu namanya, belum termasuk marga Jepang dan Belanda si orangtua tentu. Haha… Nama yang bagus, aku yakin yang memilih pastilah seorang jenius. Aquarius. ;)
:)
Aku harusnya tertawa, ketika dia mengetikkan kata-kata. Tapi entahlah, meski turut berbahagia, yang tumpah nyatanya adalah air mata.Urung menunjukkan suasana sebenarnya, kututup pembicaraan dengan sebuah lambang senyuman. Dalam hati aku berjanji, pada nyawa yang baru saja tercipta, pagi ini akan berdoa, semoga kesalahan yang pernah kami lakukan, hukuman yang kami terima, tak harus terulang dalam kisah hidup si bocah.
* * *
Adalah masa seperti ini selalu, aku biasa berharap dalam otakku, semoga kehidupan hanyalah rangkai imajinasi karya Tuhan. Aku mencoba percaya akan adanya reinkarnasi. Semoga Dia mempunyai inspirasi untuk kembali merangkai fiksi, dan pada kehidupan berikutnya, menyertakan cerita cinta tentang kita di sana.
—————————
Stabat, 23 Januari 2011
Orang-orang terasa bergerak cepat sekali. Seperti peluru yang dipicu pelatuk, meluncur bebas, lurus ke depan, beberapa mungkin melenceng dan salah sasaran. Mereka melaju kencang, hampir mustahil dihentikan. Mendesing di sisi-sisi kuping, menganiaya kesadaran, yang kupikir sudah kubuang jauh-jauh. Dan mereka adalah peluru, sementara aku, cuma sebentuk logam besi yang dicetak gagah, pas di genggaman. Aku tak beranjak kemana-mana, berhenti pergerakan di kaitan jari-jari, siapa, yang mengaku sebagai pemilikku.
Harusnya kucari si pandai besi, membujuknya mengubahku menjadi butir timah panas yang memadat, runcing dan berbahaya saat menuju sesuatu. Tapi percuma saja, bahan dasarku tak memungkinkan aku jadi peluru. Mungkin ada baiknya kucoba memohon padanya untuk dijadikan pedang. Hah! Aku pintar bukan? Setidaknya kami sama terbuat dari besi dan baja. Kupikir dengan begitu, pada akhirnya aku bisa sedikit maju, bertempur langsung di depan, mengecap darah di ujung lidah. Bisa saja, bila si empu-ku berbaik hati, aku dilempar agak jauh, dan aku bisa merasakan udara. Bebas sebentar pun tak apa, asal berpisah dari cengkraman tangan di pangkal yang lama-lama mencekik. Padahal bukan di leher, itu cuma kakiku saja. Oh, mungkin peraturannya sama dengan bola besi yang dikaitkan pada pergelangan kaki narapidana,
lambang terjajah.
Stabat, 14 Januari 2011
Cinta pada sepotong kayu,
dipacak tak tumbuh, dipangkas, bunganya tak layu.
——
Hap!
Berubah!
——
Si cinta jadi batu.
Stabat, 13 Januari 2011
Dia terbiasa menunggu pagi, sejak dulu lagi.
Entah itu untuk berdoa, atau sekadar menyapa matahari dan alam semesta.
—-
Dia terbiasa menunggu pagi, sejak bertahun-tahun sebelum ini.
Entah itu karena tak mampu terpejam, atau karena otaknya tak henti berkicau sepanjang malam.
* * *
Dia sudah terbiasa menunggu pagi, bahkan ketika tahu akan selalu sendiri.
Meski ada tahun-tahun di mana beberapa kawan ikut menertawakan cahaya,
yang diartikan sebagai alarm waktunya tidur panjang.
—-
Dia sudah terbiasa menunggu pagi, bahkan saat tak ada yang menemani.
Meski ada berpuluh-puluh malam yang dihabiskannya dengan berandai-andai,
alangkah menyenangkannya menyambut pagi berdua.
* * *
Dia akan selalu menunggu pagi, walau itu berarti tak sempat beristirahat sama sekali.
Tak peduli siang akan menyambutnya dengan padat realita yang tak kenal belas kasihan,
dia akan selalu mengagumi pagi dan berdoa kepada yang membawa matahari.
—-
Dia akan selalu menunggu pagi, walau nanti hanya ada beberapa jam sebelum dia terbunuh hari.
Tak peduli sekarang atau nanti, berteman manusia atau hanya berkawan sepi,
dia akan selalu memuja pagi, lebih, dan lebih lagi.
* * *
Dia sudah terbiasa, dan akan selalu, menaklukkan pagi.
Stabat, 13 Januari 2010
Kulihat tumpukan surat di dalam kotak besi yang sudah menghitam karena karat, beberapa surat tagihan, sebuah majalah gratis bulanan, dan sepucuk surat dari seorang sahabat. Aku tersenyum, segera aku naik menuju kamarku di lantai tiga belas. Sepasang suami-istri yang tinggal di sebelah apartemenku menyapa ketika kami tak sengaja bertemu di depan pintu. Kuladeni sebentar basa-basi mereka sebelum akhirnya pamit, tak sabar membuka surat dari Jakarta.
Kulempar begitu saja tas kerjaku ke atas sofa hitam di ruang televisi, merobek dengan kasar pembungkus kertas surat di tanganku dan mulai membaca.
* * *
Kepada, Asnan..
Gw maunya basa-basi tanya apa kabar lu di negeri tetangga, tapi berita yang pengen gw sampein, terlalu bahagia untuk ditunda satu paragraf pengantar ‘gak penting, maafkan.
Gw bakal nikah!
Dengan Sari. Lu masih inget dia kan? Jangan bilang lupa!
Akhirnya bapak tua itu setuju gw nikahin anak gadisnya. Kalau sesuai rencana, maka pernikahan akan dilakukan dua bulan mendatang, tanggal 15 Mei, di Jakarta. Tentu saja secara Islam, gw ngalah ikut agamanya. Nggak apalah, lu tahu gimana tergila-gilanya gw sama wanita ini, kan?
Ah, sudah, begitu sajalah. Nanti gw kabarin lagi. Lu baik-baik di negeri orang. Pulanglah sesekali kalau sempat, jangan taunya sibuk cari uang, cari istri sana! Hahaha…
Salam,
Tejo Sulaiman (nama terakhir ditambahkan waktu gw resmi masuk Islam!)
* * *
Aku tergelak sendiri sambil menggelengkan kepala. Dasar bajingan tengik, mana ada orang cina bernama Sulaiman! Padahal dulu dia selalu memaki namanya sendiri, Tejo, katanya kalau tak dipaksa pemerintah, tak akan sudi dia pakai nama jawa. Aku masih tersenyum membayangkan sahabatku itu akan segera menikah dengan perempuan pujaannya. Sari, perempuan yang setengah mati digilainya sejak kami SMA. Perempuan pribumi yang memang cantik bukan main, santun pula, betul tipe istri idaman. Tak kusangka Tejo sampai rela pindah agama, aduhai memang kekuatan cinta.
