Bunga Manggiasih // Pemain, pemimpi, penonton, pembaca komik, perangkai kata, pembuntut orang-orang yang katanya penting. // Player, dreamer, spectator, comics reader, words compiler, stalker of so-called important persons. // old blogs are here and there.
Snow-drenched St Iztvan Basilica and gloomy sky looming above. Beautiful as always, but somehow it evoked sad sentiments when I passed by. Well perhaps I'm just in a mellow mood.
Pemerintah bisa aja mau berkelit dari putusan MK. Dari RSBI ke SKM --
nggak kapok digugat kayaknya..
This is just too sweet to be true. Wanna scream AWWWWWW when I first
saw it. Thanks to Ara for pointing out this wonderful videoclip in her
blog!
Holidays mean.... extreme laziness. Oh life, why can't it be a
perpetual holiday season?
Berhubung sudah absen ngeblog lumayan lama, mumpung ada waktu liburan
dua minggu, saya bakal bayar utang! Masih ada setumpuk cerita dari
Alhambra dan Cordoba (ya ampun itu udah lewat nyaris setahun lalu!),
Sao Paulo, GYAC + IACC, Brasilia, dan tentunya dari Budapest... Jadi,
tunggu tanggal mainnya ya. Besok :)
Musik keren dan kampanye antikorupsi kayaknya makin mendarah daging buat kawan-kawan SIMPONI. Komunitas musik yang baru saja ketambahan satu groupie (iya, saya, siapa lagi?) setelah penampilan mereka di Brasil itu bakal keliling beberapa kota bareng KPK, TII, clubSPEAK, dan ICW mulai hari ini sampai tanggal 19 Desember mendatang.
Kesimpulan: sinetron Indonesia makin mempertebal irasionalitas bangsa? :)
[Siaran Pers] Penggambaran Pekerjaan dan Profesi dalam Sinetron
Publikasi Penelitian Remotivi Tentang Empat Sinetron Indonesia
Currently I'm blessed with one homework, two presentations, two exams, five term papers... and I feel a little bit guilty because I haven't written the tons of ideas from GYAC & IACC in Brasilia.
When I went to Sao Paulo, I saw so many phonebooths with interesting designs. Made me wanna say, "Hello, Sao Paulo!"
Hoping my brain will be more active -- a midterm exam is coming tomorrow but I'm not in the mood for studying...
(image is from http://allmannersofbecoming.blogspot.hu/2008_02_01_archive.html)Today I tried the gyors bufe (food canteen) near campus. Old communist/socialist vibe with mediocre but filling food. Set menu of turkey+vegetable soup and pasta with chicken & cream cost me 950 forint. Perhaps I'll try other dishes next time.
The wok bar has a similar concept with Wok to Walk, my favourite fast food in Amsterdam. Choose the base ingredient (rice noodle/egg noodle/vermicelli/whole grain noodle/white rice/brown rice), the topping (beef/pork/chicken/duck/prawn/bamboo shoots/mushroom/pineapple/peppers/cashew nut/bok choi), and sauce (pad thai/sweet & sour/sate/green curry/red curry/teriyaki). For my first time, I tried brown rice with duck and red curry sauce. Yummy, just a tad bit of too much onion. The place is also really nice and comfortable. Will come back for sure.
From the vending machine in CEU campus. The cherry flavour is barely there, just like the lemon in Pepsi Lemon (does it still exist?).
Kemarin nemu Indomie di pasar swalayan "Match" di Budapest. Harganya 659 forint atau sekitar Rp 30 ribu untuk lima bungkus. Saya nggak beli, masih ada stok Mi Sedap dari Den Haag :)
A very nice museum on communication. Phones and telegrams are functional and fun! There's also an important exhibition on privacy in the internet. Upstairs are exhibition about phones in movies and a whimsical exhibition for children. Too much photo opportunities. One downside is that everything is in Dutch.
Ada restoran Indonesia dekat kampus saya di CEU, Budapest, Hungaria. Kapan-kapan coba, ah. Pengen tahu yang punyanya siapa dan apa ceritanya...
oh, US Americans and geography…
Two brothers from Chechnya. That was the official word early morning on Friday April 19th, 2013 as to who were behind the Boston marathon bombings. “Chechens.”
So, naturally, who do some brilliant citizens of the United States of America blame? The CZECH REPUBLIC, of course!
Here are those…
TempoInteraktif bisa juga jadi sumber berita buat media lain :D
Sejak Februari lalu, saya ketiban giliran jadi ban serep di pos Istana Wakil Presiden. Artinya, jika si empunya pos sejati sedang libur atau bergeser ke Istana Presiden. Maka bertambahlah kawan saya. Sebagian sudah saya kenal saat liputan di desk ekonomi dulu. Sebagian lain baru saya temui di Istana Wakil Presiden. Sebagian ternyata juga punya etalase di dunia maya. Isinya beragam, seleranya bermacam-macam. Ini saya bagi tautannya, lumayan daripada ngeliatin video Reong Kacun yang nggak lucu itu hahaha.