Kuingat-ingat lagi bagaimana dulu sahabatku itu selalu menunggu Sari di depan gerbang sekolah. Padahal gedung SMA kami hanya berjarak kurang dari seratus meter dari rumah Sari, dan rumah kami sendiri tak sampai berjarak lima puluh meter dari sana. Maklumlah, kompleks rusun Tanah Abang tak begitu luas, memang.
“Lu tunggu di warung depan deh, Nan! Gw mau nganter Sari pulang dulu, nanti gw samperin lu!”
Biasanya Tejo akan berpesan begitu saat bel pulang sekolah berbunyi. Lalu aku akan melihat mereka berjalan terlalu pelan menuju rumah Sari, sebelum beberapa menit kemudian Tejo kembali dan mendatangiku di warung depan sekolah sambil berlari.
“Gw putus, Nan. Bokapnya Sari gak suka dia jalan sama gw. Beda agama, dan ya, lo taulah… gara-gara gw cina.”
Pernah suatu kali Tejo bercerita padaku dengan wajah sendu, ketika hubungannya dengan Sari yang sudah berjalan hampir tiga tahun harus kandas. Waktu-waktu aku menemani kesedihannya tak berlangsung lama, aku ikut orangtuaku pindah ke Singapura.
Sejak itu kami hanya bertukar kabar melalui surat, karena Tejo belum terlalu awam dengan internet, katanya di Indonesia akses internet masih terlalu mahal untuk rakyat biasa. Sempat dia bercerita menjalin cinta dengan gadis lain, keturunan tionghoa, tapi tak berlangsung lebih dari tiga bulan, pada surat berikutnya dengan girang Tejo menuliskan dia dan Sari telah kembali berhubungan, meski diam-diam tanpa sepengetahuan ayah si gadis. Surat terakhir itu kuterima kurang lebih setahun yang lalu.
Dering telepon membuyarkan lamunanku, ibu di seberang sana, menelepon dari Thailand. Orangtuaku telah lama pindah ke sana, sementara aku tetap di Singapura, setamat kuliah langsung bekerja. Kututup telepon dari ibu yang menanyakan kabarku, memastikan anaknya baik-baik saja, pikiranku kembali melayang kepada Tejo. Sudah hampir enam tahun sejak tamat SMA aku tak pernah lagi pulang ke Indonesia dan bertemu muka. Hari pernikahannya kurasa akan menjadi waktu yang sangat baik untuk pulang ke Jakarta memberi ucapan selamat secara langsung, aku meniatkan dalam hati. Tersenyum, aku bangkit menuju kamar, berkemas hendak mandii.
* * *
Kepada: Tejo
Sebelumnya gw minta maaf karena ‘gak bisa nepatin janji akan dateng di pernikahan lu, gw harus ke Thailand, Ibu gw sakit keras di sana. Gw cuma bisa ngucapin selamat dan ikut berdoa, mudah-mudahan langgeng sampai tua. Salam untuk Sari.
Salam,
Asnan.
* * *
Mobil kantor yang kutumpangi hanya bisa mengantarku sampai ke depan gang, jalan selanjutnya terlalu kecil untuk dimasuki sebuah mobil SUV. Aku meneruskan berjalan kaki, masuk ke kompleks rumah susun Tanah Abang, tempatku dulu beranjak besar. Pakaian-pakaian yang dijemur di lantai dua gedung rumah susun, tanaman-tanaman yang diletakkan dalam pot kecil, memaksa menghijaukan jalanan yang lebih didominasi debu. Bangunan ini masih seperti dulu, hanya ada beberapa gedung tambahan yang membuat pemukiman semakin terasa sesak, selainnya masih bernuansa sama, kumuh, tapi menyenangkan.
Aku terus berjalan sampai menemukan sepetak tanah yang begitu padat diisi oleh deretan batu putih berwarna kekuning-kuningan, dipacakkan ke dalam tanah. Memasuki kompleks pekuburan, aku bertemu seorang penjaga kunci, dia bertanya mencari kuburan siapa, kusebutkan sebuah nama dan segera mengikutinya ke tempat di mana akhirnya kulihat nama sahabatku terukir pasti pada sebuah nisan.
Tejo Sulaiman
20 Juni 1975 - 12 Mei 1998
Aku mencoba menahan genangan air mata yang hampir menetes. Beberapa bulan yang lalu kulihat berita tentang kerusuhan yang terjadi di Jakarta melalui televisi, mendengar bahwa banyak masyarakat tionghoa turut menjadi korban, aku mencoba menghubungi beberapa kawan lama, termasuk Tejo. Beberapa membalas sebulan berikutnya, beberapa dari mereka malah tiba-tiba saja sudah berada di Singapura, lari dari kondisi yang kacau. Tapi tak kudengar kabar apapun dari Tejo semenjak itu. Seorang kawan pribumi yang akhirnya memberitahuku bahwa pernikahan Tejo dengan Sari tak pernah terjadi, beberapa hari sebelum itu, dia terlanjur mati, jadi korban penghakiman massa yang dilandasi rasa iri. Maka saat ada kesempatan untuk pulang, walaupun atas nama pekerjaan, kusempatkan mampir ke tempat ini.
Segala kutukan hanya bisa terlontar tanpa suara. Betapa keadilan berada jauh sekali dari negeri ini.Aku bahkan merasa malu sebagai pribumi, melihat tingkah mereka yang mengatasnamakan bangsa sebagai kedok. Kuusap mataku dengan dua jari, berjongkok sebentar dan berdoa dalam hati, lalu bergerak pergi meninggalkan makam sahabatku itu.
Saat dalam perjalanan kembali menuju tempat di mana supir menungguku, kulihat seorang gadis duduk diam di lapangan basket tempat kami, para remaja kompleks rusun ini, dulu biasa menghabiskan waktu sore. Rambutnya yang panjang tak tertata, lebih mirip sarang laba-laba, dan terlihat kasar, mungkin kalau dipegang akan terasa seperti ijuk. Namun begitu, wajahnya masih terlihat manis meski dalam keadaan berantakan. Badannya bergerak maju-mundur dengan pelan, kepalanya miring ke sebelah kanan, dengan tatapan lurus ke depan, bibirnya bergerak-gerak sepeti mengucap entah apa. Aku berjalan semakin dekat ke arahnya, terdengar gumaman, mungkin dia berusaha bersenandung, tapi lebih menyerupai rintihan. Kuperhatikan pakaian yang dikenakannya, sungguhlah rapi untuk ukuran orang gila, ah, mungkin dia penghuni rusun ini, wajahnya cukup familiar. Mungkin mentalnya terganggu, tapi kenapa?
“Sari… Nak… Masuk sini, Nak. Pulang, udah sore..”
Seorang ibu yang sudah sangat tua muncul dari arah depanku, mendekati perempuan itu dan menarik tangannya, pulang. Aku mengikuti mereka dengan pandangan hingga menghilang di balik pintu rumah. Beberapa tetes air mata jatuh, tak bisa lagi kutahan.
Stabat, 12 Januari 2010
Hari itu adalah kali pertama aku menginjakkan kaki ke kawasan Rumah Sakit Umum Prof. Dr. Margono, Purwokerto. Menemani seorang kawan, mba Ve, menjenguk pasien dampingannya. Aku tidak pernah benar-benar tahu apa nama pekerjaannya, yang kutahu dia selalu sibuk mengurus orang-orang penderita HIV/AIDS dan menjadi pendamping mereka. Mengontrol kesehatan mereka, dan menjamin bahwa mereka akan mendapat pengobatan yang layak tanpa mengeluarkan biaya.
Suasana serba putih menyambut kami, khas rumah sakit. Kami menekuri lorong panjang di gedung yang ternyata cukup luas itu. Membelok naik pada tangga menuju lantai dua, temanku membuka sebuah pintu berwarna hijau yang catnya telah pudar di bagian tengah dan atas.
“Assalamualaikum,” mba Ve mengucap salam.
“Wa’alaikumsalam. Masuk, Mba,” jawab seorang lelaki kurus yang mengenakan baju berwarna kuning menjurus oranye, terlihat kebesaran di badan kerempengnya.
Mba Ve dan lelaki itu kemudian berbicara berdua, aku tak terlalu mendengarkan. Perhatianku lebih tersita kepada seorang perempuan yang tergeletak diam, tak bergerak pada sebuah kasur kecil dengan kaki-kaki besi yang terlihat lapuk.
Badan perempuan itu lebih kurus dari lelaki yang belakangan kuketahui adalah suaminya, hanya saja, pada bagian perut sedikit membuncit. Kulitnya terlihat kering, tipis dan menempel mengikuti setiap lekuk tulangnya, hingga pada beberapa bagian terlihat sangat menonjol, agak mengerikan, aku sempat terbayang patung tengkorak yang dulu menjadi pajangan di laboratorium sekolah.
Di sudut mata kirinya menempel kotoran berwarna kehijau-hijauan, tepian bibirnya ditutupi kerak putih dan terlihat beberapa luka di bagian bawah. Tangannya yang sebelah kiri menjulur ke sisi tempat tidur, separuhnya menjuntai lemas ke bawah, sementara tangan kanan berada di atas dadanya, bergetar, tremor.
Kurasakan sudut bibirku tertarik, mungkin terlihat cukup jelas aku meringis. Entah jijik, atau takut, yang jelas aku merasa mual. Kami berpandangan, aku dan perempuan itu, namun detik berikutnya aku menunduk, berpura-pura melihat papan nama pasien yang digantung pada ujung tempat tidurnya. Aku malu. Malu seandainya dia tahu aku merasa jijik terhadapnya. Pandangannya seperti menjatuhkan aku kepada posisi terendah sebagai manusia. Aku mual membayangkan diriku yang merasa jijik terhadapnya, padahal di luar sana aku berkoar-koar meyakinkan bahwa aku tak pernah menilai manusia melalui penampilan fisiknya.
Perhatianku teralih ketika mba Ve menyentuh tanganku dan memberi isyarat untuk mengikutinya, ke luar ruangan, mencari dokter yang bertanggung jawab.
“Dia ODHA, Mba?” Aku memberanikan diri bertanya pada mba Ve selepasnya kami dari ruangan tadi.
“Iya. Sekarang sakit radang otak, lagi hamil pula, anak ketiga, ” mba Ve menjawab sambil terus berjalan di sampingku menuju ruang dokter, agak tergesa-gesa.
“Kok bisa kena AIDS?” Aku masih belum puas bertanya.
“Mereka tadinya merantau ke Jakarta, suaminya cuma ngamen, istrinya melacur,” jawabnya lagi.
“Wah, anjing! Parah gila suaminya!” Aku mendadak emosi.
“Suaminya enggak tahulah, dia pikir istrinya kerja serabutan aja,” mba Ve tersenyum miris.
“Loh, berarti, ada kemungkinan kalo suaminya juga…” aku tak meneruskan kata-kataku, mba Ve hanya mengangguk singkat, kami sudah tiba di depan ruangan yang dituju.
Kulihat dokter muda itu berbincang sebentar dengan mba Ve, menceritakan kondisi pasien dan memberitahukan bahwa hasil tes si suami telah keluar, negatif, dia tak terinfeksi HIV, kami menghela nafas lega. Sempat kudengar dokter berkata tentang ada baiknya perempuan itu dibawa pulang saja, karena kemungkinan untuk sembuh hampir-hampir mustahil. Mba Ve terlihat berang mendengar pernyataan itu, tapi tak mengikuti emosi, dia mengajakku cepat-cepat pamit dari sana, kembali ke ruangan perempuan tadi dirawat.
Kami tiba tepat di saat si suami sedang berusaha keras mengganti pakaian istrinya, setengah berlari aku dan mba Ve menghampirinya, memberi bantuan. Mereka membuka baju perempuan itu. Kulitnya hitam, legam, separuh badannya tertutup daki, entah sudah berapa lama dia tidak mandi. Aku memberanikan diri menyentuh kakinya, pelan-pelan mulai mendekat dan berinteraksi fisik lebih banyak. Kulitnya kasar, bersisik. Kuperhatikan wajahnya dari depan, mungkin perempuan ini pun pernah terlihat cantik dan menarik. Mungkin dulu dia pintar merawat diri, entahlah.
Selesai mengganti pakaian perempuan itu, kembali mba Ve berbicara dengan sang suami, mengabarkan hasil tes kesehatannya, tak ditemukan tanda virus HIV di dalam tubuhnya. Lelaki itu tersenyum begitu lepas saat berbicara. Bahkan saat mba Ve mencoba menabahkan, yang kulihat adalah pemandangan mba Ve yang menghibur diri sendiri, semua pasti teratasi.
Lelaki itu bermata jernih. Begitu bersinar mentutupi badannya yang kurus dan layu. Matanya tersenyum, sedikit sendu. Mungkin karena melihat wanita yang pernah, atau masih dicintainya, terbaring diam di sana dalam keadaan tak berdaya. Dia tak butuh disemangati, keyakinannya terpancar dari tatapan, seolah begitu percaya istrinya akan sembuh dan melahirkan anak ketiga mereka, mungkin pula itu hanya pemikiranku.
Mba Ve mendekati perempuan itu, menunduk di samping telinganya, sementara aku masih di tempat semula, berdiri di ujung tempat tidur, dekat bagian kakinya yang terjulur lemah. Dia menatapku, saat mba Ve sedang menyemangatinya dengan setengah berbisik, perempuan itu menatapku begitu tajam. Sesekali saja bola matanya bergerak melirik ke arah lain, lalu kembali beradu pandang denganku. Mungkin dia merasa malu, mungkin dia bertanya-tanya siapa aku, mungkin dia pun jijik melihat pandanganku yang menyelidik.
Sedetik aku diam tak tahu harus bereaksi bagaimana, sampai akhirnya semua rasa mual, iba, dan kasihan yang tadi berganti-ganti menyerbu masuk ke dalam diriku hilang entah kemana. Ada segaris air mata yang menggantungi kelopakku saat itu. Tiba-tiba teringat kalimat, senyum yang tulus dapat memberi kesenangan bagi yang melihatnya, aku mencoba tersenyum.