Kageri
Blog milik Irwan Nugroho, wartawan Detik. Pria yang rajin mentranskrip wawancara ini baru saya kenal di Istana Wakil Presiden. Blog berjudul Kageri buatannya berisi banyak hal dan dibagi dalam beberapa kategori, yaitu Film & Buku, Hukum, Merdeka Selatan, Pedestrian, Politik, Saya, SideStory, dan Traffic. Semuanya dirumahkan di blog milik Detik pula, http://blogdetik.com (ah, setia sekali sama perusahaannya).
Di Thailand, kartu kuning dan merah tak cuma muncul di lapangan sepak bola. Kedua kartu itu digunakan Komisi Pemilihan Umumnya untuk menangani pelanggaran dalam pemilihan umum.
“Seperti wasit dalam permainan sepak bola, Komisi Pemilihan Umum (kami) menggunakan dua ukuran efektif dalam menangani kecurangan pemilihan umum,” ujar Hakim Mahkamah Konstitusi Kerajaan Thailand, Chalermpon Ake-uru, dalam Konferensi Ke-7 Hakim Mahkamah Konstitusi se-Asia, di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Selasa (13/7). Diskusi hari ini membahas perbandingan sistem pemilihan umum di negara-negara peserta Konferensi. Menurut Chalermpon, KPU Thailand bakal melansir kartu kuning jika seseorang terbukti melakukan pelanggaran untuk memenangkan calon legislatif atau eksekutif tertentu. Pemilihan harus diulang, namun kandidat yang terkena kartu kuning itu masih bisa turut serta. Kalau si kandidat itu sendiri atau keluarganya yang melanggar peraturan pemilihan umum, maka ia akan mendapat kartu merah. “Hak memilihnya bakal dicabut selama satu tahun, dan dia tidak bisa mencalonkan diri selama periode itu,” ucapnya. Ia menuturkan, KPU negara Siam itu memiliki kewenangan lebih besar ketimbang negara lain, seperti Indonesia. Di sana, KPU langsung menangani dan memutuskan sengketa pemilihan umum, tak seperti negara lain di mana kewenangan itu ada di tangan lembaga peradilan. Dulu, peradilan lah yang berhak memutus perselisihan hasil pemilihan umum. “Tapi prosesnya biasanya memakan waktu terlalu lama, sehingga tak bisa mengatasi situasi pelanggaran yang makin buruk,” tuturnya. KPU negeri Gajah Putih ini pun bisa menginvestigasi dan meminta keterangan semua pihak terkait laporan pelanggaran pemilihan serta keberatan terhadap pemilihan yang dianggap tak adil. Jika KPU Thailand memutuskan mengadakan pemilihan ulang atau mencabut hak pilih sebelum hasil pemilihan keluar, maka keputusan tersebut bersifat final. Tetapi jika keputusan itu muncul setelah hasil akhir pemilihan diumumkan, maka keberatan akan diproses ke Mahkamah Agung. Meski berwenang jadi wasit dan menangani kasus pelanggaran, KPU Thailand tak berhak menangani kasus kriminal dalam pemilihan. Kasus kriminal tetap diserahkan pada pengadilan.——————————gambar disalin dari:Komisi Yudisial menepati janjinya mengorek informasi harta berlebih para calon hakim agung.
Seusai tahap investigasi, Komisi memang sempat menyatakan menemukan beberapa calon yang memiliki kekayaan di luar batas kewajaran, namun ogah membeberkan siapa saja calon-calon itu. Mereka meminta masyarakat menyaksikan saja tahap wawancara pada 13-15 Juli, saat Komisi bakal menanyakan tentang harta ekstra itu.Dalam tahap wawancara yang dimulai hari ini, peserta seleksi dicecar beragam pertanyaan yang berhubungan harta bendanya. Enam anggota Komisi menguji para calon hakim agung satu per satu. Suasananya mirip dengan sidang skripsi, tesis, atau disertasi: tegang, dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang kadang tak terduga, baik mengenai teori hukum maupun harta sang calon.Seluruh proses wawancara tersebut terbuka untuk umum. Dari sekitar 60 kursi yang tersedia di samping kanan dan kiri calon hakim agung, tak sampai separuhnya terisi. Mayoritas hadirin adalah pegawai Komisi Yudisial dan sebagian lagi tak lain adalah pers. Agaknya, tak banyak masyarakat yang tertarik memantau proses wawancara itu.“Tahun berapa Ibu mantu (menikahkan anak)?” tanya anggota Komisi Yudisial Soekotjo Soeparto saat mewawancarai salah seorang kandidat di Gedung Komisi Yudisial, Selasa (13/7).”2004 dan 2006,” jawab Marni Emmy Mustafa sambil tersenyum. Ia adalah calon hakim agung yang kini menjabat sebagai Kepala Pengadilan Tinggi Kalimantan Selatan, seorang ibu beranak dua.“Di mana?”Berkunjung ke Jakarta Book Fair tadi sore. Langkah yang sangat tepat untuk jurnalis kere seperti saya! Yang bakal dipotong pula gajinya untuk empat bulan mendatang! Fantastik! *sarkastis lho ya ini*
Dan hasilnya, saya betul-betul berburu diburu buku. 16 buku senilai Rp 315.800 “saja”. *bangkruuuuuuuuuuuuuuuuuuut
Di stand KPG, saya membeli tiga buku.