Kudengar mba Ve mengucap pamit kepada si suami, aku ikut menyalami lelaki kuat itu, setelahnya mengambil posisi berdiri di samping tempat tidur. Kupegang lembut pundak perempuan di depanku, sambil menyeleksi ribuan kata dalam kepala, mengira-ngira kata penghiburan seperti apa yang paling tepat untuk diucapkan. Dan berakhir pada kalimat paling sederhana dari ratusan yang berputar di otakku,
“Kita ketemu lagi ya, Mba.. Saya pamit.”
Ya, mudah-mudahan kami bisa bertemu lagi. Nanti, tanpa perasaan risih.
—————————————
Stabat, 12 Januari 2011
*mengenang suatu hari di Purwokerto, 18 Maret 2010.
Audio
-
yourfriendinabox: Yndi Halda - Dash and Blast5 plays
-
40 plays
-
just found it this morning. it was about 3 or 4 years ago. what a mess! haha10 plays
-
A Simple Future - Boat2 plays
Updates
-
@sayabinatang laptopnya aku culik lg ya sayaaang :*
-
Eh, apa kabar lini masa?
-
@sarseer cup cup waw! Bobo cepet iyuk..
-
"I was never good. I was great."
-
@zulaikanafira jangan buka aib dong, zulkarnaeeen! Tggu ya, anak2 lg pada beberes nih mau jalan.
-
Kalo bukan talent, gw botakin nih @zulaikanafira yg ngebajak twitter gw.
-
kamu, ya kamu yg lagi baca ini.... i miss u5 days ago from web | Reply, Retweet, Favorite
-
trio macan buka pendaftaran ga ya?5 days ago from web | Reply, Retweet, Favorite
-
aku cintta kamu... bukan dia5 days ago from web | Reply, Retweet, Favorite
-
i need my brazilian bikini wax ASAP!!!!!5 days ago from web | Reply, Retweet, Favorite
-
ayu ting ting lucu jugaaaaa5 days ago from web | Reply, Retweet, Favorite
-
#nowplaying cherrybelle... chibi chibiiii!!!!5 days ago from web | Reply, Retweet, Favorite
-
teman2.. doain gue lolos audisi cerrybelle ya!! im so phsyched!!!!!5 days ago from web | Reply, Retweet, Favorite
-
@sayabinatang syuting di extend sampe nanti malem. Ntar kesini aja brg fira ya.. Need help bgt deh :(
-
"Sahabatku, usai tawa ini, izinkan aku bercerita.. Telah jauh ku mendaki sesak udara di puncak khayalan. Jangan sampai kau di sana."
-
@deniseanggraini makasih, nyuuu..
-
Oh, ini long weekend ya? Kasian sekali kita, teman-teman.
-
Kangen nulis. Kangen punya waktu buat nulis.
-
Tikus berlarian di lorong hitam. Aku tertawa-tawa di kubangan.
-
"Goodbye, Ruby Tuesday.."
Answers
-
pilih perempuan bole? :))Asked by Formspring 9 months ago
-
reza rahardian :)Asked by Anto Ramon Lamury 9 months ago
-
iih kuciinngg! kok nemu gw disini? hahaha.. udah gak pernah gw buka lagi inih. sekarang di jakarta, cing :DAsked by Alves Avrelio 9 months ago
-
yeah I do have twitter, tumblr, and facebook. just go search on fb, dee dee sabrina. or on twitter @deedeesabrina. or my tumblr http://catatankepala.tumblr.com :)Asked by Formspring 16 months ago
-
are you serious? I was like always trashing on twitter, not much to be proud of. just wrote anything that crossed my mind.Asked by Formspring 17 months ago
-
I always adore Tan Malaka.Asked by Formspring 17 months ago
-
Laila ZulfaqarAsked by Formspring 17 months ago
-
sip sipAsked by muhammad mktdru 17 months ago
-
sup? oh, am not a dude by the way..Asked by muhammad mktdru 17 months ago
-
how'd you know my type? she's a smart girl. physical is another issue.Asked by Formspring 18 months ago
-
Russia! and I will ask Yulia Volkova to marry me.Asked by Formspring 18 months ago
-
I'd rather be human.Asked by Formspring 18 months ago
-
I have these twin strange little things upon my chest, but I don't even know if it could classified as breast.Asked by Formspring 18 months ago
-
I'll sign it for sure.Asked by Formspring 18 months ago
-
ah, itu perasaan dek saby aja kokAsked by Formspring 23 months ago
-
lol. oh I'm so sorry about your msg on tumblr, sometimes I just missed to check the msg. terribly sorry for that. and thanks for the compliments. I promise I'll check again my inbox and reply the questions there when I get a time ya :)Asked by Formspring 23 months ago
-
hey I've followed you back this afternoon. sure, we can be friends. :)Asked by Formspring 23 months ago
-
if you could make a dream concert, what band will you invite to come, and how many band would it be?first, Catatonia then Radiohead, and definitely Yeah Yeah Yeahs. and maybe the reunion of original Guns and Roses' players. of course with Axl in it.Asked by Formspring 23 months ago
-
iya. hahaAsked by Formspring 23 months ago
-
well, my fav movie of all time? damn it's hard, but I think it was city of angels. I don't know, that one just really knocked me off!Asked by Formspring 23 months ago
Ask a question
Posts
Matanya selalu berputar saat hari menjelang fajar. Seperti mencari, entah apa. Sesudahnya, dia sering tertegun menatap tepian jendela, kadang ke jalan-jalan yang mulai padat di bawah, kadang hanya menatap lurus ke langit di depannya. Sesekali ia ditemani kopi, biasanya ia akan mengeluh pusing sesudah itu. Katanya, kadar kafein di satu bungkus kopi instan pun sudah tak bisa diterima tubuhnya yang mendadak lemah setelah kenakalan-kenakalan bodoh semasa remaja. Namun pada pagi-paginya, tak sekalipun musik alfa menemani. Kita tak butuh alasan untuk mendengar musik indah, katanya. Matanya selalu berputar saat hari menjelang fajar. Seperti mencari, entah apa. Pernah aku bertanya suatu kali, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.
Aku mengenalnya baru beberapa bulan ini saja. Dua bulan sesudah kami mengikat pertemanan, kami memutuskan untuk hidup bersama dengan menyewa sebuah apartemen sederhana yang lebih dari sekedar cukup untuk dua orang perempuan muda. Aku sering memperhatikannya, tak ada yang istimewa. Dia tak juga terlihat seperti orang yang menderita gangguan jiwa, apalagi gila. Semua tentangnya sama seperti manusia kebanyakan. Ceria, begitu terbuka, kupu-kupu sosial yang digemari semua kalangan. Dia bahkan lebih pintar bergaul daripada aku yang selalu mati kutu di depan orang baru. Keanehannya hanya muncul menjelang waktu-waktu itu. Waktu-waktu di mana lidahnya menjadi kelu, tubuhnya mengejang kaku, lalu seolah ia baru saja selesai melakukan pekerjaan berat, keringat akan membanjiri wajahnya dan helaan nafas berat akan menghembuskan asap samar dari mulutnya yang jarang lekang dari batang-batang rokok.
Sudah tiga bulan sejak tinggal bersamanya, bukan sekali atau dua aku menanyakan alasan keanehannya. Tapi dia akan selalu bungkam dan membungkamku dalam diam. Lalu aku akan duduk di sampingnya, di lantai teratas gedung apartemen ini, atau di tepi jendela apartemen sederhana kami, menikmati migrasi matahari dari belahan dunia lain, menyapu wajah kami, membuat buta mata kami selama beberapa detik. Aku yang memang tak gemar banyak bicara, dengan cepat beradaptasi dengan ritual ini.
Sempat aku berpikir, saat melihat gerakan matanya, mungkin ia sedang berlari dari cahaya matahari yang akan membiaskan sinar pada kornea. Menikmati rasanya menghindar, untuk kemudian dengan pasrah membiarkan cahaya pagi yang berwarna putih kekuningan, menyapu seluruh lekuk wajah dan tubuh yang dapat dicapainya. Tapi entah di sudut mana dalam kepalaku yang bersikeras, bukan itu yang selalu dia lakukan. Rasa ingin tahuku yang semakin besar kian hari, berbanding terbalik dengan keinginan bibirku untuk kembali bertanya tentang alasan padanya. Tak sedikit aku menelan kalimat saat berhadapan dengannya. Aku dan dia bagai dua benua. Dia adalah Asia yang tropis dan cerah ceria, aku mungkin benua Antartika yang kaku diselimuti es dingin dan cuaca beku. Terhadapnya, yang kutemui begitu berbeda, aku lupa cara mengintonasikan kalimat tanya.
Hampir setahun lamanya aku menjadi teman hidupnya, teman hidup di satu rumah. Ia adalah orang paling ceria yang pernah kutemui. Sampai kadang jengah aku melihatnya menjadi baduti. Katanya, tak ada yang hebat dengan berdamai dengan diri sendiri. Yang hebat adalah berdamai dengan toleransi tanpa batas dari dalam diri, untuk menyamankan telinga dengan basa-basi sana-sini. Tapi pada ritual paginya, dia menjelma menjadi seseorang yang seolah paling menderita sedunia. Lagi-lagi, aku menghentikan harapan untuk menemukan jawaban di pangkal lidah dekat tenggorokan. Tak cukup berani untuk kulontarkan. Padahal aku tak mengerti apa yang kutakuti.
Suatu malam ia pulang dalam keadaan mabuk. Bukan yang pertama, tapi sebelumnya tak pernah terlalu parah, biasanya ia cukup tahu batas kemampuannya. Malam itu ia jatuh tersungkur di depan pintu saat kubuka pembatas berkunci tersebut. Aku memapahnya menuju sofa. Kutinggalkan ia untuk mengambil pakaiannya di lemari dalam kamar, dan air untuk membersihkan sisa-sisa muntahan di wajah dan kemeja biru mudanya. Saat itu kulihat ia sudah duduk di tepian jendela. Aku setengah berlari menghampirinya, takut keseimbangannya yang terpengaruh alkohol dapat membuatnya jatuh dari lantai sepuluh ini. Menjelang langkah terakhirku, kulihat tatap mata nanar itu lagi. Mata yang begitu liar berputar. Aku menengok ke arah jendela yang terbuka lebar, hari sudah hampir fajar. Aku memutuskan diam dan memberikan waktu untuk melakukan ritual hariannya. Mata itu lalu berhenti berputar, menatap lurus ke langit di depannya yang perlahan berubah warna sedari biru tua hampir abu-abu, ternodai sinar kuning yang menerobos barisan awan kelabu. Ada air mata yang jatuh perlahan di ujung mata kirinya. Aku terkejut, ini pertama kalinya aku melihat ia menangis.
“Apa yang kau cari?” Aku putuskan, jika ternyata tak kutemukan juga jawaban, aku bersumpah untuk mengubur dalam-dalam semua kalimat tanya untuknya.
“Aku mencari masa lalu, Kawan,” jawabnya setelah hening menjadi jeda cukup lama, tepat sesaat aku hampir saja menyerah. Aku sudah menemukan jawaban yang kumau, tapi kemudian hadir pertanyaan baru. Sial, aku sudah tahu akan begini, itu sebabnya aku tak mau bertanya. Karena pasti ada rentetan sesudahnya, seperti lingkar yang tak pernah berhenti di satu sudut, terus menyambungkan garis berputar tanpa habis. Kurasa itu sebuah sifat mendasar manusia, untuk menginginkan lebih dari yang seharusnya ia dapatkan. Aku menggigit lidahku, membiarkan ia menjadi mati rasa di dalam bibir yang sengaja kututup rapat-rapat.
Kemudian ia melanjutkan, “Pada butir-butir sinar yang berpendar menyapu malam menuju hari baru, ia selalu hadir di depan mataku. Tapi aku tak pernah menangkapnya dengan sempurna. Bayang-bayang masa lalu itu. Sungguh, aku tak ingin merubahnya. Aku hanya ingin mengenangnya dengan utuh. Tapi bertahun-tahun aku mencoba pun, aku tak pernah mampu.”
Tetes air dari sudut matanya semakin cepat turun mengikuti tekanan gravitasi. Seolah tetes-tetes itu adalah tsunami besar, mereka menyapu pertanyaan-pertanyaan dalam kepalaku.
“Aku tidak pernah mampu,” ulangnya sembari menundukkan wajah melihat lututnya yang diposisikan rapi berdampingan. Aku melihat cahaya matahari menyapu rambut hitam ikalnya yang berantakan, sisa-sisa kekusutan tadi malam. Aku masih tidak mengerti, mungkin tidak akan pernah mengerti, namun aku putuskan untuk merasa puas dengan mengusap pelan punggungnya yang terlihat begitu kesepian.
Sudah lima tahun kami hidup bersama, menjadi teman berbagi rumah dan berbagi cerita. Aku sudah berhenti bertanya, dan entah sejak kapan menggantinya dengan kisah-kisah. Bukan karena ia telah berubah, bukan. Ia masih saja melakukan ritual itu. Duduk menatap tepian jendela, atau jalan yang mulai padat di bawah. Lalu menjelang fajar, matanya selalu berputar. Seperti mencari, mencari masa lalu, katanya. Entah masa lalu yang mana, aku sudah berhenti bertanya. Karena ternyata tanpa jawaban, aku bisa mengerti dengan lebih mudah.
[Jakarta, 21 Maret 2012]
Kamu pernah menemukan sebuah barang yang kamu pikir telah lama hilang, kemudian terasa seperti dilempar kembali ke masa lalu? Saya mengalaminya saat ini, ketika saya menemukan sebuah lagu tengah malam tadi.
Lagu ini dulu favorit saya saat masa-masa jahiliyah. Iya, masa saya masih abg yang sebenernya gak cute sama sekali. Sebetulnya saya sudah mendengar lagu ini dari SMP, namun saat menginjak bangku SMA, situasi saya lebih pas dengan liriknya. Ceritanya, ini adalah soundtrack sebuah bab di dalam hidup saya.