Pertama, Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru. Ini kumpulan tulisan dari beragam orang tentang dosen hebat yang pernah saya temui di Komunikasi UGM: Bang Hadi. Pria dengan cara berpikir yang luar biasa logis dan runtut serta selera humor yang nggak lazim (di tengah kuliah dia pernah tiba-tiba tertawa sendiri — rupanya tanpa saya sadari dia baru saja menceritakan sebuah gurauan).
Kedua, Jurnalisme Bencana - Bencana Jurnalisme karya Ahmad Arif alias Mas Ayik, jurnalis hebat yang saya kenal saat liputan di Komisi Pemberantasan Korupsi. Mbak Ana, seorang jurnalis Kompas lainnya, sudah berkali-kali bilang buku Mas Ayik ini bagus banget, jadi, tentu saya harus membelinya.
Yang ketiga, 9 Dari Nadira, kumpulan cerita pendek karangan Leila S. Chudori. Dua cerita dalam novel ini sudah sempat saya baca di notes FaceBook-nya Mbak Leila, dan sukses membetot perhatian saya, sampai saya baca berulang-ulang hahaha. Saatnya membaca kisah lain dari Nadira :)
Lalu di gerai Elex Media Komputindo, saya merogoh kocek lebih dalam untuk membeli 9 komik hahaha… Maklum sudah lama hasrat baca komik tak tersalur.
Harga semua buku di gerai Kelompok Kompas Gramedia (termasuk dua stand yang saya sebutkan tadi) didiskon 20 persen. Kalau mengisi kuesioner, harga yang sudah dirabat itu bisa dapat tambahan diskon 10 persen. Jadi total diskon 28 persen, lebih murah dibanding beli di Toga Mas Yogyakarta, makanya saya kalap. *alesyaaaaang!
Berikutnya, di gerai Gagas Media, saya membeli tiga komik: Kumpulan Komik Koel (Kurnia Harta Winata), juga Anak Kos Dodol Dikomikin dan Anak Kos Dodol Dikomikin vol. 2 (keduanya garapan Dewi Rieka dan K. Jati). Dua judul yang saya sebut belakangan ini GILA-GILAAN lucunya! Parah abiiiiis, cocok buat pas lagi sedih biar langsung ceria lagi hahaha… Yang Koel sih belum sempat dibaca.
Menjelang pulang, mampir ke stand Komunitas Bambu. Hyaaaah satu godaan tak bisa ditolak, beli lagi deh Cerita dari Gedung Arca karya Wahyono Martowikrido. Habisnya menarik sih, buku kecil ini bercerita tentang serba-serbi Museum Nasional Jakarta.
Jadi, saya bangkrut.
Besok traktir saya ya?
*pasang tampang melas a la Puss in Boots di film Shrek
Malam Minggu yang menyebalkan: mau ke Citos makan waktu 3 jam! Gara-gara ada Reyes dan nonton bareng Piala Dunia, katanya. Untung yang nyetir bukan saya, tapi Yoga :)
Sampai di depan Citos, ternyata parkirnya sudah ludes, hoho, itu pula yang bikin kemacetan makin parah rupanya. Untuk mengobati luka hati *hedeeeeeh* kami memutuskan mencari makan saja… Mau belok ke Kemang, macetnya na’udzubillah… Yo Oloh ini orang Jakarta mbok ya malam Mingguan ke tempat laiiiin!
Yah akhirnya kami mengarahkan tunggangan (kuda?) ke arah Panglima Polim, menuju Lokananta. Jam tangan saya menunjukkan waktu pukul 10 malam lebih, tapi Lokananta ramai, ruangan yang dilengkapi televisi penuh oleh pengunjung yang nonton Piala Dunia. Jadi kami harus duduk di teras…
Kami langsung memesan Triple Sausage with Lemon Garlic Butter Sauce (Rp 45 ribu), Sirloin Fried Rice (Rp 32 ribu), Hot Chocolate (Rp 18 ribu) dan saya seperti biasa minta, eh, beli, teh panas (Rp 9 ribu) saja.