Bab itu saya namai pembelajaran pertama. Saat butir penghasil dopamine dikonsumsi sampai terasa kebas kepala saya, saat kemudian serbuk pemicu endorphin lebih terasa menyenangkan di otak remaja milik saya, saat zat kimia lain racikan manusia menemukan rumah baru mereka, tubuh saya. Lalu mereka bekerja sama semua di dalam sana, membawa saya lari dari ekspektasi-ekspektasi yang tidak terealisasi.
Bab itu bukan hanya berisi soal kenakalan remaja dengan obat-obatan biasa, adapula fase penemuan jati diri. SMA adalah masa saya meyakini dan belajar menerima diri saya apa adanya. SMA adalah masanya saya pertama kali menjadi egois, hingga keterusan sampai sekarang.
Bab itu diwarnai pula dengan drama-drama seputar kehilangan orang-orang tersayang, teman, sahabat, hingga mendapat musuh yang cukup banyak jumlahnya. Dimana saya mulai belajar siapa kawan dan siapa lawan.
Bab itu dipenuhi percobaan-percobaan memahami kinerja hati dan logika. Ketika self-control yang begitu sempurna sengaja dirusak hanya untuk merasakan akibatnya. Ketika berbaur dengan manusia lain saya lakukan karena sepertinya itu yang harus dilakukan. Ketika bersikap eksklusif harus dihentikan dan mengakui bahwa bertingkah anti-sosial hanya berarti membiarkan saya menjadi pengecut selamanya. Ketika perjalanan-perjalanan baru dimulai karena keberanian untuk mendobrak daerah nyaman.
Bab itu juga merangkum cerita tentang kebanggaan seorang remaja terhadap dirinya, hancurnya kebanggaan tersebut, kebangkitan kebanggaan tersebut menjadi kesombongan, runtuhnya kesombongan itu, hingga lahirnya seorang individu baru yang tetap bangga terhadap dirinya sendiri, namun memilih bersikap sombong sebatas dalam hati saja.
Bab itu membuat saya selalu tertawa ketika melihat anak SMA, sekarang, 5 tahun sesudahnya.
“Aku telah rasakan, dunia gelap dan terang, menawarkan semu. Menjauh ke angkasa, lalu dihempas badai. Tertatih aku berdiri.”
-Utopia, Feel
Sudah tercebur dan sudah menjejak kembali ke daratan. Sudah mencoba basah dan belajar sabar menunggu bekasnya mengering. Sudah memaki dan sudah pintar memohon maaf. Sudah pernah menghancurkan dan kemudian berusaha memperbaiki. Sudah meludahi dan syukurnya, tak pernah menjilat kembali. Saya sudah melewati semua dan bertransformasi menjadi apapun kecuali si munafik.
“Hitam menyelimuti saat semua jauh dariku. Tak akan aku mati biar semua tinggalkan aku.”
-Utopia, Feel
Saya sudah pernah mengira hidup akan berakhir ketika kehilangan banyak hal, dan sudah membuktikan bahwa saya masih tetap bernafas meskipun telah kehilangan segalanya yang pernah saya banggakan.
***
I guess I knew it all along,
“I was never good. I was great.”
[Stabat, 12 Maret 2012]
*Terimakasih, Lagu… Malam ini kamu lebih hebat dari Mario Teguh.
Saya pernah belajar sedikit-sedikit tentang cara penulisan skenario. Lebih lanjutnya, saya belajar setiap detail cara membuat film. Tapi yang akan saya bagi disini adalah mengenai penulisan skenario, yang cara dan tahapannya bisa pula diterapkan dalam membuat fiksi yang detail dan konsisten. Baik dalam hal deskripsi maupun narasi.
Begini, dalam membuat skenario untuk sebuah film, biasanya ada semacam pembedahan karakter. Itu yang saya pelajari. Kalau mau dikerjakan secara detail, sebenarnya tak cukup satu lembar HVS untuk mendeskripsikan biodata satu karakter. Biodata yang biasa kita isi sehari-hari mungkin hanya berkisar di nama, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, hal-hal yang disukai, dan sebagainya. Tapi dalam membuat sebuah detail karakter, haruslah lebih lengkap. Zodiak, golongan darah, karakter, kebiasaan, suku (yang nantinya menentukan logat berbicara), kemudian latar belakang pendidikan, dan data pelengkap lainnya.
Biodata ini nantinya akan memandu kita menentukan segala dialog dan pengadeganan untuk si karakter. Agar konsisten dan tidak menyimpang dari ide semula. Introvert-kah, atau extrovert-kah si karakter tadi? Orang yang berzodiak Leo tentu berbeda dengan orang yang lahir dibawah naungan Cancer. Orang yang besar di Jawa tentu berbeda perilaku dengan mereka yang hidup di Sumatera. Termasuk gaya berbicara. Hal-hal ini yang akan memperkuat karakter dalam penokohan.
Mengenai konflik, ada panduan tersendiri yang saya terapkan. Hal ini berkaitan erat dengan penokohan tadi. Begini, setelah memahami dan menentukan karakter secara mendetail, akan lebih mudah untuk kita menerka, masalah apa yang biasa timbul di sekitarnya. Misal, orang bertemperamen tinggi, tentu mempunyai kecenderungan lebih besar terlibat konflik yang mengarah ke kontak fisik. Lalu orang yang introvert, akan mempunyai kecenderungan menghadapi konflik di dalam dirinya sendiri. Dari sinilah kita bisa mulai menggambar, seperti apa konflik yang mungkin tercipta dari perilaku si tokoh tadi.
Dalam menulis skenario, kita diharuskan menggunakan bahasa adegan. Contoh :
“Dia menunggu pacarnya datang dengan gelisah.”
Maka kalimat yang benar untuk bahasa pengadeganannya adalah,
“Dia melihat jam di tangan kirinya 2 kali, lalu mengangkat kepala dan menoleh ke arah jalan. Sebentar-sebentar dia duduk, lalu berdiri lagi. Kakinya bergerak-gerak secara konstan. Keningnya berkerut, berkeringat.”
Begitu juga dengan setting. Si penulis skenario sudah harus bisa menggambarkan di dalam kepalanya, seperti apa dan bagaimana kondisi tempat yang menjadi lokasi. Karena si pembuat skenario adalah mata kamera. Sebagai contoh :
“Dia masuk dan menemukan rumah dalam keadaan berantakan.”
Seharusnya dijabarkan menjadi,
“Dia masuk melalui pintu depan dan tersandung TV yang telah jatuh di lantai. Menemukan sofa di ruang tamu dalam keadaan terbalik, meja di ruang tengah sudah pecah. Di lantai keramik terdapat guci yang hancur berkeping.”
Segala detail yang dijabarkan akan membantu kita untuk merasa bahwa cerita tersebut hidup dan nyata. Bila digarisi batas dan dilakukan sesuai dengan anjuran, tak akan terjadi seperti di sinetron-sinteron Indonesia yang kebanyakan tokohnya berekspresi dengan cara berlebih. Seperti marah yang selalu identik dengan melotot dan bibir bergerak-gerak setengah terbuka. Tangan mengepal dan kening berkerut. Tak selalu seperti itu. Sekali lagi, kembali kepada karakter si tokoh.
Bila setting telah ditetapkan sejak semula, tidak akan ada adegan aneh seperti pada salah satu film yang pernah saya tonton. Bagaimana bisa di dalam kamar mandi sang tokoh menemukan pisau dapur dan akhirnya menusuk si lawan main disana.
***
Hal ini sebenarnya bisa pula diterapkan dalam menulis fiksi. Hanya dalam cara yang jauh lebih sederhana. Saya sendiri, sebelum menulis, biasa meluangkan waktu 10-15 menit untuk mengira-ngira. Misal, saat tiba-tiba muncul ide untuk menulis tentang pembunuhan. Pertama saya akan menentukan jenis kelamin tokoh utama. Dan akan memposisikan si tokoh untuk berpikir selayaknya manusia nyata. Maksud saya, tentu ada perbedaan yang cukup jelas antara lelaki dan perempuan dalam menyikapi permasalahan.
Kemudian saya akan mencoba mencari nama tokoh yang tepat. Saya rasa akan terdengar cukup aneh ketika menulis fiksi noir menggunakan nama tokoh roman. Lalu dilanjutkan dengan memikirkan latar belakang si tokoh. Karakternya secara singkat. Seperti yang saya lakukan pada salah satu fiksi pendek saya Muntah Manusia, saya terlebih dulu merangkumnya di dalam kepala. Begini kira-kira :
“Namanya Agung. Laki-laki. Usia 20-25 tahun. Introvert. Memiliki penyakit muak pada manusia. Pelaku pembunuhan terhadap keluarganya sendiri dan beberapa tetangga.”
Maka akan sangat gampang untuk saya menentukan dialog yang keluar dari mulut Agung. Sebagai seorang yang introvert, tentu dia tak akan banyak berbicara. Dan karena dia memiliki kecenderungan muak pada manusia, dia akan sangat sulit bersikap ramah. Usia menentukan perilaku dan kecerdasan emosionalnya. Pada tahap usia 20-25, lelaki tak lagi meledak-ledak. Akan lebih bisa mengontrol emosi, dan bila tak nyaman, akan memilih diam atau menunjukkan rasa tak suka melalui tatapan mata. Panduan inilah yang nantinya disinkronisasi dengan konflik yang dia hadapi.
Tak perlu ditulis, cukup disimpan dalam kepala. Sebuah ancang-ancang singkat. Kemudian setelah sesuai dengan karakter utama, masukkan pola yang sama kepada karakter tambahan. Seperlunya saja. Setelah itu selesai, barulah saya bermain dengan setting. Setting memiliki posisi yang sangat penting karena dari hal inilah anda bisa mengajak pembaca masuk ke dalam cerita yang sebenarnya. Seperti pada salah satu cerpen roman saya yang berjudul Une Nuit D’amour: Precedent.
Saya benar-benar berusaha keras untuk memaparkan detail setting dan latar. Tujuannya tentu untuk membuat para pembaca ikut masuk ke dalam cerita. Di sana saya membuat si tokoh utama, Rafael, bermain-main dengan ingatan masa kecilnya ketika berkunjung ke rumah tua sang Ayah yang telah lama ditinggal tak berpenghuni. Ingatan Rafael yang bekerja otomatis membawanya ke masa lalu bereaksi setiap kali dia masuk ke dalam ruang-ruang tertentu di dalam rumah itu.
Untuk bisa membuat si pembaca ikut menerka dan merasakan kenangan tersebut, tentu saya harus berusaha keras menjelaskan situasi ruangan yang terlihat di matanya. Menjabarkan secara jelas apa yang terjadi disana bertahun-tahun yang lalu, dan bagaimana keadaannya sekarang. Hal ini untuk membuat rasa perjalanan waktu di dalam kepala si tokoh sampai kepada pembaca.
Untuk melakukannya, memang dibutuhkan kecermatan dalam bernarasi. Pengolahan kata agar cerita tak terasa membosankan. Jangan sampai detail yang disampaikan menjadi terlalu panjang sehingga mengalihkan fokus pembaca dari cerita semula. Sebisa mungkin hindari pengulangan kata atau imbuhan secara berlebih.
“Andre menyapanya melalui mata, diambilnya segelas air untuk diserahkan pada kawannya itu.”
Membaca kalimat seperti ini, tentu akan terasa agak ganjil bukan? Pembaca bisa saja mengalami kebingungan. Imbuhan -nya yang digunakan akan menjadi tebak-tebakan, sebagai pengganti karakter yang manakah -nya barusan? Karakter utamakah, atau si lawan bicara?
Setelah belajar menempatkan imbuhan pada posisi yang tepat, jangan lupa untuk mengurangi kata dan kalimat yang tidak terlalu penting. Usahakan juga agar tidak mendeskripsikan sesuatu secara berlebih. Hal tersebut akan membuat pembaca tidak mempunyai ruang untuk berimajinasi, untuk mem-film-kan fiksi kita di dalam kepalanya. Serta satu hal yang terpenting, perlakukan pembaca secara pintar. Jangan menyampahi pembaca dengan penjelasan-penjelasan selayaknya bercerita kepada bocah.
***
[Stabat, 11 Agustus 2010]
Iqra – Banyak orang yang salah menafsirkan ayat pertama dalam Al-Quran ini. Saya tahu, kalimat pertama tadi mungkin baru saja membuat anda mengernyitkan kening. Ini bukan tentang saya yang tiba-tiba mendapat hidayah dan menulis sesuatu yang religius. Postingan ini juga bukan sesuatu yang menginspirasi seperti kalimat-kalimat basi Mario Teguh, saya tidak se-super dia, tentunya. Tulisan ini akan menjadi sebuah tulisan biasa tentang sebuah opini yang sederhana. Tulisan ini masih akan seperti tulisan-tulisan lain yang pernah saya ciptakan, begitu subyektif, dan penuh ke-aku-an.
Kembali pada permasalah Iqra, saya yakin hampir seluruh manusia, terutama yang beragama Islam, mengetahui arti kata Iqra itu sendiri. Bacalah, begitu pengertiannya. Tahu, tapi apakah kita benar-benar mengerti, paham terhadap makna di balik kata “bacalah” itu sendiri?
Perintah itu bukan semata tentang perintah untuk membaca Al-Quran atau kitab-kitab pemandu umat lainnya. Bukan semata-mata tentang tulisan yang dibaca dengan mata, dan dicerna dengan logika. Saya yakin, kata perintah tersebut menyimpan lebih banyak makna.
Saya membaca, tidak hanya apa yang tertulis dalam aksara. Saya membaca pertanda, saya membaca isyarat, saya membaca petunjuk yang disajikan melalui mata. Saya membaca dengan kepala, apa yang didengarkan oleh telinga. Saya membaca, apa arti dari setiap sentuhan yang disalurkan melalui organ perasa seperti kulit dan lidah. Saya membaca aroma-aroma yang disampaikan oleh hidung kepada akal. Saya membaca setiap kesalahan yang kemudian menjadi pembelajaran. Saya membaca pilihan-pilihan yang disajikan. Saya membaca setiap pertanyaan, untuk kemudian saya simpan, hingga saya temukan jawaban di tempat lain. Saya membaca semua yang disajikan semesta.