Pesanan datang agak lama, lebih dari 15 menit. Hidangan sosis ternyata datang beserta pasta, yang di luar dugaan saya, enak! Pastanya ditumis dengan rempah (mungkin basil atau oregano, saya tak tahu pasti), porsinya pas untuk menemani trio sosis sapi nan gigantik.
Nasi goreng sirloin pesanan Yoga tampak seperti nasi goreng biasa dengan telur ceplok di atasnya :D sirloinnya oke, tapi porsinya sedikit, nggak imbang dengan nasinya yang melimpah. Nah, nasinya pedas, kebanyakan saus sambal sepertinya. Yoga langsung garuk-garuk kepala (katanya kalau dia kepedasan, kepalanya gatal. er… anehhhhh)
Makanya minum yang dia pesan langsung habis… Dan dia pun memesan Green Barrets (Rp 18 ribu) sebagai penggantinya. Ini campuran minuman dengan komposisi yang agak aneh: sayur hijau (saya lupa kailan/bok choy/brokoli), nanas, dan sirup. Rasanya… rada ajaib sih ehehe :D
Terakhir, tentuuuu saya harus memesan Chocolate Melt (Rp 25 ribu)yang legendaris ituuuuu… eeeenak banget, seperti biasa, meski memakan waktu lebih lama lagi untuk menunggunya — hampir 30 menit, kayaknya.
Sedikit catatan soal pelayanan: susah banget manggil pelayannya. Mungkin karena lagi ramai…
Hari pertama di bulan Juli, menyantap makanan sampah (tapi selalu enak) berjudul Burger King bersama Yoga. Masih aja pengen es krim :D
Nyobain Hershey’s Sundae Pie (Rp 20 ribu). Pai dengan es krim cokelat dan vanilla. Rasanya terlalu manissss (mungkin karena saya yang dasarnya sudah manis ini yang makan… wahahahaaa )
Dan ternyata oh ternyata es krimnya impor dari Miami, Amerika Serikat. Hoho. Terlalu banyak jejak karbon, dan saya sedang berusaha mengkonsumsi barang dalam negeri. Cukup sekali saja, deh…
Pulang kerja, badan lagi panas-dingin, pengen yang hangat-hangat… Sekalian menghindar dari macetnya Thamrin selepas 3-in-1, jadilah saya berbelok menuju Hong Kong Cafe.
Saya sudah beberapa kali ke sana, suka banget sama desain interiornya, makanan-minumannya juga enak-enak. Harganya terjangkau… meski cuma untuk di awal bulan kalau buat saya sih hehehe.
Malam itu saya memutuskan memesan Fish Maw & Crab Soup (Rp 20 ribu), Char Siew Pao (Rp 14,5 ribu), dan teh panas (Rp 9 ribu).
Supnya hangat, enak di badan, tapi agak terlalu asin. Char Siew Pao alias bakpao berisi ayam bumbu char siew-nya lumayan oke. Tehnya… semacam Sariwangi lah hehehe.
Nah di HKC ini yang bahaya adalah keberadaan Delika, yang menyediakan macam-macam hidangan penutup mulut nan menggoda. Sayangnya pas pesan crepes (Rp 24-26 ribu), katanya habis. Wafelnya (Rp 26 ribu) pun habis. Hm, habis apa memang nggak sedia, ya? *curiga
Ya sudah gara-gara pengen banget nyuci mulut (pake sabun aja kali ya hehehe :D) saya pesan Ice Cream Coupe, pilihannya banyak dan sangaaat menggoda… tapi Havana Coupe (Rp 28 ribu) akhirnya jadi pilihan saya.
Pas si Havana Coupe datang, saya jadi ingat es krim lezat di Praline Creperie, Kemang. Ternyata saudara-saudariiiii rasanya nggak kalah! Dan harganya lebih murah! Sangat saya rekomendasikan… waspadalah pada lemak berlebihan akibat menyantap terlalu banyak hidangan surgawi ituuuu *lebay*
Hong Kong Cafe
Jl. Sunda No.5
Jakarta Pusat
telp: (021) 310-7868
Rp 90 ribu / orang
Reporting and writing news, gathering and analyzing supporting data.
• March - October 2008 in Tempo Weekly Magazine
• October 2008 - October 2009 in Tempo Daily Newspaper, economics desk
• October 2009 - present in Tempo Daily Newspaper, national desk
• Active in the planning and development of two radio talk shows
• Researching topics and informants’ background
• Evaluating episodes of the talk shows
• Planning news coverage and coordinating reporters
• Editing articles submitted by the reporters
• Evaluating reporters’ performance
• Reporting and writing news on campus issues
• Collecting and analyzing data related to the news
Reporting and writing news on youth culture