Saya yakin, saya tidak sendiri. Ada milyaran manusia lainnya yang juga turut membaca. Meski apa yang disajikan semesta dan isinya tidak akan pernah sama dari sudut pandang tiap pasang mata di dunia. Itu sebabnya, pengalaman yang sama akan menghasilkan pembelajaran yang berbeda bagi setiap individu. Karena kita membaca hal yang berbeda.
Saya bisa saja membaca tentang keegoisan seorang manusia dari sikapnya menolong orang lain yang membutuhkan. Saya membaca sebuah tindakan yang dia lakukan untuk menghindarkan dirinya dari perasaan bersalah, karena kemanusiaan menuntutnya untuk menolong. Sementara orang lain mungkin dengan mudah dapat membaca dari sudut yang lebih positif, seseorang yang menolong orang lain, melakukannya karena itulah tindakan yang paling tepat dilakukan bagi yang membutuhkan.
Saya bisa saja membaca bahwa kesalahan yang terjadi di masa lalu adalah batang-batang emas yang sangat berharga, dan dapat berguna sewaktu-waktu. Sementara di mata orang lain, kesalahan tersebut bisa saja hanya sebuah kebodohan yang patut dilupakan.
Saya bisa saja membaca bahwa urutan A akan dilanjutkan dengan kejadian B, yang kemudian diteruskan oleh C, D dan E. Namun dalam sudut pandang mata manusia lainnya, peristiwa linier bisa saja terlihat begitu klise dan memperkirakan bahwa setelah A, tak menutup kemungkinan akan diteruskan oleh C.
Ah, bicara apa saya ini?
Padahal saya hanya ingin bercerita mengenai sebuah pepatah entah dari mana yang samar-samar saya ingat berkata,
“Don’t read the lines, but read what’s between the lines.”
Saya tak percaya apa yang saya lihat dalam sekali sapu pandang saja. Saya terbiasa dengan didikan untuk membaca apa yang tersembunyi. Dalam perumpamaan kasar, saya lebih senang membaca kekurangan dan keburukan saja, karena kebaikan-kebaikan hanya untuk menghibur-hibur diri dengan penampakan yang indah.
Maka jika seseorang menjadi terlalu baik, saya cenderung merasa curiga. Pernah seorang berkata, bila begitu, sulit bagi saya untuk bahagia. Saya rasa dia salah. Karena nyatanya, mereka yang lebih gemar memandang keindahan akan lebih kecewa saat melihat keburukan-keburukan di baliknya. Berbeda dengan saya yang lebih senang melihat kekurangan, saya sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan-kemungkinan terburuk. Sementara yang baik tersebut, saya anggap sebuah bonus yang bila tiba akan membuat gembira, namun jika tak ada, tak saya harapkan juga.
Saya sudah melakukan itu sejak tahunan yang lalu. Namun saya sempat lupa, bahwa selain membaca, kita pun turut menulis cerita. Apa yang kita tulis, tentunya akan mempengaruhi kisah yang disajikan semesta. Saya menyadari itu beberapa tahun belakangan. Membaca ternyata tak cukup, jika tak disertai dengan tindakan, untuk mendukung kita sampai pada sebuah kesimpulan yang diinginkan. Jadi, bacalah, karena itulah bahan pertimbangan saat menulis nanti.
Oke. Sebelum semakin meracau, saya akan berhenti di sini.
[Jakarta, 11 February 2012.]
***
MORO. A guy with multiple personalities disorder. When things got worse, he thought he should get rid of the other personalities and learn how to be a human. Just when he feels, meeting someone who can see who you really are, is a gift. He doesn’t realize he suffers more than one common disorder. None, is real, but the imagination in his head.
***
***
An official video clip of Jakarta indie band’s song. Something El – Adakah yang Salah. The video is pretty much story-telling meaning of this song.
So if you’re a homosexual, having a relationship with someone who’s much older/younger, or in love with someone who has a different faith/religion with you, THIS IS YOUR SONG!
Check out @somethingel channel for more.
Director : Dee Dee Sabrina
Editor : Dedy Lekatompessy
Production : Disconnect Film
***
There, quietly implore, my songs
Through the night to you
Down in the silent grove
Sweetheart, come to me!
Whispers rustling treetops lean
In the moonlight
The hostile traitor, listen!
Fear, lovely, don’t
Hear the nightingales?
Oh! they beseech thee
With the sweet sounds complaints
Beseech them for me
They understand the bosom tendons
Know you love pain
Stirring with silver tones
Each tender heart
Also liberate your chest
Darling, hear me!
Trembling, I’m waiting to meet you
Come, and make me glad
Aku ingin berbaring sekali lagi, di sampingmu, tanpa air mata.
Bahkan ketika mati datang dan membawa hidup yang seolah tak akan selesai,
aku ingin sekali lagi mengenangmu dalam senyum yang lebar, tanpa air mata.
Pada suatu ketika kita akan lelah, bertanya-tanya.
Mencari apa yang manusia tidak akan pernah temui.
Semua hal telah dipecahkan, kecuali cara menjadi manusia.
Bila saat itu datang suatu ketika nanti,
aku ingin berbaring memelukmu sekali lagi.
Tanpa air mata.
Di tinggi malam kita sering bercerita,
tentang masa lalu yang dibawa pergi,
tentang masa depan yang tak siapa pun tahu pasti.
Lihat, bayi bayi baru saja dilahirkan untuk kemudian mencari jati diri.
Mereka akan terburu sepi sebelum menemukan tujuan tertinggi,
puncak evolusi manusia yang diakhiri dengan mati.
Pada waktunya nanti kita akan letih mencari.
Bertanya-tanya pada pagi, senja dan malam yang setia menjawab dalam diam.
Semua teori telah diciptakan, kecuali tentang awal penciptaan.
Bila hari terakhir datang menyerahkan diri,
aku ingin tertidur di sampingmu sekali lagi.
Tanpa air mata tentang duka duka tak terkisah, tanpa air mata tentang kisah gembira yang gagal tercipta.
Maka matilah kita, tanpa kekhawatiran akan hidup.
Karena keindahan sejati adalah kehidupan itu sendiri.
Maka matilah kita dalam kebanggaan tertinggi.
Karena hanya yang telah memulainya, yang bisa menemukan akhir dari semua.
***
Jakarta, 19 Desember 2011
I’ve been wanting to hide
Inside the surface of the sea
Where sun sets in no time
And wash away every hurt
I’ve been wanting to run
Through the line of their shadows
Not under the light beneath the sky
With my arms wide open and thoughts of I can fly
I’ve been wanting to break free
From the barriers people made
Or the ties world create
In the sense of freedom I’ll get laid
I’ve been wanting all of those for so long
But to let go is another thing
I wrote goodbye in a song
For now you go within one blink
Then I start to sing
Somehow, that isn’t really a new thing
———-
Jakarta, November 16, 2011